NTB meminta mesin pendingin komoditas ke Kemendag

id Kemendag,Mesin pendingin,NTB

Kepala Dinas Perdagangan NTB, HJ Putu Selly Andayani, menunjukkan bawang merah yang dilelang melalui pasar lelang komoditas agro ke-2 tahun 2019 di Mataram, Kamis (22/8/2019). ANTARA/Awaludin

Mataram (ANTARA) - Dinas Perdagangan Nusa Tenggara Barat meminta Kementerian Perdagangan (Kemendag) memberikan mesin pendingin berupa "Controled atmosphere storage" (CAS) untuk memperpanjang masa penyimpanan komoditas hortikultura sehingga harga dan pasokan tetap terjaga sepanjang waktu.

Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj Putu Selly Andayani, di Mataram, Jumat mengatakan, permintaan tersebut sudah disampaikan ke Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi dan dijanjikan terealisasi pada 2021.

"Kalau di tahun 2020 tidak bisa. Nanti pada 2021 baru diberikan dan akan ditempatkan di Pulau Sumbawa," katanya.

Menurut dia, mesin pendingin (CAS) tersebut sangat dibutuhkan karena NTB mampu memproduksi berbagai jenis komoditas hortikultura, seperti bawang merah, bawang putih, cabai dan beragam jenis sayuran. Komoditas tersebut diproduksi petani di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa.

Namun, kata Selly, semua jenis komoditas tersebut sering mengalami penurunan harga yang merugikan petani pada saat panen raya. Dan jika disimpan lebih lama akan merusak kualitas komoditas tersebut.

"CAS itu untuk mengantisipasi pasca panen, di mana biasanya harga komodtas hortikultura jatuh. Kalau dengan alat itu, cabai atau bawang bisa bertahan hingga enam bulan," ujarnya.

Menurut dia, harga CAS memang relatif mahal, yakni bisa mencapai Rp15 miliar untuk pemasangan satu unit mesin pendingin tersebut.

Meskipun demikian, NTB sudah saatnya memiliki CAS. Sebab, selain untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, komoditas hortikultura NTB, khususnya cabai rawit sudah diekspor ke Singapura melalui Batam dan Tanjung Pinang.

"Pada Juni 2019, sebanyak 135 ton cabai rawit NTB diekspor lewat Batam dan Tanjung Pinang. Kami dapat data dari otoritas Bandara Internasional Lombok," ucap Selly.

Selain sebagai daerah sentra produksi, menurut Selly, keberadaan CAS juga sangat penting untuk mengantisipasi perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, di Kabupaten Lombok Tengah, yang akan menyelenggarakan event olahraga berskala internasional, yakni MotoGP pada 2021.

"Kita akan menghadapi KEK Mandalika dan MotoGp. Paling tidak kita punya alat penyimpanan komoditas yang dibutuhkan setiap saat oleh industri pariwisata. Paling tidak di Pulau Lombok, dan Pulau Sumbawa ada mesin tersebut," ujarnya.

Selly menambahkan keberadaan CAS juga bisa memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani karena harga hasil produksinya bisa stabil. Selain itu, pihak perbankan bisa memberikan pembiayaan karena komoditas yang tersimpan di CAS tentu memiliki nilai ekonomi yang relatif bagus.

"Komoditas yang disimpan di CAS bisa untuk ekspor. Itu kan bisa membantu pertumbuhan ekonomi NTB yang masih relatif rendah setelah dilanda gempa bumi, yakni hanya dua persen," katanya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar