Asramza: Kisah di balik jemuran

id Asramza,Kisah di balik jemuran,pondok pesantren,persahabatan Oleh Faida Aulia Hakim *)

Asramza: Kisah di balik jemuran

Ilustrasi - Tiga santriwati sedang ngobrol di asrama pondok pesantren (ANTARA/HO-ChatGPT)

Jombang (ANTARA) -

“Mereka baik, asal kita nggak ganggu.”

Itu kalimat yang selalu Fii ucapkan setiap kali ada yang bertanya tentang kehidupan di pondok pesantren. Fii adalah salah satu santriwati di Pondok Pesantren Asramza--bukan nama sebenarnya.

Pesantren itu khusus putri, bangunannya tidak besar, tapi suasananya hangat seperti rumah kedua. Di sana, setiap pagi terdengar suara lantunan ayat-ayat Al-Qur’an, suara sandal yang berjalan cepat menuju musala, dan tawa pelan para santri yang saling bercanda meski lelah. Sederhana, tapi penuh cerita.

Di pesantren itu, Fii tinggal bersama tiga sahabat dekatnya, yakni Sheila, Anin, dan Nisa. Mereka berempat nyaris tak terpisahkan dalam suka maupun duka, menghadapi suka cita, hukuman, dan cerita-cerita unik khas kehidupan santri.

Persahabatan mereka sudah terjalin sejak lima tahun lalu, sejak pertama kali nyantri di pondok. Kini, mereka sudah duduk di kelas 11 SMA.

Banyak kenangan lucu, haru, bahkan aneh yang mereka alami selama tinggal di asrama, mulai dari kena takziran atau sanksi ringan karena hal sepele, ketahuan ngobrol sama santri cowok lewat pagar, sampai pengalaman mistis yang bikin bulu kuduk merinding.

Malam itu, di tengah suasana tenang pondok, Anin membuka percakapan.

“He, rek, kene lho! Lapoan yo kayak wong bambong neng kamar terus (He, teman, ke sini dong! jangan kayak orang sombong di kamar terus),” katanya sambil melongok dari pintu kamar.

Sheila tertawa, “Oo, ke jemuran aja yuk? Malam-malam gini seger, sekalian refreshing.”

“Serius, Nin? Emang boleh?” sahut Fii agak khawatir.

“Nanti kalau ketahuan pengurus gimana?” timpal Nisa.

“Gak papa asal nggak ganjil orangnya. Yuk, biar nggak bosen!” ajak Anin mantap.

Akhirnya, mereka bertiga setuju. Dengan langkah pelan, keempat santriwati itu berjalan menuju jemuran di belakang asrama.

Saat menuruni tangga, mereka berpapasan dengan Mbak Pembina.

“Mau ke mana kalian malam-malam?” tanya Mbak Pembina dengan nada tenang tapi tajam.

“Ini, Mbak, mau ke kopsis (koperasi siswi)... tapi lewat pintu jemuran,” jawab Anin gugup.

“Lewat jemuran? Kan bisa lewat lobi,” sahut sang pembina heran.

Anin cepat-cepat mencari alasan, “Soalnya sandal kami ada di jemuran, Mbak. Tadi abis nyuci biar nggak ketuker.”

Mbak Pembina menghela napas. “Ya sudah, tapi habis itu langsung balik kamar, ya.”

“Siap, Mbak! Terima kasih!” jawab mereka kompak.

Sampai di jemuran, udara malam terasa lembut. Di pojok area itu, tampak tangga besi berwarna hitam menuju ruang kecil tempat tandon air.

“Wah, ke atas yuk, pengen liat pemandangan!” kata Sheila bersemangat.

“Jangan, bahaya!” cegah Nisa.

Namun Sheila dan Anin sudah lebih dulu menapaki tangga, tak peduli dengan peringatan itu.

Fii yang tertinggal di bawah tiba-tiba melihat sosok seseorang di sudut jemuran. Perempuan itu memakai gamis putih dan kerudung panjang, berdiri membelakangi mereka.

“Hei… kowe sopo? Ojok meden-medeni, lho… (Hei kamu sikapa, jangan menakuti lho)” panggil Fii dengan nada gemetar.

Sosok itu diam saja.

Fii memberanikan diri mendekat. Saat tangannya menyentuh bahu sosok itu, tiba-tiba perempuan itu berbalik.

“Hi, Fii... senang bertemu denganmu...” suaranya berat dan menyeramkan.

Fii menjerit histeris lalu pingsan seketika.

Nisa yang menyadari Fii tak ada di sampingnya langsung panik. Ia berlari keliling jemuran dan menemukan Fii tergeletak tak sadarkan diri.

“Fii! Fii, tangi (bangun)! Kenapa kamu?” teriak Nisa sambil menangis.

“Sheilaaa! Aninnn! Fii pingsan!! Tolong!!”

Sheila dan Anin di atas tangga mendengar jeritan itu. Mereka langsung turun tergesa-gesa.

“Nis, Fii di mana?” tanya Sheila cemas.

“Ini, lihat! Dia pingsan! Kalian sih malah main di atas!” Nisa setengah marah sambil terisak.

Mereka bertiga akhirnya menggendong Fii pelan-pelan agar tidak ketahuan pengurus. Di tengah jalan, mereka bertemu adik kelas bernama Iren.

“Dek, jangan bilang siapa-siapa ya,” bisik Sheila cepat.

Iren hanya mengangguk ketakutan melihat wajah Sheila yang tegang.

Di kamar, mereka menidurkan Fii di kasur. Nisa mengolesi minyak kayu putih ke keningnya, sementara Anin memijit pelan kaki Fii.

“Ya Allah, kenapa bisa kayak gini…” bisik Nisa.

Beberapa menit kemudian, Fii membuka mata dengan keringat dingin membasahi wajahnya.

“Rek... kalian nggak apa-apa, kan?” suaranya lemah.

“Kami? Justru kamu yang pingsan, Fii! Kenapa sih?” tanya Sheila bingung.

“Besok aja aku cerita... aku takut kalau sekarang,” jawab Fii lirih.

Akhirnya mereka sepakat untuk istirahat. Kamar menjadi tenang.

Keesokan harinya, pukul 04.10, bel salat subuh berbunyi. Mereka bangun dengan mata masih berat. Seusai wudu, mereka menuju aula untuk salat berjemaah dan istighosah.

Di tengah doa, Sheila tak tahan rasa penasaran.

“Fii, cerita dong tentang semalam,” bisiknya.

Fii melirik sebal. Dalam hatinya ia menggerutu, “Ya Allah, anak iki kok ngajak ngomong pas istighosah, wong gendeng (Ya Allah anak ini kok ngajak bicara saat istighosah, orang gila)!”

Usai salat dan doa, mereka kembali ke kamar. Sheila langsung menyerbu Fii dengan pertanyaan. Akhirnya Fii menyerah.

“Aku lihat sosok di pojok jemuran semalam,” katanya pelan.

“Sosok itu bukan manusia, tapi arwah salah satu santri Pak Kiai yang dulu meninggal…”

Ketiganya terdiam.

Fii melanjutkan ceritanya:

“Waktu aku pingsan, aku kayak dibawa ke tempat lain. Di sana, aku lihat seorang adik tingkat, namanya Eris lagi dibully sama mbak-mbak tingkatnya. Katanya, dia sering dijambak, dilempari pasir, sampai pingsan di jemuran.”

Fii menelan ludah sebelum meneruskan, “Eris itu dulu santri yang cantik, rajin, dan berprestasi. Tapi karena banyak yang iri, dia disakiti sampai akhirnya meninggal. Dan malam itu… aku rasa arwahnya masih ada di sana, di jemuran itu.”

Ketiga temannya saling pandang. Suasana kamar mendadak sunyi. Angin pagi menyelinap lewat jendela, menimbulkan desiran lembut yang entah kenapa terasa mencekam.

Sheila menatap Nisa dan Anin, lalu berbisik pelan.

“Mungkin... malam itu, kita nggak cuma berempat di jemuran.”

Sejak malam itu, tak ada lagi yang berani naik ke jemuran bagian atas tanpa izin pengurus. Fii dan teman-temannya belajar satu hal penting bahwa pondok bukan hanya tempat menuntut ilmu, tapi juga tempat belajar menghargai, saling menjaga, dan tidak menyepelekan perasaan orang lain.

*) Penulis adalah siswi kelas IX MTs di salah satu pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur


Catatan redaksi:
Cerpen ini menggambarkan kehidupan santriwati di pondok pesantren yang diwarnai persahabatan, kenakalan kecil, dan pengalaman mistis. Dengan gaya bahasa remaja yang ringan, kisah “Asramza” menegaskan pentingnya empati dan tanggung jawab di antara sesama santri.


Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.