Figur Capres Prabowo dan Tradisi Banyumasan

id Tradisi banyumasan,prabowo subianto,presiden ri,hari kopassus,tni ad

Figur Capres Prabowo dan Tradisi Banyumasan

Menteri Pertahanan (Menhan) RI sekaligus calon presiden terpilih Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 Prabowo Subianto saat ditemui di kediaman Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Jakarta, Kamis (11/04/2024). (ANTARA/Agatha Olivia Victoria)

Jakarta (ANTARA) - Seorang pemimpin biasanya diuji saat menghadapi krisis. Dalam situasi krisis pula, kualitas seorang pemimpin akan terlihat, bagaimana dia mengatasi situasi dengan tenang, nyaris tanpa gejolak.

Pelajaran seperti inilah yang bisa dipetik dari model kepemimpinan Prabowo Subianto. Model kepemimpinan Prabowo saat masih berdinas di Kopassus, Kostrad, hingga saat memimpin organisasi masyarakat sipil (selaku pendiri dan Ketua Umum Partai Gerindra), kiranya selalu aktual.

Figur Prabowo sangat identik dengan Korps Baret Merah (Kopassus), mengingat sebagian besar karir militernya dihabiskan pada satuan yang bermarkas di Cijantung (Jakarta Timur) itu.

Hari jadi ke-72 Kopassus pada 16 April 2024 bisa menjadi momentum reflektif kepemimpinan Prabowo, menjelang pelantikannya sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 2024.

Figur Prabowo bisa juga ditelusuri secara kultural, bahwa Prabowo berlatar belakang tradisi Banyumasan, Jawa Tengah.

Sudah sejak lama Prabowo selalu menyatakan dirinya sebagai "wong Kebumen” (asli orang Kebumen).


Legasi Pak Cum

Latar belakang kultural Prabowo dalam konteks tradisi Banyumasan bisa ditelusuri dari ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai ekonom senior, mantan menteri, dan intelektual yang mendirikan Fakultas Ekonomi (FE) UI.

Pak Cum, panggilan akrab Sumitro, dalam sebuah wawancara khusus dengan media nasional tahun 1990-an, secara berkelakar sekaligus bangga, menyatakan dirinya sebagai orang Banyumas.

"Saya ini orang Banyumas, kalau ngomong blak-blakan," ujar Pak Cum, saat itu.

Pak Cum lahir di Kebumen, 28 Mei 1917. Tradisi Banyumas merupakan sub-kultur tersendiri, selain dialek, juga berbeda dalam perilaku, dibanding kultur Jawa "pusat" Mataram (Yogyakarta dan Solo).

Bahasa Jawa dialek Banyumasan tidak ada strata, seperti kromo inggil (bahasa tinggi) dan ngoko (bahasa pergaulan), dan itu berdampak pada perilaku warga pendukung tradisi Banyumasan, yang dianggap lebih terbuka dan egaliter.

Wilayah dengan kultur seperti inilah yang menjadi asal-usul keluarga besar Pak Cum dan Prabowo Subianto.

Tradisi Banyumasan sendiri merujuk pada wilayah eks Keresidenan Banyumas, yang meliputi Kota Purwokerto, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap.

Dalam komunikasi sehari-hari, dialek Banyumasan juga digunakan warga Kebumen, yang secara administratif sebenarnya masuk wilayah eks Keresidenan Kedu (Magelang dan sekitarnya).

Kebumen memiliki posisi tipikal dalam sejarah kemiliteran di Tanah Air. Hal itu berkat keberadaan Gombong, kota kecamatan yang masuk Kabupaten Kebumen, yang terletak di timur Kota Purwokerto.

Di Gombong pernah berdiri lembaga pendidikan bagi calon anggota KNIL (tentara Hindia Belanda).

Keberadaan Gombong sebagai pusat latihan calon anggota KNIL, ibarat simbiosis mutualisme, mengingat wilayah Banyumas, sejak lama dikenal sebagai sumber rekrutmen bagi calon anggota KNIL.

Dari sinilah tradisi perwira asal Banyumas bermula, dan pada satu masa sangat mewarnai sejarah militer negeri ini, utamanya pada unsur pimpinannya.

Setelah melahirkan banyak figur militer, kini dari wilayah tradisi Banyumasan, telah lahir seorang Presiden RI, yaitu Prabowo Subianto, yang sebelumnya juga dikenal baik sebagai tokoh militer.

Dua adik Pak Cum juga bergabung sebagai anggota TNI di masa awal republik, yakni Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna (Akademi Militer Tangerang) Soejono Djojohadikusumo.

Sayang sekali, keduanya terlalu cepat pergi, dan secara kebetulan juga meninggal bersamaan, sungguh kenyataan yang berat bagi Pak Cum dan ayah Pak Cum (RM Margono Djojohadikusumo, pendiri BNI 1946).

Dua adik Pak Cum gugur dalam pertempuran yang kemudian hari dikenang sebagai "Peristiwa Lengkong" (25 Januari 1946). Lokasi peristiwa tidak jauh dari kompleks perumahan Bumi Serpong Damai (BSD).

Sebagai kenangan terhadap kedua adiknya yang gugur di medan juang, Pak Cum kemudian mengambil nama kedua almarhum untuk diterakan pada kedua anak lelakinya, masing-masing Subianto untuk Prabowo, dan Sujono untuk Hashim (Hashim Sujono Djojohadikusumo).

Sebagai pengusaha, Hashim juga tidak lepas dari tradisi Banyumasan, ketika holding perusahaannya diberi nama Tirta Mas Group.

Tirta Mas sendiri semacam "nickname" untuk kawasan dan kultur Banyumas. Sementara Prabowo mengikuti jejak kedua almarhum pamannya, dengan memilih karir sebagai tentara.

Sebagai orang asli Kebumen, bagi Pak Cum selalu ada tempat bagi segala yang berhubungan dengan Banyumas.

Saat masih hidup, jika Pak Cum akan menulis buku atau produk intelektual lainnya, dan sekiranya memerlukan konsentrasi tinggi, Pak Cum lebih nyaman menulis di Kebumen, ketimbang di rumah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Rumah Kebayoran Baru sekarang menjadi kediaman pribadi Prabowo. Di masa lalu, Pak Cum juga tercatat sebagai sesepuh paguyuban Seruling Mas (Seruan Eling Banyumas), sebuah komunitas kekerabatan warga asal (kultur) Banyumas di Jakarta.


Sarwo Edhi ke Prabowo

Sebagai satuan elite, wajar bila Kopassus selalu menjadi sorotan, baik oleh elite politik (sipil) maupun masyarakat awam.

Masyarakat bisa menjadi saksi bahwa salah satu fenomena Kopassus yang sangat menonjol adalah secara kelembagaan banyak melahirkan figur-figur karismatik yang ikut memberi warna pada politik Indonesia kontemporer.

Tidak berlebihan rasanya bila dikatakan, dua pimpinan Kopassus yang paling diingat masyarakat adalah Sarwo Edhi Wibowo (1964-1966) dan Prabowo Subianto (1995-1998).

Sebagaimana dapat dilihat hari ini, ketika beberapa mantan Komandan Korps Baret Merah mengisi panggung politik terkait pilpres dengan peran masing-masing.

Sebut saja Agum Gumelar (Akmil 1968), Prabowo Subianto (1974), Muchdi Purwoprandjono (Akmil 1970), dan Lodewijk Paulus (Akmil 1981).

Perilaku politik para mantan Danjen Kopassus atau figur kuat lainnya bisa jadi merupakan kajian menarik tersendiri.

Salah satu yang mengemuka adalah berkat kompetensi dan kemampuan yang melekat pada mereka, para mantan pimpinan Korps Baret Merah harus mencari palagan lain untuk menyalurkan tenaga dan pikiran. Mereka tidak mungkin berada di pasukan selamanya.

Sarwo Edhi, misalnya, selain dikenal sebagai komandan pasukan elite, juga memberikan kontribusi pada transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, dengan mendukung Gerakan Mahasiswa Angkatan 1966.

Setelah tidak terlalu aktif di militer, Sarwo Edhi bertugas sebagai Dubes (pertama) RI di Korsel, kemudian berlanjut sebagai Kepala BP7 dan salah satu dirjen di Kemenlu (Direktur Jenderal Politik Luar Negeri).

Hanya saja, karir Sarwo Edhie kurang berkembang di TNI, namun lebih ke birokrasi sipil. Baik juga disampaikan salah satu pengalaman yang sangat membekas pada Prabowo, mengapa dia begitu cinta pada dua satuan yang pernah dipimpinnya, Kopassus dan Kostrad.

Saat Prabowo baru saja bergabung di Kostrad, dalam posisi sebagai Wakil Komandan Batalyon Lintas Udara 328/Kujang II Kostrad, terjadi peristiwa penting yang sangat berpengaruh pada sikap dan pemikiran Prabowo.

Peristiwa dimaksud adalah upacara penggantian baret, dari Baret Merah (Kopassus) menjadi Baret Hijau (Kostrad) di Makassar, pada pertengahan tahun 1985. Pergantian baret ini dampak dari reorganisasi Kopassus, yang implementasinya berupa perampingan jumlah anggota.

Pada fase ini, peran perwira senior Kopassus, salah satunya adalah Prabowo, sangat menentukan, dengan menguatkan spirit para anak buahnya, yang sekiranya tidak lolos seleksi ulang sebagai anggota Kopassus.

Bagi anggota Kopassus yang tidak lolos seleksi ulang, kemudian dipindahkan sebagai anggota generasi pertama Brigade Infanteri Lintas Udara 3 Kostrad, yang bermarkas di Makassar.

Satuan ini sampai sekarang masih berdiri, dan menjadi inti dari Divisi Infanteri 3 Kostrad. Peristiwa yang sangat mengharukan akhirnya terjadi, ketika para anggota Kopassus berjongkok untuk melepas baret merah, lambang prajurit para komando, kemudian menggantinya dengan Baret Hijau, atribut pasukan lintas udara.

Baca juga: Menko Airlangga silaturahmi dengan Menhan Prabowo
Baca juga: Kunjungan Sandiaga Uno merupakan semangat rekonsiliasi politik


Sungguh realitas yang berat, harus melepas baret kebanggaan, banyak di antara prajurit yang melakukannya dengan mata berkaca-kaca, bahkan meneteskan air mata. Sebagai prajurit, mereka tetap taat melaksanakan perintah, betapa pun beratnya perintah tersebut.

Pada situasi kritis seperti inilah, kemampuan pemimpin benar-benar diuji, seperti narasi di awal tulisan ini.

*) Dr Taufan Hunneman adalah dosen di UCIC, Cirebon