ACT menggalang donasi atasi kekeringan

id ACT,donasi kekeringan,kekeringan,kemarau

Lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Tegal mendistribusikan 14 ribu liter air bersih untuk kawasan kekeringan di beberapa tempat di Kecamatan Suradadi, Tegal. (ACT)

Jakarta (ANTARA) - Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) N Imam Akbari mengatakan pihaknya menggalang dana untuk mengatasi kekeringan musim kemarau di sejumlah tempat.

"Kemarau membuat kualitas hidup sosial menurun. Misalnya, debit air yang berkurang akan mempengaruhi konsumsi air," kata Imam kepada wartawan di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan air adalah kebutuhan vital manusia. Manusia sendiri masih bisa bertahan ketika tidak makan, tapi saat tidak minum hanya akan bertahan dalam hitungan hari.

ACT pernah ikut meringankan beban masyarakat yang terdampak kekeringan di Somalia pada 2011. Di negara Afrika itu pernah dilanda kekeringan selama empat tahun.

"Tentu saja banyak sekali korban kekeringan hingga hampir semua balitanya mengalami gizi buruk dan dampak sosial lainnya. Tentu hal ini jangan sampai terjadi di negeri kita," kata dia.



Melalui Mobile Water Tank dan Sumur Wakaf, kata dia, ACT terus berinovasi memberikan bantuan air baik yang sifatnya jangka pendek hingga jangka panjang.

Melalui program ACT bertajuk #DermawanAtasiKekeringan, Imam mengajak masyarakat Indonesia untuk langsung beraksi meringankan beban saudara-saudara di daerah yang mengalami kekeringan.

"Kami mengajak semua masyarakat untuk bahu-membahu mengirimkan bantuannya melalui aksi-aksi nyata untuk saudara-saudara kita di
bit.ly/DermawanAtasiKekeringan yang bisa diakses kapan saja," kata dia.

Dia mengatakan donasi yang dikeluarkan merupakan kebaikan. Apa yang disumbangkan sebenarnya untuk diri kita sendiri.

"Apabila kita memberikan kebaikan maka sebuah kebaikan itu akan kembali ke diri kita termasuk keburukan. Mari kita atasi kekeringan yang mematikan ini dengan menjadi dermawan. Dermawan, mari atasi kekeringan," katanya.*
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar