Kemenkes mendorong pertumbuhan dokter spesialis lewat beasiswa

id dokter spesialis,beasiswa dokter,beasiswa dokter spesialis,dokter spesialis jantung

Kemenkes mendorong pertumbuhan dokter spesialis lewat beasiswa

Ilustrasi bedah. (ANTARA/Pexels)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan ingin meningkatkan pertumbuhan dokter spesialis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia dengan memberikan beasiswa. Direktur Utama RS Pusat Jantung dan Pembuluh darah Harapan Kita Dr. dr. Iwan Dakota, Sp. JP (K), MARS, FIHA mengatakan pihaknya dan Kementerian Kesehatan sudah mencari data kebutuhan tenaga kesehatan dan sarana prasarana untuk memenuhi kebutuhan pasien se-Indonesia.

"Ada dua beasiswa, dari Dirjen Nakes (Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan) Tubel dan LPDP," kata Direktur Utama RS Pusat Jantung dan Pembuluh darah Harapan Kita Dr. dr. Iwan Dakota, Sp. JP (K), MARS, FIHA di Jakarta, Jumat.

Pihaknya sudah mengumpulkan data ke sejumlah rumah sakit di Indonesia untuk mengetahui berapa jumlah dokter jantung yang dibutuhkan, juga berapa dana yang dibutuhkan untuk pelatihan.

Kemenkes telah berkomitmen untuk menambah kuota beasiswa dokter dan dokter spesialis di dalam negeri maupun luar negeri. Sebelumnya beasiswa yang tersedia hanya 200 hingga 300 peserta, di tahun 2022 ditambah menjadi 1.500 beasiswa per tahun.

Kemenkes juga mendorong pendidikan dokter berbasis rumah sakit. Upaya ini dilakukan dengan menambah sistem pendidikan dokter spesialis yang semula berbasis universitas, ditambah dengan kehadiran rumah sakit pengampu untuk transfer ilmu pengetahuan.

Baca juga: NTB borong penghargaan kesehatan lingkungan STBM
Baca juga: Kemenkes terbitkan izin vaksin booster kedua lansia


Iwan mengatakan RS Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menjadi pengampu yang mendampingi, mentransfer ilmu serta kemampuan untuk para dokter jantung dan dokter bedah di pusat kesehatan jantung di setiap provinsi.

Dalam pemenuhan kebutuhan, bukan cuma soal alat kesehatan yang harus diperhatikan, tetapi juga sumber daya manusia yang kuantitas dan kualitasnya harus diperbanyak. Acara tahunan dari Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI) yang berisi lokakarya, simposium, serta pameran diharapkan bisa juga meningkatkan keterampilan dan ilmu para tenaga kesehatan.