Masyarakat Batam membangun empat kelas di Ponpes Al-Aziziyah Lombok Barat

id Gempa Lombok ,Ponpes Al-Aziziyah,Lombok Barat ,MUI Batam

Masyarakat Batam membangun empat kelas di Ponpes Al-Aziziyah Lombok Barat

Pimpinan Pondok Pesantren Al Aziziyah TGH Fathul Azis (kedua kiri), memberikan informasi kepada Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari (kiri) didampingi Direktur Putu Rahwidhiyasa (kanan), tentang kondisi bangunan gedung pondok pesantren yang rusak berat akibat gempa bumi. (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/ama/18)

Kami mewakili pengurus dan santri Ponpes Al-Aziziyah mengucapkan ribuan terimakasih kepada masyarakat Batam
Lombok Barat (Antaranews NTB) - Masyarakat Kota Batam, Kepulauan Riau, membangun empat kelas untuk Pondok Pesantren Al-Aziziyah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, melalui dana kemanusiaan yang dikumpulkan bersama-sama pemerintah kota dan sejumlah organisasi masyarakat setempat.

         "Dari dana yang dikumpulkan kemarin, sebagian disalurkan untuk pembangunan empat lokal kelas di pesantren di Lombok Barat," kata Kepala Bagian Humas Pemkot Batam, Yudi Admaji di Batam, Kamis.

         Bantuan senilai Rp260 juta itu diserahkan langsung Ketua Majelis Ulama Indonesia Batam, Usman Ahmad, Ketua Lembaga Amil Zakat Batam Syariguddin bersama rombongan Pemkot Batam yang datang ke Lombok, NTB.

         Ketua LAZ Batam, Syarifuddin menjelaskan dana dikumpulkan dari dua kegiatan di Batam, yaitu saat saat tabligh akbar Ustad Abdul Somad dan Habib Syech Abdul Qodir Assegaf yang dihadiri ribuan masyarakat Batam serta sumbangan melalui masjid, yayasan dan sekolah.  
    "Dana terkumpul sebanyak Rp460 juta, Rp200 juta diserahkan melalui Pemkot Batam kepada Pemprov NTB.

         Sedangkan Rp260 juta kami wujudkan dalam bentuk bangunan yaitu empat lokal kelas di pondok pesantrean Al-Aziziyah, satu mushola, dan sepuluh hunian sementara di Lombok utara," kata Syarifuddin.

         Sebagian dana yang terkumpul sebelumnya, juga sudah disalurkan untuk membangun tenda darurat, dapur umum dan obat-obatan di Lombok Timur dan Lombok Utara.

         Ia mengatakan penentuan bantuan dalam bentuk bangunan ini berdasarkan survei tim. Menurut dia, kebutuhan korban gempa NTB  saat ini tidak berupa kebutuhan makanan tetapi rehabilitaai pascagempa untuk tempat tinggal dan belajar.

         "Insya Allah amanah dari masyarakat Batam sudah kita salurkan tepat sasaran," kata dia.

         Sementara itu, dalam siaran pers Pemkot Batam, Ketua MUI Batam, Usman Ahmad menyampaikan duka atas musibah gempa di Lombok.

         Dalam kunjungan di pesantren itu, ia mengatakan terharu melihat semangat santri yang istiqomah menjaga ayat-ayat Al-Quran di saat musibah datang.

         "Kami terharu melihat semangat anak-anak kita menghafal Al-Quran dengan situasi yang sulit," kata Usman.

         Ia berpesan agar seluruh santri tetap semangat dan bangkit karena masih ada saudara-saudara umat muslim yang akan membantu sehingga pulih kembali.

         Pengurus Pondok Pesantren Al Aziziyah, Ustad Fawaz menyambut baik bentuan yang diberikan masyarakat Batam.

         "Kami mewakili pengurus dan santri Ponpes Al-Aziziyah mengucapkan ribuan terimakasih kepada masyarakat Batam,  semoga ini menjadi amal jariah bagi masyarakat Batam yang sudah membantu," ucapnya.

         Pondok pesantren tahfiz Al-Aziziyah yang berdiri sejak puluhan tahun lalu itu memiliki 3.500 santri ikhwan dan akhwat. Mereka berasal dari Lombok dan luar daerah. Pondok pesantren ini merupakan salah satu pencetak hafiz dan hafizah di pulau seribu masjid.

         Akibat gempa, dinding bangunan pondok bercat hijau yang terdiri dari asrama dan kelas berlantai empat roboh. Dan kini para santri beraktifitas di tenda terpal di tengah lapangan.

         "Setelah kejadian gempa sebagian santri harus dipulangkan ke orang tua masing-masing dan pesimis untuk bisa bangkit.  Namun hikmah di balik bencana ternyata ditunjukan Allah kepada kami. Orang tua santri dan donatur dari luar daerah membantu kami untuk bangkit dan terus mencetak generasi penghafal Al Quran," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar