Dampak gempa, laju pertumbuhan ekonomi Mataram turun

id Wali Kota Mataram

Wali Kota Mataram, Provinsi NTB, H Ahyar Abduh. (1) (1/)

Mataram (ANTARA) - Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh mengatakan, salah satu dampak bencana gempa bumi pada 2018 terhadap pertumbuhan ekonomi adalah pada akhir tahun anggaran 2018 laju pertumbuhan ekonomi Mataram menurun dari tahun sebelumnya sebesar 8,11 persen menjadi sebesar 6,42 persen.

"Hal ini disebabkan menurunnya kontribusi sektor pariwisata dan sektor-sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang dan keterkaitan ke depan," katanya di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis.

Hal itu disampaikan Wali Kota Mataram saat membacakan pidato Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) akhir tahun anggaran 2018 dalam sidang paripurna di gedung DPRD Kota Mataram yang dihadiri seluruh anggota dewan, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan pihak-pihak terkait lainnya.

Wali kota mengatakan, penurunan laju pertumbungan ekonomi dari sektor pariwisata seperti sektor usaha penyediaan akomodasi dan makan minum, pada  Agustus sampai dengan Desember 2018, tidak hanya di Kota Mataram namun di  Nusa Tenggara Barat secara keseluruhan.

Meskipun demikian, angka ini masih di atas angka pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat sebesar 4,56 persen dan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,17 persen.

Sementara itu, sambung Wali Kota, angka produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita Kota Mataram atas dasar harga konstan terus naik selama 4 tahun terakhir dan pada  2018 tercatat sebesar Rp27,8 juta lebih.

Di sisi lain laju inflasi relatif berhasil dikendalikan, dimana pada 2018 berada pada angka 3,15, masih sesuai dengan target yang ditetapkan dalam RKPD sebesar empat plus minus satu.

Begitupun di sektor ketenagakerjaan, menurutnya, kondisi ketenagakerjaan di Kota Mataram sedikit mengalami penurunan akibat dampak bencana gempa bumi.

Meskipun demikian, tingkat partisipasi angkatan kerja masih cukup bagus yaitu berada pada angka 69,29 persen, dengan tingkat kesempatan kerja 93,28 persen.

"Komitmen meningkatkan kesejahteraan masyarakat pun ditunjukkan dengan menetapkan upah minimum kota tahun (UMK) 2018, Rp1.885.637," katanya.

Ia menambahkan, akibat bencana gempa bumi, masyarakat Kota Mataram terdampak dengan adanya kerusakan pada ribuan rumah, serta pada jaringan distribusi air bersih.

Total rumah rusak sebanyak 13.437 unit, terdiri atas 2.396 rumah rusak berat, 2.777 rumah rusak sedang, dan 8.264 rumah rusak ringan.
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar