Berbagai "kue pariwisata" untuk kesejahteraan masyarakat

id desa wisata ntb,pariwisata ntb,kue pariwisata ,wisata alam

Rumah pohon yang dibangun di perdesaan kini kian ramai dikunjungi wisatawan untuk menikmati panorama alam di alam terbuka

Selama ini ada kesan bahwa kue pariwisata hanya dinikmati segelintir pengusaha hotel dan restoran, sementara rakyat kecil di perdesaan hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.
Mataram (Antaranews NTB) - Anggapan bahwa dampak kemajuan pariwisata hanya dirasakan segelintir pengusaha berkantong tebal agaknya tak sepenuhnya benar. Nikmatnya "kue pariwisata" mulai dirasakan sebagian masyarakat di Nusa Tenggara Barat.

Selama ini ada kesan bahwa kue pariwisata hanya dinikmati segelintir pengusaha hotel dan restoran, sementara rakyat kecil di perdesaan hanya menjadi penonton di negerinya sendiri.

Berkembangnya industri pelancongan di Provinsi Nusa Tenggara Barat membuka peluang bagi  masyarakat, termasuk di perdesaan untuk mengais rezeki kendati sekadar membuka usaha kecil-kecilan atau menjadi buruh panggul.

Di sejumlah kawasan pesisir, Kabupaten Lombok Utara, kini tumbuh usaha pengangkutan barang dengan perahu menuju objek wisata tiga gili (pulau kecil) Trawangan, Meno, dan Gili Air.

Setiap hari berbagai jenis barang, termasuk material bahan bangunan, diangkut dengan perahu ke objek wisata bahari tiga gili yang ramai dikunjungi wiwatawan mancanegara maupun nusantara itu.

Kawasan pesisir di Lombok Utara yang ramai dengan aktivitas pengangkutan barang, antara lain, Pantai Teluk Nara, Pelabuhan Bangsal, dan Pantai Tembobor di Kecamatan Pemenang.

Berbagai jenis barang yang diangkut untuk memenuhi kebutuhan hotel dan restoran di Gili Trawangan, Meno, dan Gili Air, antara lain, air mineral dan sayur-sayuran.

Selain itu, material bangunan mulai dari tanah uruk, semen, bataco, bata merah, pasir, hingga besi beton untuk membangun penginapan di objek wisata yang menjadi andalan pariwisata NTB itu.

Tidak hanya itu rumput untuk pakan ternak di objek wisata tiga gili didatangkan dari pesisir pantai Tembobor. Pasalnya, di pulau kecil tersebut warga yang memelihara ternak mengalami kesulitan mendapatkan rumput untuk pakan ternak.

Para kusir (sais) cidomo (sejenis angkutan perdesaan di Lombok) membeli rumput untuk pakan kuda penarik ciodmo dengan harga relatif cukup mahal dari luar tiga gili.

Sejatinya kemajuan industri pelancongan di "Bumi Gora" ini mulai dirasakan oleh masyarakat perdesaan, terutama yang tinggal di kawasan pesisir, kendati hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Lalu Hadir (45), warga Dusun Tembobor, Desa Pemenang Timur, Lombok Utara yang sehari-hari mengangkut barang dengan perahu ke objek wisata tiga gili mengaku mendapatkan upah yang lumayan, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari bersama keluarga.

Pada musim ramai muatan, dia mendapatkan upah Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per hari dari pemilik perahu. Ini cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap hari.

Kakek dari dua cucu ini mengaku kehidupannya saat ini jauh lebih baik daripada sebagai nelayan. Hasil dari memancing ikan tidak cukup untuk membeli beras setiap hari.

Kendati bekerja sebagai buruh perahu, Hadir mampu menghidupi keluarga, bahkan bisa membeli sepeda motor secara kredit.

Ungkapan senada disampaikan Amaq Odok (55) yang menjadi ketua puluhan buruh pengangkut material bangunan di Pantai Tembobor.

Dari hasil mengangkut material bangunan dan barang lainnya, dia mendapatkan upah Rp75 ribu hingga Rp100 ribu/orang/hari.

Sejumlah wisatawan berjemur dipinggiran pantai Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, NTB, Rabu (29/6).  OTO ANTARA/Ahmad subaidi/ss/pd/11

Sejatinya dampak kemajuan pariwisata juga mulai dirasakan buruh panggul barang di pesisir Pantai Tembobor yang sebagian besar kaum ibu.

Raden Ardi (45), warga Dusun Tembobor yang sehari-hari menjual rumput untuk pakan kuda penarik cidomo di tiga gili juga mengaku mendapatkan berkah dari kemajuan pariwisata.

Menjual rumput di objek wisata tiga gili, menurut dia, cukup menguntungkan karena harga pakan kuda di objek wisata bahari tersebut cukup mahal, mencapai Rp60 ribu s.d. Rp70 ribu/karing.

Setiap hari dia bisa menjual 15 s.d. 20 karung. Keuntungan yang diperoleh juga relatif lumayan, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keluarga.

Ungkapan dari sejumlah warga pesisir itu merupakan contoh kecil dari dampak kemajuan pariwisata di NTB. Sejatinya masyarakat kecil sudah merasakan "kue pariwiata" meski sebatas untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kemajuan industri pelancongan di bumi "Seribu Masjid" telah terbukti membuka peluang usaha. Tempat makan dengan menu ikan bakar kini menjamur di sepanjang pesisir pantai, antara lain, di Nipah, Kecamatan Pemenang.

Industri kreatif dan toko penjual oleh-oleh atau berbagai suvenir di Pulau Lombok, terutama di Kota Mataram setiap hari ramai dikunjungi wisatawan yang menggunakan bus pariwisata dari Pulau Jawa.

Desa Wisata

Ikhtiar pemerintah daerah di Provinsi NTB untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui industri pariwisata kini mulai membuahkan hasil. Namun, perlu lebih diperluas, antara lain, dengan mengembangkan desa wisata.

Sejumlah desa di Provinsi NTB memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata sekaligus mendorong peningkatan pendapatan masyarakat lokal.

Sejatinya yang layak dijadikan objek wisata tidak hanya pantai yang dihiasi gemerlap hotel mewah dan restoran bertaraf internasional.

Oleh karena itu, menjadi sebuah pilihan tepat ketika Pemerintah Provinsi NTB menggagas pengembangan desa wisata untuk menunjang kemajuan industri pariwisata di daerah setempat.

Dinas Pariwisata NTB akan mengembangkan sejumlah desa wisata mulai 2017. Pengembangan objek wisata akan disesuaikan dengan potensi yang dimiliki masing-masing desa.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal menyebutkan ada beberapa basic desa wisata yang akan dikembangkan pada tahun ini, seperti desa wisata agro, kelautan, ekonomi kreatif, dan desa budaya.

Untuk agrowisata, Dinas Pariwisata NTB akan mengembangkan kawasan Sembalun yang berada di kaki gunung Rinjani dengan ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut.

Akhir-akhir ini nama Sembalun, di Kabupaten Lombok Timur mulai dikenal dunia setelah menyabet gelar World Best Halal Honeymoon Destination dalam ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 di Abu Dhabi, UEA.

Sembalun Lawang adalah sebuah desa di Kecamatan Sembalun yang merupakan salah satu jalur resmi pendakian Gunung Rinjani yang relatif cukup ramai dilalui wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara.

Untuk desa wisata berbasis kelautan, Dinas Pariwisata NTB akan mengembangkan Desa Malaka di Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Desa Tanjung Luar dan Desa Batunampar di Lombok Timur, serta Pulau Bungin di Sumbawa.

Karakteristik masyarakat di empat desa itu adalah nelayan yang bermukim di pesisir pantai. Khusus Desa Malaka, sudah dikenal, baik di tingkat nasional maupun internasional, karena kuliner ikan bakarnya yang mengundang selera.

Tempat wisata kuliner yang bisa ditempuh menggunakan kendaraan roda dua maupun roda dalam waktu sekitar 1 jam melalui jalur objek wisata Senggigi itu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada masa libur.

Hamparan terumbu karang terlihat di pinggiran pantai kawasan wisata Gili Trawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, NTB, Senin (15/11).   FOTO ANTARA/Ahmad Subaidi/ss/ama/10. 


Desa wisata berbasis ekonomi kreatif yang akan dikembangkan Dinas Pariwisata NTB adalah Desa Masbagik Timur dan Pringgasela di Lombok Timur dan Desa Sukarara serta Ungga di Lombok Tengah.

Desa-desa tersebut dikenal dengan produk kerajinan gerabah dan tenun tradisional yang banyak diburu para wisatawan yang berkunjung ke Lombok.

Sementara itu, desa wisata berbasis budaya yang akan dikembangkan tahun ini meliputi Desa Sade dan Desa Rembitan di Lombok Tengah. Warga di kedua desa itu hingga kini masih mempertahankan kearifan lokal yang diabadikan dengan kampung tradisional Sade dan Rembitan.

Menurut Faozal, untuk mendukung pengembangan desa wisata tersebut, Dinas Pariwisata NTB mengalokasikan dana sebesar Rp1,2 miliar yang bersumber dari APBD dan APBN.

Selain itu, juga menggunakan anggaran yang bersumber dari dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) BNI untuk pembangunan 20 homestay di desa wisata dengan anggaran satu homestay sebesar Rp15 juta.

Faozal mengatakan bahwa program desa wisata masyarakat bisa lebih fokus memajukan desanya.

Di Kabupaten Lombok Utara yang kini sedang gencar mengembangkan industri pelancongan agaknya tidak hanya melibatkan pemerintah daerah, tetapi kelompok pemuda desa ikut ambil bagian dengan mengembangkan objek wisata yang unik dan menarik.

Di Dusun Gangga, Desa Gegelang, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, sekelompok pemuda membuat tempat wisata unik yang diberi nama "Rumah Pohon Antigalau".

Rumah pohon hasil kreasi anak muda di Bukit Murmas kini ramai dikunjungi wisatawan. Dari rumah pohon itu wisatawan bisa menikmati keelokan alam dan pemandangan laut yang eksotis

Menurut informasi dari pengelola rumah pohon antigalau di Dusun Gangga, setiap akhir pekan ratusan pengunjung yang datang menikmati keindahan alam dari atas rumah pohon.

Kreativitas para pemuda Desa Gangga kini makin dikenal setelah dipromosikan melaui media sosial, baik berupa foto maupun video.

Untuk mengembangkan kreativitas para pemuda desa dalam mengembangkan objek wisata yang unik dan menarik, memerlukan dukungan pemerintah daerah.

Dengan cara ini, kue pariwisata tidak lagi hanya dinikmati segelintir pengusaha berkantong tebal. Masyarakat desa juga akan ikut merasakan dampak kemajuan industri pelancongan.
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar