Puluhan santri belajar pariwisata di Gili Gede

id Gili Gede,Sekotong,Lombok Barat

Para santri/santriwati Pondok Pesantren Subulussalam, turun dari kapal di pinggir pantai Gili Gede, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, NTB, Minggu (3/11). (Foto Antaranews NTB/Awaludin)

Tentu kita sebagai santri yang di pondok pesantren bukan berarti tidak boleh berkecimpung di dunia pariwisata
Lombok Barat (Antaranews NTB) - Sebanyak 40 santri/santriwati Pondok Pesantren Subulussalam belajar tentang industri pariwisata di Gili Gede, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu.

Pondok Pesantren Subulussalam bekerja sama dengan pemilik Tamarind Hotel Gili Gede, H. Abubakar Abdullah, dalam mengedukasi para santri/santriwati tentang berbagai potensi dan manfaat industri pariwisata.

Kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Subulussalam, Rahmat Hidayat, mengatakan pihaknya mengajak santri/santriwati melihat dunia pariwisata khususnya di Gili Gede, Kecamatan Sekotong, agar memiliki wawasan luas tentang potensi di bidang pariwisata.

"Tentu kita sebagai santri yang di pondok pesantren bukan berarti tidak boleh berkecimpung di dunia pariwisata. Mari bersaing dengan sekolah lain membangun pariwisata di Sekotong," katanya.

Sementara itu, Pemilik Hotel Tamarind Hotel Gili Gede, H. Abubakar Abdullah, mengatakan pihaknya memberikan ruang bagi seluruh sekolah atau madrasah untuk datang belajar tentang pariwisata.

Kunjungan juga dimanfaatkan untuk memotivasi para generasi muda untuk bisa jadi bagian dari pelaku sejarah pariwasata Sekotong, sehingga tidak menjadi penonton di daerah sendiri.

Menurut dia, edukasi kepada para santri/santriwati pondok pesantren sangat perlu dilakukan agar mereka memiliki cara pandang yang luas tentang industri pariwisata.

"Cara pandang kita harus dari semua sisi. Jangan pandang pariwisata sebagai sesuatu yang menyeramkan dan berdampak negatif bagi budaya masyarakat lokal," ujarnya.

Dengan media pariwisata, lanjut dia, manusia bisa saling mengenal, baik dari Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Ajaran untuk saling mengenal keragaman dalam berbagai hal yang positif juga diajarkan dalam Islam.

Islam juga mengajarkan agar memanfaatkan potensi-potensi sumberdaya alam di daerah yang bisa dipromosikan untuk mendatangkan wisatawan dari berbagai penjuru dunia sebanyak-banyaknya.

Dengan begitu, kata Abu, pariwisata bisa mendatangkan manfaat sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umat manusia dengan tetap memelihara aspek-aspek kultur budaya.

"Potensi Sekotong mulai dari puncak bukit ada emas hingga dasar laut ada mutiara. Tapi yang kelola bukan kita, tapi orang luar. Bukan berarti kita anti pada orang asing, tapi jadikan mereka tempat belajar," ucap Abu yang merupakan satu-satu pengusaha lokal yang mengembangkan usaha penginapan skala kecil-kecilan di Gili Gede.

Gili Gede adalah sebuah pulau kecil yang terletak 500 meter di sebelah barat laut Pulau Lombok, dan berada di wilayah administratif Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Pulau yang memiliki panjang 4 kilometer tersebut merupakan pulau paling besar di antara 12 gugusan pulau-pulau di Kecamatan Sekotong, dan banyak dikunjungi wisatawan asing setiap tahunnya. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar