Anggota DPD Mangku Pastika motivasi pelaku UMKM di Bali agar pantang menyerah

id Bali Tangi,produk herbal,reses Pastika

Anggota DPD Mangku Pastika motivasi pelaku UMKM di Bali agar pantang menyerah

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika saat berbincang dengan pemilik Bali Tangi dalam kegiatan resesnya di Denpasar, Senin, (8/4/2024). ANTARA/Ni Luh Rhismawati

Denpasar (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika memotivasi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Provinsi Bali agar tekun dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kendala dalam proses produksi maupun pemasaran.

"Saya sangat berterima kasih, usaha Bali Tangi ini telah turut membawa nama besar Bali ke dunia dengan produk-produknya yang diminati hingga mancanegara," kata Pastika saat mengadakan penyerapan aspirasi ke PT Bali Tangi di Denpasar, Senin.

Menurut Gubernur Bali dua periode itu, di tengah perkembangan zaman, maka persaingan dalam dunia usaha sulit dihindari. Namun yang penting harus tetap tekun, kerja keras dan tidak mudah menyerah serta terus berinovasi.

Dalam kegiatan penyerapan aspirasi atau reses dengan tema "Bali Tangi: Upaya Meningkatkan Produk Herbal di Tengah Perkembangan Pariwisata Bali" ini, ia berbincang dengan Dirut sekaligus pendiri PT Bali Tangi Made Yuliani Djajanegara dan I Wayan Sukhana.

"Saya terpesona dengan aneka produk aroma terapi (herbal) di sini. Begitu masuk tempat ini suasana healing-nya sudah terasa. Ini sangat bagus untuk menyehatkan orang dan membuat bahagia," ucap wanita berusia 74 tahun itu.

Pastika menambahkan, dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal berupa rempah-rempah dalam berbagai produk perawatan kulit herbal tidak saja penting dalam kesehatan, juga melestarikan budaya leluhur dan tanaman serta membuka lapangan kerja.

Dalam kunjungannya itu, Pastika sempat mencoba sejumlah produk seperti lulur (boreh) untuk mencerahkan kulit. "Ini sangat harum dan hasilnya langsung terlihat. Kulit jadi lebih bersih dan segar," ujarnya.

Sekarang ini, ujar Pastika, penggunaan produk herbal tengah menjadi tren dan peminatnya tinggi karena masyarakat semakin sadar dengan penggunaan produk yang menyehatkan.

Oleh karena itu, dampaknya semakin bertumbuh UMKM baru yang menggeluti usaha produk herbal. Hal ini tentunya menambah persaingan bagi pelaku UMKM yang sudah lebih dahulu hadir.

Dalam pertemuan tersebut pihak Bali Tangi menceritakan awal berdirinya perusahaan sekitar tahun 2000.

Yuliani menuturkan awalnya menjual pernak-pernik produk kerajinan namun tidak sampai setahun ia memutuskan beralih ke produk aroma terapi dan perawatan kulit. Hal ini setelah mendapatkan pesanan dari salah satu spa di kawasan Sanur Kota Denpasar serta bertemu pengusaha spa dari luar negeri yang memesan paket spa dan alat pijat.

Dari sanalah ia bersama suaminya Sukhana yang sempat bekerja di farmasi lantas mengembangkan usahanya sehingga bisa tembus ke mancanegara. Ramuan "boreh" yang turun-temurun diwariskan oleh leluhur, kemudian dimodifikasi tanpa mengurangi khasiatnya

Dalam kesempatan itu ia menceritakan saat ini ada kendala yang dialami dalam sejumlah produksinya akibat izin BPOM yang belum keluar.

"Kami perpanjangan izin namun sudah setahun belum juga terbit. Akibatnya tidak bisa produksi beberapa produk. Tidak ada produksi sehingga tidak bisa menjual," ujar wanita yang mantan perawat ini.

Bali Tangi yang didirikan di tahun 2000 oleh Wayan Sukhana dan Yuliani berkeinginan untuk mewujudkan masyarakat yang hidup sehat, selaras dengan alam.

Bali Tangi memproduksi bahan-bahan perawatan kecantikan dari bahan alam organik tanpa memanfaatkan bahan kimia tambahan sintetik. Saat ini Bali Tangi memproduksi scrub, masker, minyak untuk pijat spa, minyak aroma terapi, minyak rambut, sabun dan sejumlah produk lainnya.

Baca juga: Pengusaha muda di Bali angkat potensi rempah jadi produk kecantikan
Baca juga: Ramuan jahe perkuat daya tubuh saat Puasa Ramadhan


Pihaknya juga rutin melatih mereka yang berkebutuhan khusus (tunanetra) agar memiliki keterampilan pijat ala spa hingga melatih keterampilan membuat produk kerajinan.

"Selain itu, kami juga mengajak kelompok wanita tani (KWT) untuk menanam sejumlah tanaman berkhasiat obat di pekarangan rumah," kata Yuliani.