Kementerian PUPR latih 560 tenaga konstruksi Risha

id Kementerian PUPR,Latih 560 tenaga kontruksi,Risha,Gempa Lombok

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin pada acara pelatihan Tenaga Terampil Konstruksi RISHA di Mataram, Kamis (4/10). (Foto Antaranews/Iman).

Kami memahami keinginan masyarakat untuk membangun rumah dengan caranya sendiri. Apakah konvensional, Risha atau yang lain. Namun, pilihan Risha adalah yang terbaik karena lebih sederhana, murah dan cepat
Mataram (Antara) - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melatih 560 orang tenaga kerja kontruksi untuk membangun Rumah Instan Sederhana dan Sehat (Risha) yang rusak pascagempa bumi beruntun yang mengguncang Nusa Tenggara Barat akhir Juli hingga Agustus 2018.

"Para tukang yang kita latih ini untuk klasifikasi pembesian, beton, dan instalasi untuk membangun Risha," kata Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanuddin pada acara pelatihan Tenaga Terampil Konstruksi RISHA di Mataram, Kamis.

Ia mengatakan, para tukang yang dilatih tersebut merupakan masyarakat setempat yang berasal dari sejumlah daerah terdampak gempa di Lombok, seperti Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Timur, Lombok Utara dan Lombok Tengah. Nantinya, para tukang inilah yang bertugas untuk mengawal pembangunan Risha di Lombok.

"Jadi mereka ini kita latih secara bertahap dan sifatnya berkelanjutan, sehingga bisa lebih terampil dan pada saatnya siap membangun rumah yang berteknologi tahan gempa," jelasnya.

Syarif Burhanuddin, menyebutkan total rumah rusak pascagempa di Lombok yang di data Kementerian PUPR sebanyak 83.800 unit rumah. Dari jumlah itu, baru sebanyak 1.800 unit rumah yang ingin di bangun dengan teknologi Risha. Sementara yang lain masih memilih rumah dengan konsep konvensional.

"Kami memahami keinginan masyarakat untuk membangun rumah dengan caranya sendiri. Apakah konvensional, Risha atau yang lain. Namun, pilihan Risha adalah yang terbaik karena lebih sederhana, murah dan cepat," ucap Syarif.

Menurutnya, pemerintah sendiri telah mengusulkan rumah warga yang terdampak gempa di Lombok di bangun dengan teknologi Risha. Di mana teknologi menggunakan sistem pembangunan secara "knock down" terdiri dari panel-panel pracetak sebagai komponen struktural yang dapat dirakit menjadi bangunan rumah.

"Ini makanya kita melatih sehingga terampil dan pada saatnya untuk bisa membangun rumah yang berteknologi tahan gempa," tukasnya.

Syarif menjamin melalui teknologi ini kualitas mutu lebih terjamin, terukur dan terkonsentrasi pada proses produksinya. Konsumsi bahan material juga lebih hemat sekitar 60% sehingga lebih ramah lingkungan.

"Pembangunannya bisa dikembangkan secara horizontal maupun vertikal hingga dua lantai," katanya.

Menilik pada peta zonasi gempa terbaru tahun 2017, wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa masuk dalam zona paling rawan.

Risha ini cocok dengan kondisi Lombok yang rawan gempa, karena teknologi ini lebih tahan terhadap gempa. Selain itu, penggalakan teknologi Risha dapat mendorong terbukanya peluang lapangan pekerjaan baru bagi UKM terutama di sektor industri komponen bahan bangunan.

Berdasarkan hasil perhitungan sementara pada wilayah terdampak gempa di Provinsi NTB, kebutuhan unit Rieha untuk fasos, fasum dan rumah tinggal sudah melewati angka 90.000 unit.

"Ke depannya diharapkan masyarakat yang turut aktif dalam program ini tidak hanya mengikuti program pelatihan namun juga uji kompetensi dan uji sertifikasi hingga mendapatkan sertifikasi kompetensi, sehingga mampu membangun kembali Lombok dan meningkatkan nilai perekonomian wilayah Lombok dan sekitarnya," tandas Syarif. (*).
Pewarta :
Editor: Nur Imansyah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar