Sabtu, 21 Oktober 2017

Berbagi Kue Pariwisata Untuk Masyarakat Desa

id desa wisata ntb
Berbagi Kue Pariwisata Untuk Masyarakat Desa
Pantai Jambianom, Desa Medana Kabupaten Lombok Utara
Sejumlah desa di provinsi yang dikenal dengan sebutan "Bumi Gora" ini memiliki segudang potensi yang layak dikemas sebagai modal untuk mengembangkan industri pelancongan.
Pemandangan alam yang memesona dalam balutan suasana desa yang harmonis menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Nusa Tenggara Barat.

Sejumlah desa di provinsi yang dikenal dengan sebutan "Bumi Gora" ini memiliki segudang potensi yang layak dikemas sebagai modal untuk mengembangkan industri pelancongan.

Sejumlah desa di Provinsi NTB memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata. Jadi yang layak dijadikan objek wisata tak hanya pantai yang dihiasi gemerlap hotel mewah dan restoran bertaraf internasional.

Selama ini ada kesan bahwa kue pariwisata hanya dinikmati segelintir pemodal berkantong tebal. Sementara rakyat kecil di pedesaan hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.

Oleh karena itu menjadi sebuah pilihan tepat ketika Pemerintah Provinsi NTB menggagas pengembangan desa wisata dalam upaya pengembangan industri pariwisata di bumi "Seribu Masjid" ini.

Dinas Pariwisata NTB akan mengembangkan sejumlah desa wisata mulai tahun 2017. Pengembangan objek wisata akan disesuiakan dengan potensi yang dimiliki masing-masing desa.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal mengatakan, ada beberapa basic desa wisata yang akan kita kembangkan tahun ini, seperti desa wisata agro, kelautan, ekonomi kreatif dan desa budaya.

Untuk agrowisata, Dinas Pariwisata NTB akan mengembangkan kawasan Sembalun yang berada di kaki gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut.

Akhir-akhir ini nama Sembalun, di Kabupaten Lombok Timur mulai dikenal dunia setelah menyabet gelar World Best Halal Honeymoon Destination dalam ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 di Abu Dhabi, UEA.

Sembalun Lawang, adalah sebuah desa di Kecamatan Sembalun yang merupakan salah satu jalur resmi pendakian Gunung Rinjani yang cukup ramai dilalui wisatawan baik nusantara maupun mancanegara.

Sementara untuk desa wisata berbasis kelautan, Dinas Pariwisata NTB akan mengembangkan Desa Malaka di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Desa Tanjung Luar dan Desa Batunampar di Lombok Timur, serta Pulau Bungin di Sumbawa.

Karakteristik masyarakat di empat desa itu adalah nelayan yang bermukim di pesisir pantai. Khusus Desa Malaka sudah dikenal baik di tingkat nasional maupun internasional, karena kuliner ikan bakarnya yang mengundang selera.

Tempat wisata kuliner yang bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda dalam waktu sekitar 1 jam melalui jalur objek wisata Senggigi itu ramai dikunjungi wisatawan terutama saat liburan.

Sedangkan desa wisata berbasis ekonomi kreatif yang akan dikembangkan Dinas Pariwisata NTB adalah Desa Masbagik Timur dan Pringgasela di Lombok Timur dan Desa Sukarara serta Ungga di Lombok Tengah.

Desa-desa tersebut dikenal dengan produk kerajinan gerabah, tenun tradisional yang banyak dibutu para wisatawan yang berkunjung ke Lombok.

Sedangkan, desa wisata berbasis budaya yang akan dikembangkan tahun ini meliputi Desa Sade dan Desa Rembitan di Lombok Tengah. Warga di kedua desa itu hingga kini masih mempertahankan kearifan lokal yang diabadikan dengan kampung tradisional Sade dan Rembitan.

Menurut Faozal untuk mendukung pengembangan desa wisata tersebut

Dinas Pariwisata NTB mengalokasikan dana Rp1,2 miliar yang bersumber dari APBD dan APBN.

Selain itu juga menggunakan anggaran yang bersumber dari dana tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) BNI untuk pembangunan 20 homestay di desa wisata dengan rincian pembangunan satu homestay sebesar Rp15 juta.

"Kalau dengan desa wisata bisa lebih fokus masyarakat akan kita dorong untuk memajukan desanya dari sektor pariwisata," kata Faozal.



Gayung bersambut

Program desa wisata yang diinisiasi Dinas Pariwisata NTB ini bak gayung bersambut dengan masyarakat dan pemerintah desa, salah satunya adalah Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara yang berkeinginan menggarap potensi wisata pantai yang berbasis kelautan.

Kepala desa Medana Subianto Jaswadi berkeingian untuk menyulap pantai Karang Atas di Dusun Jambianom menjadi sebuah tempat wisata yang menawarkan kuliner ikan bakar segar dengan memanfaatkan kelompok nelayan yang mengelola usaha budidaya ikan laut dengan sistem keramba.

Keingian untuk mengembangkan pusat kuliner ikan laut bakar segar bagi pria yang biasa disapa Ubuh ini agaknya bukan sekedar mimpi, karena potensi ikan seger cukup melimpah yang dihasilkan kelompok nelayan pembudidaya ikan laut di perairan pantai Jambianom.

Menurut dia, objek wisata pantai di Dusung Karang Atas layak untuk dikembangkan dengan adanya kelompok keramba nelayan dan kampung nelayan Jambi Anom.

Jika ini digabungkan, kata dia, maka dua potensi ini bisa mendongkrak perekonomian masyarakat khususnya di Dusun Jambianom yang selama ini menjual hasil budidaya berupa ikan mentah dengan harga relatif murah.

Untuk mendukung program desa wisata itu ia sudah mengusulkan dana pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk pembangunan fasilitas pendukung, antara lain membuat berugak (sejenis joglo), tempat parkir, toilet dan lapak.

Dengan adanya fasilitas pendukung, dia meyakini akan memunculkan para wirausaha baru. Para nelayan di Dusun Jambianom bisa menjual ikan bakar segar hasil budidaya.

"Saya berangan-angan para nelayan bisa menjual ikan bakar yang benar-benar segar. Artinya ikan laut yang masih hidup diambil langsung dari keramba kemudian diolah menjadi ikan bakar atau masakan ikan lainnya," katanya.

Dengan adanya wisata kuliner ikan bakar segar itu Suianto Jaswadi berharap para nelayan bisa menjual ikan bakar segar seperti di Nipah, Desa Malaka, sehingga mereka tidak hanya menjual hasil tangkapan langsung.

Di Kabupaten Lombok Utara yang kini sedang gencar mengembangkan industri pelancongan agaknya tak hanya melibatkan pemerintah daerah, tetapi kelompok pemuda desa ikut ambil bagian dengan mengembangkan objek wisata yang unik dan menarik.

Di Dusun Gangga, Desa Gegelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara sekelompok pemuda membuat tempat wisata unik yang diberi nama "Rumah Pohon Anti Galau".

Rumah pohon hasil kreasi anak muda di bukit Murmas kini ramai dikunjungi wisatawan. Dari rumah pohon itu wisatawan bisa menikmati keelokan alam dan pemandangan laut yang eksotis

Menurut informasi dari pengelola rumah pohon anti galau di Dusun Gangga, pada setiap akhir pekan ratusan pengunjung yang datang menikmati keindahan alam dari atas rumah pohon.

Kreativitas para pemuda Desa Gangga kini semakin dikenal setelah dipromosikan melaui sosial media baik berupa foto maupun video. Untuk mengembangkan kreativitas para pemuda desa dalam mengembangkan objek wisata yang unik dan menarik memerlukan dukungan pemerintah daerah.

Dengan cara ini kue pariwisata tak lagi hanya dinikmati segelintir pengusaha berkantong tebal. Masyarakat desa juga akan ikut merasakan dampak kemajuan industri pelancongan di "Gumi Tiok Tata Tunak" (moto Kabupaten Lombok Utara). (*)

Editor: Masnun

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga