Sebanyak 244 calon haji Mataram dinyatakan risiko tinggi

id resiko tinggi,haji,mataram

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi (Foto: ANTARA News/Nirkomala)

Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat sebanyak 37 persen atau 244 orang calon haji asal Kota Mataram yang telah memeriksakan kesehatannya dinyatakan risiko tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Selasa, mengatakan, jemaah calon haji yang sudah memeriksakan kesehatan di Puskesmas 660 orang atau 85 persen dari total calon haji Mataram 771 orang.

"Sebanyak 771 calon haji itu, terdiri atas 740 calon haji reguler dan 31 calon haji tambahan. Tapi, yang sudah periksa kesehatan 660 orang, sisanya masih ada di luar daerah atau kesibukan lain," katanya. 

Dikatakan, sebanyak 244 calon haji yang masuk kategori risiko tinggi (risti) tersebut, rata-rata jemaah lanjut usia (lansia) sehingga membutuhkan pendampingan dari keluarga serta perhatian khusus dari para petugas.

Selain itu, ada juga jemaah yang memiliki penyakit namun masih bisa tetap ikut berangkat dengan catatan harus didampingi juga guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Penyakit yang dialami jemaah risti itu antara lain, diabetes, darah tinggi dan penyakit jantung," katanya.

Menurutnya, jemaah calon haji yang masuk kategori risti karena penyakit itu saat ini terus dimonitoring oleh tim kesehatan dari puskesmas agar menjelang keberangkatan kondisi kesehatan mereka bisa lebih baik.

"Jemaah risti karena penyakit ini juga perlu mendapatkan pendampingan serta perhatian serius dari petugas haji," katanya.

Usman mengatakan, dalam hal ini pihaknya tidak memiliki kewenangan terhadap keputusan memberikan izin berangkat atau tidak kepada calon haji yang masuk kategori risiko tinggi.

"Saat masuk asrama haji nanti, calon haji akan melakukan cek kesehatan terakhir oleh tim dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan merekalah yang memiliki kewenangan memberikan rekomendasi kondisi kesehatan jemaah serta boleh diberngkatkan," katanya. 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar