Dinkes Mataram ajak warga konsisten gencarkan PSN

id DBD Mataram,PHBS,DBD,ISPAHujan,PSN,Nyamuk,Mataram,Nusa Tenggara Barat

Dinkes Mataram ajak warga konsisten gencarkan PSN

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Emirald Isfihan. ANATRA/Nirkomala.

Harapan kita masyarakat bisa bergotong-royong minimal sekali seminggu untuk melaksanakan PSN
Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat mengajak warga di kota ini agar konsisten menggencarkan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk memberantas jentik nyamuk demam berdarah dengue (DBD).

"Harapan kita masyarakat bisa bergotong-royong minimal sekali seminggu untuk melaksanakan PSN, termasuk di lingkungan perkantoran, sebab kita lebih banyak waktu di kantor saat pagi," kata Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr H Emirald Isfihan di Mataram, Senin.

Secara umum, lanjutnya, kondisi kebersihan di Kota Mataram saat ini sudah mulai meningkat. Hal itu dapat dilihat juga dengan terjadinya penurunan kasus DBD.

"Selama bulan Januari 2024, kasus DBD hanya tujuh kasus di wilayah Cakranegara dan Karang Pule. Tapi semuanya kini sudah sembuh," katanya.

Baca juga: Dinkes Mataram NTB meminta warga terapkan PHBS antisipasi cacar monyet

Sementara secara kumulatif, kasus DBD tahun 2023 mengalami penurunan dengan jumlah kasus 395, dan tidak ada kasus kematian, sedangkan tahun 2022 tercatat sebanyak 674 kasus DBD dengan satu kasus kematian.

"Harapan kita, tahun 2024 kasus DBD juga bisa turun signifikan dari tahun 2023," katanya.

Kendati demikian, Emirald tetap mengimbau agar masyarakat harus terus menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), melakukan gerakan 3M plus (menguras bak air, menutup, dan mengubur barang bekas), plus melakukan PSN.

Apalagi di DBD sangat identik dengan musim hujan di daerah tropis, sehingga selama musim hujan ini masyarakat juga perlu meningkatkan gerakan 3M plus, karena potensi genangan-genangan air semakin banyak.

"Selain DBD, dengan kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini, masyarakat juga harus waspada dengan potensi penyakit ISPA dengan menerapkan PHBS," katanya.

Emirald menambahkan, kasus DBD sejauh ini tidak bisa dipetakan per wilayah, karena mobilisasi masyarakat tinggi sehingga tidak bisa dipatok kejadian penularan dari dan di mana.