Khazanah Islam di Kota Tua Ampenan

id madrasah,kota tua ampenan

Madrasah Al Ittihadul Islamiyah di Kampung Melayu, Ampenan, merupakan sekolah tertua di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). (Foto: Mubarrok) (/)

Adanya akulturasi budaya itu, secara tidak langsung menambah khazanah dunia Islam di kawasan itu
Sekilas bangunan Madrasah Al Ittihadul Islamiyah tidak berbeda jauh dengan Sekolah Dasar pada umumnya. Di pintu gerbangnya, terpampang tulisan nama sekolah di pelat baja bercat warna hijau yang sudah berkarat karena terkena hujan dan panas terik.

Sekolah itu di Jalan Lumba-Lumba Nomor 7, Lingkungan Melayu, Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat atau tepatnya masih di satu kawasan Kota Tua Ampenan.

Siapa sangka sekolah itu bisa dikatakan cikal bakal dunia pendidikan di Pulau Lombok karena didirikan pada 1930, jauh sebelum berdirinya sekolah di Pancor, Kabupaten Lombok Timur.

"Madrasah ini adalah sekolah pertama yang didirikan di Lombok sebelum ada sekolah-sekolah lain," kata Muhammad Ramli Alam, Kepala Madrasah Al Ittihadul Islamiyah.

Sekolah ini didirikan pada 1930 oleh Saleh Harharah yang berasal dari jazirah Arab. Saat itu nama sekolah tersebut akrab dengan sebutan sekolah Arab.

Data yang didapat Antara, pada 1946 setelah kemerdekaan, murid sekolah ini berjumlah 82 anak, terdiri atas 64 putra dan 18 putri.

Sudirman, guru di madrasah tersebut, mengatakan sejak pembangunan madrasah ini, wilayah Ampenan menjadi terkenal dengan kemajuan bidang pendidikannya, saat daerah lainnya di NTB masih belum berkembang bidang itu.

Madrasah Al Ittihadul Islamiyah telah mencetak orang-orang besar yang bukan hanya suskes di dalam negeri akan tetapi juga di luar negeri.

Kendati demikian, ia menyayangkan madrasah tersebut saat ini kurang diperhatikan oleh pemerintah, termasuk yayasan.

Padahal, madrasah ini yang paling tertua dan cikal bakal pendidikan di Lombok.

Keberadaan madrasah itu, menambah khazanah Islam di kawasan Kota Tua Ampenan. Kota Tua Ampenan dahulunya suatu kawasan pelabuhan yang digunakan Pemerintah Kolonial Belanda pada 1896, setelah tentara Kerajaan Belanda menaklukkan Kerajaan Mataram melalui Ekspedisi Lombok pada 1894.

Selayaknya kota pelabuhan, di sinilah terjadi akulturasi budaya, di mana ada pendatang dari Sumatera yang akrab dipanggil Orang Melayu, Bugis, Arab, dan keturuan Tionghoa, hingga membentuk suatu perkampungan.

Sampai sekarang, di kawasan Kota Tua Ampenan itu, terdapat Kampung Melayu, Kampung Bugis, Kampung Arab, dan Kampung China atau Pecinan. Kampung China menguasai roh perekonomian kawasan tersebut zaman baheula, hingga tidak heran komunitas mereka, rumahnya berada di pinggir jalan dengan membuat bangunan serupa rumah toko.

Kendati demikian, hubungan sesama suku tersebut terjalin harmonis sampai sekarang. Bahasa untuk berkomunikasi di kawasan Kota Tua Ampenan menggunakan campuran bahasa Melayu sehingga dapat dikatakan bahasa Ampenan berbeda dengan bahasa di luar kota tua yang menggunakan bahasa Sasak.

Adanya akulturasi budaya itu, secara tidak langsung menambah khazanah dunia Islam di kawasan itu, seperti adanya Masjid Jami Lebai Sandar.



Menjejakkan Kaki

Kisahnya berawal dari seorang pendakwah berasal dari Palembang, Sumatera Selatan bernama Lebai Sandar, yang menjejakkan kakinya di tanah Lombok, di Pelabuhan Ampenan yang saat ini dikenal sebagai kota tua di pusat pemerintahan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Lebai Sandar harus berjuang menyebarkan agama Islam saat masyarakat daerah itu masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme. Hingga akhirnya berdirilah Masjid Jami Lebai Sandar di Lingkungan Dayan Peken untuk kegiatan syiar Islam.

Namun, tidak ada catatan yang pasti kapan Lebai Sandar menginjakkan kakinya di Pelabuhan Ampenan. Dari jejak tulisan di masjid, tertulis dirikan pada 17 Agustus 1904 namun bagi orang tua dahulu itu tanggal pembangunan renovasi tahap dua.

Sahlanuddin, pengurus Masjid Lebai Sandar yang mengaku juga keturunan keenam dari Lebai Sandar, menyebutkan dari cerita para orang tua, dahulunya masjid itu masih berdinding tanah dan beratap alang-alang.

"Persis seperti Masjid Kuno Bayan Beleq di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara," katanya.

Kini, Masjid Jami Lebai Sandar sudah berupa bangunan modern dan jejak bangunan masa lalunya sudah tidak ada yang tersisa.

Bagi warga setempat, Masjid Lebai Sandar dipercaya menjadi awal syiar Islam di daerah Pelabuhan Ampenan.

Saat ini, sejumlah peninggalan dari Lebai Sandar masih diimpan dengan baik oleh pengurus masjid, seperti piring, gelas, nampan, manuskrip Al Quran, serta tongkat dan mimbar masjid yang digunakan Lebai Sandar kala itu.

Sebenarnya, Lebai Sandar tidak seorang diri tiba di Lombok, namun bersama adiknya yang dikenal dengan nama Lebai Sari. Lebai Sari inilah yang menjadi penyebar Islam di Desa Kediri, Kabupaten Lombok Barat.

Kala itu, Lebai Sandar memilih berpisah dengan kakaknya yang menyebarkan Islam di daerah Ampenan dan sekitarnya. Jejak peninggalan Lebai Sari sampai sekarang dapat terlihat, di mana daerah Desa Kediri dikenal sebagai Kota Santri, mengingat banyaknya pondok pesantren.

Lebai Sari menikah di Desa Kediri memiliki seorang anak yang keturunannya saat ini berada di Kediri dan Ampenan, sedangkan kakaknya, Lebai Sandar, menikah dengan perempuan asal Pulau Sumbawa namun tidak dikaruniai anak.

Jika mengacu kepada keterangan Sahlanuddin, bahwa dirinya merupakan generasi keenam dari Lebai Sandar, maka bisa dikatakan Lebai Sandar menjejakkan kakinya di Ampenan pada 1659. Memang tidak ada catatan tertulis keberadaan Lebai Sandar dalam mensyiarkan Islam di kawasan Ampenan tersebut.

Muhammad Shafwan dalam bukunya Ampenan Kota Tua, menyebutkan kedatangan Lebai Sandar dan Lebai Sari di Pulau Lombok, menjadi tonggak baru perjalanan penyebaran Islam.

"Sebagai wilayah yang heterogen, Ampenan gampang menerima kehadiran orang lain yang datang dari berbagai penjuru, termasuk kehadiran kedua tuan lebe tersebut," katanya.

Disebutkan, di tengah masyarakat yang memegang tradisi lokal yang kental dengan pengaruh Hindu-Bali, Lebai Sandar diam-diam melakukan dialog, menyampaikan pesan, dan dakwah Islam, baik secara perilaku maupun penyampaian tausiyah.

Dakwah dilakukan secara tekun dan sabar sehingga banyak warga yang tertarik dan menjadi pengikutnya.

Diceritakan pula, upaya syiar Islam itu tidak mudah dan sempat mengalami kendala karena kedatangan Lebai Sandar itu tercium Raja Bali yang berkuasa saat itu.

"Spontan kegiatan penyebaran pun mulai dilarang. Tidak tanggung-tanggung, penggunaan terompah yang biasa dipakai para pengikutnya untuk berwudlu dilarang keras untuk digunakan," katanya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar