Polisi jadi korban pertikaian antarwarga di Bima

id Pertikaian antarwarga di Bima, anggota Polres Bima terkena sabetan benda tajam.

Kapolda NTB Brigjen Pol Mochamad Iriawan mengatakan, seorang anggota Polres Kota Bima menjadi korban sabetan benda tajam, ketika melerai pertikaian antarwarga di Bima. (Kapolda NTB Brigjen Pol Mochamad Iriawan)

"Memang ada anggota terkena sabetan saat melerai pertikaian di Bima, itu memang sudah risiko seorang polisi, sehingga kami harus sikapi dengan arif," kata Kapolda NTB Brigjen Pol Mochamad Iriawan.
Mataram (Antara Mataram) - Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) Brigjen Pol Mochamad Iriawan mengatakan, seorang anggota polisi menjadi korban pertikaian antarwarga di Kota Bima, Pulau Sumbawa, yang mencuat Senin (21/10) sore.

"Memang ada anggota terkena sabetan saat melerai pertikaian di Bima, itu memang sudah risiko seorang polisi, sehingga kami harus sikapi dengan arif," kata Iriawan, ketika dikonfirmasi wartawan di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan, meskipun sudah menjadi risiko polisi saat menjalankan tugas, namun perbuatan tersebut dikategorikan tindak pidana, sehingga patut ditempuh upaya penegakan hukum.

Kasus tersebut tengah didalami penyidik Polres Kota Bima, dan pelakunya akan ditindak sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

"Upaya penangkapan atau tindakan secara hukum harus dilakukan, kalau akar masalahnya sedang didalami," ujar Iriawan.

Insiden penyabetan senjata tajam hingga melukai jari seorang anggota Polres Kota Bima itu diawali dari pertikaian antarwarga, hingga Ketua Badan Kehormatan DRPD Kabupaten Bima, Ahmad Yani Umar, dianiaya oknum warga dari Kelurahan Rabadompu Barat, di depan RSUD Bima.

Yani menderita luka sobek pada bagian bibir dan lebam pada muka, sehingga korban harus mendapat perawatan medis.

Peristiwa itu terjadi saat korban hendak masuk di halaman RSUD Bima guna menjemput istrinya yang bekerja di rumah sakit itu. Saat melintas di depan ATM rumah sakit, tiba-tiba seorang pemuda bernama Gun yang saat itu mengendarai sepeda motor, memukul atap mobil korban hingga penyok.

Korban kemudian menghentikan mobilnya dan turun, kemudian terjadi pertengkaran hingga penganiyaan, dan korban terpaksa menjalani perawatan medis di rumah sakit itu.

Beberapa jam kemudian, muncul lagi keributan di depan RSUD Bima, karena sejumlah warga yang diduga keluarga korban datang dan menghakimi Mega selaku kakak dari Gun, pelaku penganiayaan terhadap anggota DPRD Kabupaten Bima itu.

Mega dipukuli warga menggunakan kursi, bahkan nyaris ditebas parang, kalau saja tidak dilerai oleh anggota kepolisian yang berada di lokasi.

Saat itulah jari telunjuk salah seorang anggota polisi berdarah terkena sabetan senjata tajam.

Namun, situasi tambah memanas ketika Mega dan sanak keluarga dari Rabadompu datang membantu, sehingga polisi terpaksa melepaskan tembakan peringatan.

Kini, pihak-pihak yang bertikai tengah menjalani pemeriksaan di Polres Kota Bima. (*)
Pewarta :
Editor: Anwar Maga
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar