Menilik daya ungkit ekonomi di Museum NTB

id museum ntb,transformasi museum ntb,pengunjung museum ntb,nusa tenggara barat,pad museum ntb Oleh Eko Saputra *)

Menilik daya ungkit ekonomi di Museum NTB

Peneliti Tumbuh Institut Eko Saputra. ANTARA/HO-Dokumen Pribadi

Mataram (ANTARA) - Kerap kali, pembahasan mengenai museum tidak lah menarik—tempat artefak sejarah dan masa lalu dipajang dalam etalase kaca yang terdengar sangat membosankan—beku, tak berdetak bersama denyut kehidupan modern.

Tidak mengherankan jika museum kerap dipersepsikan sebagai ruang membosankan: gudang nostalgia yang hanya dikunjungi karena kewajiban kurikulum atau ritual wisata yang hampa makna.

Namun, seperti banyak ilusi lain, anggapan itu rapuh ketika keberlanjutan menjadi mantra baru peradaban dan ekonomi tidak lagi bisa bergantung pada eksploitasi tanpa batas, museum justru muncul sebagai simpul penting dalam jejaring pembangunan yang ramah lingkungan.

Museum bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu, melainkan teknologi sosial—sebuah alat yang mengubah ingatan kolektif menjadi nilai ekonomi, identitas menjadi daya tarik, dan pengetahuan menjadi sumber daya terbarukan.

Jika kita menelisik substansi dari pembangunan yang ramah lingkungan, seyogyanya Museum NTB menjadi titik penting bagi roda perputaran ekonomi. Ketika kita meninjau kinerja dari sisi ekonomi daerah, dalam lima tahun terakhir (2021–2025), Pendapatan Asli Daerah (PAD) Museum NTB tumbuh rata-rata 72 persen per tahun—sebuah laju pertumbuhan yang luar biasa untuk sebuah institusi kebudayaan.

Pada tahun 2022 tercatat lonjakan pertumbuhan signifikan sebesar 135 persen dibanding 2021, disusul pertumbuhan 39 persen pada 2023.

Dari hanya Rp11,7 juta pada 2021, realisasi PAD Museum NTB melonjak menjadi Rp167,5 juta pada 2025, bahkan mencapai 215,02 persen dari target. Angka ini menjadi pesan penting bahwa lembaga budaya juga dapat menjadi unit layanan publik yang produktif secara ekonomi.

Lebih jauh dari itu, dampak ekonomi museum tidak berhenti pada pendapatan tiket. Jika kita menganalisis belanja pengunjung menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang signifikan.

Pengunjung domestik membelanjakan rata-rata sekitar Rp34.000 per orang untuk konsumsi, transportasi, dan kebutuhan lainnya. Dengan jumlah pengunjung domestik tahun 2025 mencapai 41.763 orang, maka perputaran ekonomi yang tercipta menyentuh angka Rp1,4 miliar per tahun.

Jika dengan pola belanja yang mencakup penginapan, restoran, dan jasa wisata, rata-rata pengeluaran pengunjung mancanegara, maka kontribusi yang lebih besar datang dari wisatawan asing yang mencapai Rp1,3 juta per orang dengan jumlah 2.673 pengunjung asing pada tahun 2025, maka total perputaran ekonomi yang dihasilkan mencapai sekitar Rp3,4 miliar per tahun.

Ini jika digabungkan, aktivitas kunjungan Museum NTB pada 2025 dengan total kunjungan di Museum NTB yang mencapai angka 46.446 orang, maka memicu perputaran ekonomi sekitar Rp4,8 miliar per tahun.

Angka itu mencerminkan efek berganda yang menjalar ke sektor UMKM, jasa transportasi, kuliner, hingga pariwisata lokal.

Ini bukan hanya sekedar angka, tapi bagaimana sejarah dan budaya dapat menjadi efek pengganda bagi aktivitas ekonomi masyarakat—bahwa budaya dan sejarah memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Bisa kita lihat museum Guggenheim Bilbao yang menjadi bukti “mesin ekonomi” baru bagi wilayah Basque. Tercatat selama tiga tahun pertama beroperasi (1997–2000), museum Guggenheim Bilbao menarik sekitar 3,6 juta pengunjung dan menghasilkan sekitar €500 juta aktivitas ekonomi baru di wilayah tersebut (indonesiaheritage-cities.org).

Dalam logika ekonomi lama, sumber daya adalah sesuatu yang digali, ditebang, atau dibakar. Keberadaan museum menegaskan dalam logika ekonomi baru, sumber daya bisa berupa cerita, simbol, dan pengalaman. Museum, dalam kerangka ini, adalah pabrik makna—tempat di mana masa lalu diproduksi ulang menjadi pengalaman yang dikonsumsi oleh masyarakat global.

Maka sejalan dengan konsep diversifikasi ekonomi dewasa ini penting untuk memahami bahwa museum tidak hanya sebatas institusi pajangan benda-benda kuno, tapi juga sumber daya yang dapat diandalkan menjadi basis aktifitas ekonomi—menciptakan produk dan layanan yang beragam untuk menarik pengunjung yang lebih luas juga meningkatkan pendapatan.


Titik aktivitas ekonomi

Museum NTB tidak hanya menyimpan artefak, tetapi juga menggerakkan aliran keputusan manusia—dan dari keputusan-keputusan kecil itulah ekonomi bekerja.

Umumnya aktifitas ekonomi di Museum NTB terbagi menjadi dampak langsung dan dampak tidak langsung. Setiap pengunjung yang melangkah masuk membawa lebih dari sekadar rasa ingin tahu. Mereka membawa pilihan: membeli tiket, memesan minuman, memilih mode transportasi.

Dampak museum tidak berhenti di gerbang masuk. Kunjungan itu merambat keluar, menjangkau para pedagang di sekitar museum, para perajin yang mengolah identitas budaya menjadi cenderamata, hingga pengemudi dan penyedia akomodasi yang menopang perjalanan manusia modern.

Sejak berdiri 1982 hingga 2025, Museum NTB telah menerima kunjungan kumulatif sekitar 1,96 juta pengunjung. Angka tersebut bukan sekadar statistik, tapi bayangkan angka ini sebagai sebuah aliran aktifitas ekonomi di mana satu orang pengunjung berkontribusi dalam aliran perputaran ekonomi.

Jika diasumsikan 300 pengunjung aktif per hari melakukan perjalanan ke museum dengan total pengeluaran sebesar Rp.34.000, maka aktivitas ekonomi dari dampak orang ke museum dapat berkontribusi pada perputaran uang sebesar kurang lebih Rp10 juta per hari.

Pilihan-pilihan sederhana ini tampak remeh, tetapi dalam skala ribuan orang, ia menjelma menjadi arus ekonomi yang nyata. Seperti dalam sejarah panjang peradaban, ekonomi tidak digerakkan oleh peristiwa besar semata, melainkan oleh repetisi tindakan kecil yang dilakukan banyak manusia secara bersamaan.

Dan arus ini terus berulang: hari demi hari, membentuk denyut ekonomi yang senyap namun konsisten. Dalam konteks ini, museum tidak hanya dipandang sebagai ruang beku yang hanya mengawetkan masa lalu, melainkan simpul pertemuan antara ingatan, mobilitas, dan transaksi.

Namun, prospek ini diperlukan juga transformasi Museum NTB dalam meningkatkan pelayanan publik seperti perbaikan saranan dan prasarana, perubahan display pameran tetap, digitalisasi pembayaran tiket hingga, peningkatan teknologi digital hingga kapasitas SDM.

Ruang museum tidak boleh diperlakukan sebagai bangunan pasif yang sekadar “menunggu dikunjungi”. Museum harus dipahami sebagai infrastruktur sosial-ekonomi yang menuntut pembaruan terus-menerus.

Bangunan yang menua bukan sekadar persoalan estetika, melainkan sinyal tentang bagaimana negara memperlakukan ingatan kolektifnya. Pameran yang statis tidak hanya membosankan mata, tetapi juga mematikan kemungkinan interaksi, refleksi, dan pada akhirnya berpengaruh pada keputusan ekonomi baru dari pengunjung.

Ketika tiket masih dibayar secara manual, antrean menjadi panjang, pengalaman menjadi lambat, dan museum kehilangan momentum di era serba cepat. Di titik ini, persoalan museum bukan lagi soal budaya semata, melainkan soal manajemen dan imajinasi.

Museum yang gagal bertransformasi akan tertinggal bukan karena miskin koleksi, tetapi karena miskin keberanian untuk menafsir ulang dirinya sendiri.

Transformasi museum berarti menggeser cara pandang: dari ruang penyimpanan menuju ruang pengalaman. Pameran tidak lagi hanya menjelaskan “apa yang terjadi di masa lalu”, tetapi mengajukan pertanyaan kritis tentang “apa artinya hari ini”.

Teknologi digital, kurasi tematik, dan integrasi dengan ekonomi kreatif lokal bukan hiasan tambahan, melainkan prasyarat agar museum tetap relevan dalam ekosistem ekonomi kontemporer.

Dan pada akhirnya, museum bekerja seperti ekonomi itu sendiri: perlahan, berlapis, dan bertumpu pada kehadiran manusia. Setiap langkah kaki di lorong pameran, setiap tiket yang dibeli, setiap percakapan di luar gedung museum, adalah bagian dari mekanisme besar yang menggerakkan kehidupan kota.

Museum NTB dengan caranya yang inklusif dan adaptif, maka dapat membuktikan bahwa ingatan kolektif tidak hanya menjaga masa lalu—ia juga menghidupi masa kini.


*) Penulis merupakan seorang peneliti dari Tumbuh Institut.



COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.