Korban meninggal akibat gempa susulan di Mataram lima orang

id Gempa Lombok,Kota Mataram

Warga korban gempa bersiap melaksanakan salat Jumat di pengungsian Desa Sigarpenjalin, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat (10/8/2018). Korban gempa Lombok hingga saat ini masih memilih tinggal di pengungsian karena rumah mereka hancur akibat gempa. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/foc/18.

Dengan demikian, total korban gempa bumi di Kota Mataram tercatat sebanyak 11 orang
Mataram (Antaranews NTB) - Pemerintah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mencatat jumlah korban meninggal dunia korban gempa bumi susulan 6,2 skala richter (SR) pada Kamis (9/8) siang, sebanyak lima orang.

"Dengan demikian, total korban gempa bumi di Kota Mataram tercatat sebanyak 11 orang," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram H Effendi Eko Saswito di Mataram, Jumat.

Berdasarkan data dari posko penanganan bencana pemerintah kota menyebutkan, sebanyak lima orang korban meninggal dunia akibat gempa susulan itu adalah?Erna Wati (47) dari Lingkungan Karang Baru, meninggal karena tertimpa bangunan kanovi, Hj Maemunah (70) dari Lingkungan Tembelok dan Ni Luh Renpi dari Lingkungan Dasan Sari meninggal karena serangan jantung.

"Hj Maemunah dan Ni Luh Renpi ini mengalami syok karena gempa susulan 6,2 SR," ujarnya.

Sementara dua korban lainnya, yakni Ainsa (70) dari Lingkungan Pengempel dan Zulhadi (35) dari Lingkungan Dasan Sari meninggal karena tertimpa tembok.

"Pemerintah kota, tetap akan memberikan santunan bela sungkawa bagi keluarga korban yang ditinggalkan seperti halnya enam korban gempa bumi 7,0 SR," katanya.

Eko begitu Sekda Kota Mataram ini akrab disapa mengatakan, gempa susulan pada 6,2 SR, juga menyebabkan terjadinya peningkatan terhadap jumlah pengungsi di Kota Mataram hingga lebih 50 persen.

Di mana dari 39 ribu jiwa lebih, menjadi 66.674 jiwa, para pengungsi ini sebagian karena rumahnya rusak, tetapi rata-rata warga yang mengungsi karena mereka tidak berani kembali ke rumah pascagempa.

"Tetapi memang kita juga mengimbau masyarakat untuk tidak berada di dalam rumah, jadi mau tidak mau mereka berada di luar rumah," katanya.

Menurutnya, pengungsi yang ada di Kota Mataram bukan pengungsi permanen seperti kasus-kasus seperti korban gempa bumi di Kabupaten Lombok Utara, karena bangunan rumah mereka dan fasilitas umum runtuh total.

"Kalau pengungsi di Mataram hanya untuk penyelamatan sementara, sehingga jumlah pengungsi di malam hari meningkat signifikan," katanya. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar