Pemkot menerima investor Taiwan olah sampah jadi listrik

id mataram,sampah,listrik

Pemkot menerima investor Taiwan olah sampah jadi listrik

Ilustrasi: kondisi tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Sweta, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. (Foto: ANTARA/Nirkomala/dok)

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menerima investor dari Pemerintah Taiwan, yang menawarkan kerja sama pengolahan sampah menjadi energi listrik dengan menggunakan insenerator.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura seusai menerima investor dari perusahaan Yi Long Precision Industry di Mataram, Jumat, mengatakan, kedatangan investor tersebut ingin mengajak Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh meninjau pengolahan sampah mereka di Taiwan.

"Rencana kerja sama ini sudah dilakukan sejak akhir 2019, dan Maret 2020 sebenarnya pak wali dijadwalkan berkunjung ke Taiwan, tapi karena adanya virus Covid 19, jadi kita tunda," katanya.

Menurutnya, berdasarkan ekspose yang telah dilakukan perusahaan dari Pemerintah Taiwan tersebut menyebutkan bahwa insinerator yang akan ditempatkan di Kota Mataram kapasitasnya pas dengan volume sampah di Mataram yakni sekitar 300-400 ton per hari.

Sampah 300-400 ton itu, lanjutnya, bisa diolah menjadi tenaga listrik sebesar 6 megawatt per jam. Dengan demikian, ke depan Mataram bisa mengurangi sampah.

"Karena itulah, pemerintah kota serius ingin melakukan kerja sama dengan perusahaan dari Taiwan tersebut," katanya.

Sebenarnya setelah tahapan kunjungan Wali Kota Mataram ke Taiwan, kata Mahmuddin, akan dilanjutkan dengan penendatangan MoU, jika kerja sama itu semakin menyakinkan dilaksanakan tahapan kontrak.

"Seperti Kabupaten Ogan Ilir dan Palembang Sumatrea Selatan, mereka sudah tahap MoU, karena sudah berkunjung ke Taiwan dan sekarang persiapan untuk kontrak. Sementara kita tunda dulu sampai kondisi Covid 19 membaik," katanya lagi.

Menurutnya, harga satu unit mesin insinerator yang ditawarkan itu sekitar Rp400 miliar, dengan melihat anggaran daerah pemerintah kota tidak mampu membeli sendiri mesin tersebut kecuali ada subsidi dari pemerintah pusat.

Oleh karena itulah, pemerintah kota ingin menjajaki secara serius kerja sama dengan pengusaha asal Taiwan tersebut. Sementara, Kota Mataram siap memberikan "sharing" berupa penyiapan lahan dengan dua opsi yakni di Kebon Talo dan di Bagek Kembar dekat rencana pembangunan Ipal komunal dan dekat dengan lahan PLN.

"Mereka hanya butuh lahan sekitar 2 hektare, dan itu rencananya akan kita bebaskan di dekat lahan PLN agar listrik yang dihasilkan bisa terkoneksi langsung dan dijual," katanya.

Dikatakan, kerja sama dalam program pengelolaan sampah menggunakan mesin insinerator ini merupakan salah satu terobosan dan menjadi solusi penanganan sampah jangka panjang di Kota Mataram.

Apalagi perkembangan di Mataram cukup pesat, sehingga dalam lima tahun ke depan produksi sampah di Mataram bisa mencapai 1.000 ton per hari.

"Jika ingin menyelesaikan sampah dengan cepat, maka pengolahan sampah dengan insenerator sudah menjadi kebutuhan mendesak sebab sampah menjadi persoalan serius yang perlu ditangani segera," ujarnya.

 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar