Jejak identitas di balik dinding museum

id Jejak identitas ,di balik dinding museum,museum NTB,ekonomi kreatif Oleh Abdul Hakim

Jejak identitas di balik dinding museum

Sejumlah koleksi Museum NTB terpajang dalam sebuah vitrin pameran internasional Islamic Art Biennale di Terminal Haji Barat Bandara Internasional King Abdulaziz, Jeddah, Arab Saudi. (ANTARA/HO-Museum NTB)

Mataram (ANTARA) - Di jantung Kota Mataram, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) berdiri teduh di antara derap modernisasi yang kian cepat.

Dari luar, ia mungkin tampak seperti bangunan biasa dengan dinding putih, pagar rendah, dan halaman yang luas, namun di dalamnya tersimpan denyut panjang sejarah dan kebudayaan yang membentuk wajah Lombok dan Sumbawa hari ini.

Setiap sudutnya seolah berbisik tentang masa lalu, mengisahkan kisah tentang tenun yang merekam ketekunan para perempuan, juga prasasti yang menandai kejayaan kerajaan-kerajaan kuno yang pernah hidup di tanah ini.

Museum bukan hanya tempat benda-benda tua bersemayam, tetapi juga ruang yang menjaga identitas bangsa agar tak larut oleh gelombang zaman.

Ironisnya, museum sering dipersepsikan hanya sebagai tempat kunjungan wajib siswa sekolah, atau lokasi acara seremonial tahunan. Padahal, di tengah derasnya arus digital, keberadaannya justru kian penting.

Museum adalah jangkar yang menahan kita agar tak hanyut oleh arus instan budaya global. Ia menjadi pengingat siapa kita, dari mana kita berasal, dan nilai apa yang seharusnya kita bawa melangkah ke depan.

Ruang antar-generasi

Museum Negeri NTB bukan sekadar tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga arena dialog lintas usia dan lintas pengalaman. Di ruang pamer tetapnya, anak-anak sekolah menatap kagum pada koleksi kain songket berwarna cerah, keris berukir halus, hingga miniatur rumah adat yang rumit.

Sementara para orang tua tersenyum mengenang masa lalu, saat mereka masih tinggal di desa dengan tradisi yang kini mulai memudar. Di ruang itu, waktu seolah berhenti sejenak, mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni yang jarang ditemukan di ruang publik lain.

Interaksi seperti ini adalah inti dari fungsi museum sebagai ruang edukasi dan sosial. Ia tidak hanya menampilkan benda, tetapi juga menghidupkan kembali kisah di baliknya.

Museum seharusnya menjadi tempat orang belajar, tanpa merasa digurui, tempat anak muda menemukan inspirasi, tanpa merasa dipaksa menghafal sejarah.

Banyak negara telah membuktikan bahwa museum bisa menjadi ruang hidup, seperti museum sains di Singapura atau museum budaya di Jepang yang menggabungkan teknologi interaktif dan penceritaan visual untuk memantik rasa ingin tahu pengunjung muda.

NTB memiliki peluang besar ke arah itu. Museum bisa menjadi laboratorium sosial tempat masyarakat berdialog dengan masa lalu. Program edukasi berbasis budaya, lokakarya tenun atau musik tradisional, hingga tur tematik berbasis narasi lokal dapat dijadikan agenda rutin.

Setiap koleksi bisa menjadi pintu masuk untuk mengajarkan nilai, yakni kerja keras, gotong royong, dan cinta tanah air. Dengan pendekatan ini, museum tidak hanya menjadi tempat melihat benda, tetapi juga ruang belajar karakter bangsa.

Selain sebagai jembatan antar-generasi, museum juga berperan penting menjaga kesinambungan budaya. Ketika anak muda belajar memahami makna simbol pada kain songket atau filosofi rumah adat, mereka sebenarnya sedang memelihara akar identitas yang menguatkan rasa kebangsaan.

Dari sini, museum bertransformasi menjadi wahana pendidikan karakter yang lembut, tanpa pidato panjang, tanpa slogan keras, tapi dengan pengalaman yang menyentuh dan membekas.


Ekonomi kreatif

Di era ekonomi kreatif, museum tidak bisa hanya berperan sebagai penjaga masa lalu. Ia juga bisa menjadi sumber inspirasi masa depan.

Koleksi yang tersimpan di Museum Negeri NTB menyimpan potensi ekonomi yang besar, mulai dari motif tenun yang dapat menginspirasi desain busana, ukiran tradisional yang bisa diterjemahkan ke dalam karya seni modern, hingga artefak maritim yang mampu melahirkan gagasan wisata edukatif berbasis sejarah laut.

Museum bisa menjadi mitra strategis bagi pelaku industri kreatif daerah. Kolaborasi antara museum, desainer muda, seniman visual, hingga perajin lokal dapat membuka peluang baru.

Kolaborasi itu bisa dalam bentuk pembuatan produk turunan berbasis koleksi, seperti replika miniatur, suvenir artistik, atau konten digital bertema budaya NTB. Jika dikelola dengan baik, museum bukan hanya menyimpan warisan, tetapi juga menggerakkan ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas.

Langkah seperti ini sudah dilakukan di beberapa daerah lain di Indonesia. Museum Bali, misalnya, telah bekerja sama dengan perajin lokal untuk menghasilkan produk berbasis motif koleksi museum. Di Yogyakarta, museum-museum kecil menjalin kerja sama dengan komunitas kreatif dalam pembuatan film pendek dan karya digital.

NTB bisa menempuh jalan serupa, dengan menjadikan museum sebagai pusat kolaborasi antara pemerintah, pelaku seni, dunia pendidikan, dan masyarakat.

Pemerintah daerah perlu memberi dukungan nyata, baik melalui kebijakan maupun anggaran. Museum dapat diintegrasikan dalam peta besar pembangunan ekonomi kreatif daerah.

Kemitraan dengan kampus seni, lembaga riset budaya, dan pelaku pariwisata perlu diperkuat agar museum menjadi simpul penggerak inovasi berbasis budaya.

Dengan posisi NTB yang tengah berkembang sebagai tujuan wisata unggulan, museum bisa menjadi pelengkap wisata edukatif yang berkarakter lokal.

Wisatawan yang datang ke Lombok atau Sumbawa tidak hanya menikmati pantai dan gunung, tetapi juga dapat merasakan kekayaan sejarah dan budaya yang hidup melalui pameran museum.

Di sinilah letak nilai tambah museum, bukan semata tempat untuk menatap masa lalu, melainkan juga pintu yang membuka jalan menuju masa depan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Menuju harapan

Museum pada hakikatnya adalah ruang dialog antara waktu dan manusia. Ia mengajarkan bahwa kemajuan bukan berarti melupakan, melainkan memahami apa yang telah dilalui untuk melangkah lebih bijak ke depan.

Museum Negeri NTB menyimpan potensi besar untuk menjadi pusat pembelajaran publik, ruang refleksi kebangsaan, sekaligus penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya. Museum NTB merupakan wujud hadirnya negara untuk mengajak masyarakat memahami masa lalu, sekaligus masa depan.

Untuk mewujudkan itu, perlu perubahan cara pandang bahwa museum bukan institusi pasif yang menunggu dikunjungi, melainkan ruang hidup yang membuka diri terhadap ide dan kolaborasi.

Digitalisasi koleksi, promosi kreatif di media sosial, hingga pengembangan tur virtual dapat menjadi langkah awal memperluas jangkauan publik.

Akhirnya, merawat museum berarti merawat ingatan kolektif bangsa. Dan ingatan yang dirawat dengan baik akan menuntun masyarakat menuju masa depan yang berakar dan berkarakter.

Museum bukan ruang masa lalu, tetapi ruang harapan, tempat manusia menata masa depan dengan terlebih dahulu menengok kembali cermin sejarah.

Selama masih ada dinding museum yang berdiri di Mataram, selama itu pula ada napas panjang peradaban yang terus hidup dan mengajarkan kita untuk menjadi bangsa yang tidak hanya maju, tetapi juga berbudaya.

Baca juga: Tajuk ANTARA NTB - Museum NTB, Menenun masa lalu dan masa depan



COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.