Maju bersama PT Pegadaian, berkat didikan orangtua

id Diploma

Maju bersama PT Pegadaian, berkat didikan orangtua

Rudy Yuswanto, SE MM. (Dok. pribadi)

Mataram (ANTARA) - Bersama dinginnya udara pagi menjelang subuh dan dengan diselimuti kabut tipis, bakul-bakul dengan “rinjing” di punggung masing-masing berduyun-duyun berangkat menuju pasar.
       
Pemandangan seperti itu disuguhkan setiap hari sewaktu saya masih kecil (masih belajar di SD) di depan tempat tinggal kami di jalan yang ketika itu belum beraspal di kota Trenggalek.
       
Rumah kami berada tepat di kaki Gunung Tempel. Berhadapan langsung dengan sebuah gunung kecil di tengah kota Trenggalek, persisnya hanya dibatasi jalan, sungai kecil, dan pasar subuh yang menjadi tempat berniaga masyarakat sekitar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.       
       
Kota Trenggalek itu sendiri adalah sebuah kota kecil di Provinsi JawaTimur yang sungguh sangat nyaman untuk sebuah kegiatan kehidupan yang bernuansa pedesaan.
       
Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Trenggalek, jumlah penduduk di kota kecil di Jawa Timur dengan luas wilayah 1.147,22 km itu pada 2020 hanya jumlah 674.411 jiwa.
       
Saya yang lahir di Trenggalek pada April 1968 adalah putera kedua dari enam bersaudara, dua laki-laki dan empat perempuan dari pasangan pendidik, Bapak Poerjono dan Ibu Siti Rukaja Rukajah. 
       
Ayah kami berprofesi sebagai guru Sekolah Dasar dan beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai Guru Teladan Tingkat Provinsi dan satu kali Tingkat Nasional (pada 1986). Sama seperti ayah, ibu kami juga berprofesi sebagai guru SD.    
       
Masa kanak-kanak kami serasa penuh dengan kegiatan bermain dan berkumpul dengan teman-teman sebaya yang membuat kami sampai saat ini selalu kangen ingin pulang kampung ke Trenggalek, 
       
Guna melepas kerinduan pada teman-teman dan tempat-tempat main favorit masa kanak-kanak, biasanya kami saat pulang kampung pergi bersama ke sungai dan ke gunung di daerah Trengggalek itu. 
Rudy Yuswanto bersama keluarga (Dok. pribadi)      


Dulu  kadang-kadang orangtua kami merasa khawatir karena ketika itu masih banyak binatang buas dan bahaya-bahaya yang belum terpikirikan anak-anak di daerah itu. 
       
Tetapi kakek dan nenek kami yang memang kebetulan tinggal satu kampung sering memanjakan dan memberi kesempatan kepada kami untuk tetap bisa bermain, sejauh tidak mengganggu kegiatan belajar di sekolah maupun di rumah.      
       
Memasuki masa sekolah dasar sampai dengan SMP, terlihat hasil tempaan ibu dan bapak saya selaku pendidik. Terbukti saya selalu mencapai prestasi terbaik di sekolah, sehingga selalu menduduki peringkat atau ranking 1, terjeleknya peringkat 2 atau 3.
       
Saya bersyukur beberapa kali mewakili sekolah (SDN Trenggalek 1) dalam kegiatan perlombaan, baik di bidang pengetahuan maupun olah raga. Bagi saya, kegiatan yang paling menyenangkan waktu itu adalah lomba cerdas-cermat antar sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga dan instansi terkait. 
       
Saat menjadi juara lomba cerdas-cermat di Departemen Koperasi PGRI kala itu, sekitar tahun 1980, saya mendapat hadiah berupa piala dan tabungan yang menurut ukuran waktu itu lumayan banyak. 
       
Bahkan dengan hadiah itu saya bisa membeli sepeda BMX seharga Rp 45 ribu. Saat itu sepeda tersebut masih sulit didapat di Trenggalek, sehingga saya membelinya harus ke Tulungagung.
       
Memasuki masa remaja, mewakili sekolah SMPN 1 Trenggalek pada tahun 1983, saya juga menjuarai turnamen bulutangkis dan lomba mencipta puisi pada tingkat kabupaten
       
Semenjak kecil saya menyukai segala sesuatu yang bisa dijelaskan dengan fisik dan visual secara fakta mutlak dan pasti atau biasa kita sebut eksak/ilmu pasti. Fisika, kimia, dan matematika menjadi pelajaran favorit saya. 
       
Maka, pada saat belajar di SMA, saya mengambil jurusan yang sesuai dengan passion saya yaitu Jurusan Fisika. Menurut saya banyak hal yang bisa dilakukan dengan peran serta keilmuan ini dalam kehidupan manusia dan selalu meyakini bahwa sebuah kebenaran itu artinya pasti.
       
Seiring berjalannya waktu, satu hal yang paling membekas dalam hidup saya yaitu saat menentukan arah ke depan yang harus ditempuh. Saat itu saya mendaftar di perguruan tinggi (Universitas Brawijaya) pada jurusan Fisika-Mipa.
       
Hasil pengumuman seleksi test penerimaan mahasiswa yang dulu disingkat Sipenmaru (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) dinyatakan diterima dengan nilai mendekati sempurna (urutan pertama).
       
Namun berbarengan dengan itu ada pengumuman lain dari Depertemen Keuangan perihal hasil test penerimaan siswa diploma keuangan (ikatan dinas/program pendukung Sekolah Tinggi Akuntansi Negara/STAN) yang menyatakan saya diterima. 
       
Dengan berbagai pertimbangan masalah biaya dan saran orangtua, akhirnya keinginan dan cita-cita menjadi ahli metafisika kandas, dan saya meneruskan kuliah di diploma keuangan. 
       
Kelebihan dari kuliah di Diploma Departemen Keuangan dengan Spesialisasi Pegadaian itu adalah bahwa pada semester II diangkat menjadi calon pegawai dan sudah mendapatkan gaji.
       
Setelah lulus saya langsung mendapatkan penempatan tugas di perbatasan utara NKRI, yaitu di Pulau Tarakan. Berlanjut dinas di berbagai wilayah Kalimantan lainnya dan di wilayah Sulawesi.
       
Pada 1992 saat berdinas di Banjarmasin Kalimantan Selatan, saya bertemu dengan gadis Jawa yang bekerja sebagai PNS POLRI di Polres Banjarmasin. Namanya Sundari, kelahiran Magetan Jawa Timur pada Agustus 1970.
       
Dari situlah awal rumah tangga kami dimulai sampai sekarang bersama istri tercinta. Sampai saat ini kami dianugerahi satu putera yang lahir 27 tahun lalu di Banjarmasin. Namanya Iqhbal As Shiddieq.
       
Saat ini Iqhbal berprofesi sebagai Auditor dan Konsultan Proyek Konstruksi serta tengah menempuuh pendidikan S-2 Teknik Sipil di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. 
       
Saya sendiri saat ini mendapatkan amanah sebagai Kepala Departemen Risiko PT Pegadaian (Persero) Wilayah Jawa Timur. Sejak awal (1990) saya memang bekerja di BUMN tersebut yang kini termasuk dalam kelompok 10 peringkat BUMN penyumbang laba terbesar untuk negeri.
       
PT Pegadaian sendiri adalah BUMN hang hadir untuk Indonesia dalam ikut berperan dan mengawal pembangunan perekonomian rakyat Indonesia di bidang penyediaan dana masyarakat dengan sistem gadai dan fidusia. 
       
Saya bersyukur mendapatkan amanah pada posisi strategis di BUMN tersebut yang di antaranya menekankan pentingnya kecermatan dan teamwork yang solid serta networking yang kuat. 
       
Semuanya ini tidak lain berkat didikan orangtua yang semenjak kecil menanamkan sikap disiplin dan selalu menekankan perilaku yang menjunjung tinggi keramah-tamahan (sikap sopan santun).

*Penulis, Rudy Yuswanto, SE, MM adalah Kepala Departemen Risiko PT Pegadaian 
 (Persero) Wilayah Jawa Timur.










 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2020

Komentar