'Tunggu di Akhirat': isi surat wasiat warga Kota Mataram yang gantung diri

id Warga,Monjok Culik,Gantung,Istri,Mataram

'Tunggu di Akhirat': isi surat wasiat warga Kota Mataram yang gantung diri

Saudara korban, Subri ketika menunjukkan wasiat yang ditinggalkan kakaknya, Muhammad Sarbini (55), korban gantung diri di Monjok Culik, Kota Mataram, NTB, Selasa (25/2/2020). (Dhimas Budi Pratama)

"Itu semacam surat wasiat, pesan itu ditujukan kepada saudara dan anak korban, tulisannya tunggu di akhirat," ucapnya.
Mataram (ANTARA) - Warga Monjok Culik, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, geger dengan adanya temuan mayat seorang pria paruh baya yang diduga korban gantung diri.

Kepala Bagian Operasional Satreskrim Polresta Mataram Iptu Wahid Joni Atmaja yang ditemui di rumah duka di Jalan Panda IX, Kelurahan Monjok, Kota Mataram, mengatakan, korban gantung diri ini dikenal bernama Muhammad Sarbini (55).

"Dari keterangan saksi-saksi di lokasi, korban ini depresi karena ditinggal istri," kata Joni Atmaja.

Kemudian dari hasil pemeriksaan jenazah oleh Tim Inafis Polresta Mataram, tidak ada ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Melainkan, adanya bekas luka jeratan pada bagian leher korban.

"Jadi dugaan kuat kalau korban ini meninggal akibat gantung diri. Itu kita lihat dari bekas luka di bagian lehernya, ada juga ditemukan kotoran yang keluar dari lubang anus," ujarnya.

Lebih lanjut, keluarga korban dikatakan telah menolak untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah yang semasa hidupnya bekerja sebagai penjual jajanan di pinggir Jalan Ade Irma Suryani, Kelurahan Monjok, Kota Mataram.

"Karena menolak autposi, jadi persoalan ini kita serahkan kepada pihak keluarga korban," katanya 

Dari pantauan ANTARA di TKP yang berada di ruang tengah rumah saudara korban, masih terdapat bekas korban gantung diri berupa kain panjang yang terikat pada palang kayu bagian atap.

Kemudian ditemukan selembar kertas yang menempel di lemari. Dalam kertas putih tersebut terdapat pesan terakhir yang sengaja ditinggalkan korban untuk disampaikan kepada saudara dan anak kandungnya yang ditinggalkan.

"Itu semacam surat wasiat, pesan itu ditujukan kepada saudara dan anak korban, tulisannya tunggu di akhirat," ucapnya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar