GFJA dan PFI memberikan bantuan korban gempa Lombok

id Gempa Lombok,Bantuan Gempa

Ketua AJI Mataram Sirtupillaili (kedua kiri) disaksikan Ketua Forum Wartawan Pariwisata NTB Sigit Setyo Lelono (kiri) memberikan bantuan secara simbolis untuk renovasi musholla Nurul Iman yang merupakan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa Lombok di Dusun Luk, Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga, Tanjung, Lombok Utara, NTB, Jumat (9/8/2019). Bantuan kemanusiaan berupa paket tas dan alat tulis menulis untuk siswa SD, renovasi musholla, tandon air serta paket sembako bagi korban gempa di wilayah Lombok Utara, Lombok Timur dan Lombok Barat senilai total Rp50 juta yang merupakan hasil donasi dari proyek buku dan pameran foto Lombok Palu Donggala Rev!val yang diinisiasi oleh Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) bersama Pewarta Foto Indonesia.

Mataram (ANTARA) - Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) di Mataram, Jumat, memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
 
Bantuan tersebut merupakan hasil pengumpulan dana dari proyek buku dan pameran foto "Lombok Palu Donggala Rev!val".

"Ada tiga daerah di Lombok yang menjadi sasaran pemberian bantuan, yaitu Kabupaten Lombok Utara, Lombok Barat, dan Lombok Timur, senilai total Rp 50 juta. Untuk Lombok Utara, kita memberikan bantuan kepada warga Dusun Luk Timur, Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga," jelas Koordinator Lapangan Penyaluran Bantuan, Ahmad Subaidi.

Bantuan yang diberikan, tambah dia berupa buku tulis, alat tulis, tas sekolah, tandon air, sembako dan uang tunai untuk renovasi Musala Nurul Iman, Dusun Luk. "Nilainya memang kecil dan tidak seberapa, namun kami berharap semoga bisa bermanfaat," ujarnya.

Harapannya, menurut dia kegiatan kemanusiaan seperti ini bisa diikuti oleh instansi atau lembaga lain, untuk membantu kebangkitan saudara-saudara kita korban gempa agar cepat bangkit.

Sementara Saprudin, Ketua RT mewakili Kepala Dusun Luk Timur, mengucapkan terima kasih atas bantuan dari para wartawan.

"Jujur kami akui, banyak warga kami yang masih trauma. Bahkan sampai sekarang ada warga yang masih di pengungsian, atau di rumah keluarganya," ujarnya.

Dengan adanya bantuan seperti ini, sambungnya, paling tidak bisa membantu memulihkan mental warga yang terdampak bencana gempa, sehingga bisa segera bangkit dan aktifitas normal kembali.

"Saat ini, tahap pembangunan rumah kami belum optimal bisa dilakukan, masih 60 persen. Itu karena terkendala dengan bahan bangunan yang minim di lapangan. Kalaupun ada, harganya juga tinggi (mahal). Sementara di satu sisi, bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah juga terbatas," terangnya.

Persoalan lainnya, kata dia karena hampir semua warga Lombok menjadi korban gempa, dan banyak yang rumahnya juga dibangun, karena itu tukang bangunan atau pun tukang kayu sekarang menjadi langka.

"Coba lihat saja, hampir setahun gempa terjadi, bangunan rumah kami baru pondasi, tiang, dan atap saja. Mau lanjutkan pembangunan, giliran tukang yang tidak ada," lanjutnya.
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar