Surabaya (ANTARA) - Perupa Adi Gunawan mengatakan 20 karya perupa asal Yogyakarta bertema "Rai Gedheg" yang dipamerkan di Orasis Gallery Surabaya, mulai Kamis (20/8) hingga 30 Agustus mendatang, itu bermaksud menyindir kalangan politikus.
"Karya itu sengaja dibuat sebagai sindiran terhadap bentuk koalisi politik yang terjadi akhir-akhir ini," kata perupa karya "Koalisi" itu di Surabaya, Kamis.
Dalam pameran itu, karyanya berjudul "Koalisi" terlihat mendapat perhatian pengunjung. Karya seni instalasi ini berupa perpaduan kucing berkepala anjing (atau sebaliknya).
Pameran tersebut menampilkan sekitar 20 lukisan dan tiga karya instalasi. Mayoritas, perupa karya spektakular itu ingin mengungkap sikap para politikus yang dinilai tidak punya rasa malu. Ungkapan mereka itu bisa terbaca dari judul pameran yang bertajuk "Rai Gedheg".
"Saat ini, di sekitar kita banyak `Rai Gedheg` atau orang yang ingin mengejar gengsi semata dengan memilih jalur politik," kata Kurator "Rai Gedheg", Ong Hari Wahyu.
Ia menyatakan, dalam meraih gengsi tersebut, sebagian dari mereka ada yang melalui cara eksentrik, misalnya, saat mereka mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
"Tak jarang ada yang nekat maju meskipun tahu ia tidak terpilih. Akibatnya, mereka menjadi `kenthir` (gila)," katanya.
Lontaran kata-kata bahasa Jawa itu, kata dia, merupakan ungkapan untuk menunjukkan sikap tidak tahu malu (muka tembok) yang dipertontonkan para politikus.
"Sikap mereka tersebut mendapat protes oleh Nurkholis yang menampilkan dua orang mengenakan topeng berlapis-lapis. Karya ini digambarkan berwajah manusia dan binatang," katanya.
Ia menambahkan, hasil kreativitasnya itu melukiskan sikap munafik yang tergolong akut (versi perupa). Pihaknya menilai, sikap bersahaja para politikus yang ditampilkan selama ini masih menyembunyikan karakter lain.
"Bukan tidak mungkin, sikap asli mereka lebih menyeramkan dari yang dibayangkan," katanya.
Di sisi lain, dalam pameran itu tampak karya instalasi berupa patung aluminium babi berkaki manusia yang diposisikan tergeletak dan menggenggam sebuah botol minuman keras merek "Topi Miring".
Karya tersebut berjudul "Lelah", besutan Agapetus Kristiandana. Tujuan dihadirkannya karya itu, menyindir sikap para politikus yang seperti hilang ingatan karena gaya hidupnya yang suka mabuk-mabukan. Bahkan, terkadang sikap negatif itu dibumbui oleh korupsi.
Staf Orasis Gallery, Kika, mengatakan pameran ini merupakan salah satu sikap para seniman tersebut dalam melihat realitas politik terkini yang luput dari pandangan awam.
"Kepekaan mereka ini bisa dikatakan sebagai pernyataan protes dan sindiran. Kami menyayangkan, `roadshow` tersebut dilaksanakan sedikit tergesa-gesa sehingga tidak semua karya bisa ditampilkan," katanya.(*)