"Untuk kasus stunting, kami lebih memilih menggunakan data itu karena data riil yang dapat kami pertanggungjawabkan by name by address," Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mataram dr H Emirald Isfihan di Mataram, Kamis.
Pernyataan itu disampaikan, menyikapi data kasus stunting di Kota Mataram berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tercatat 8,6 persen.
Baca juga: Dinkes Mataram siap kerja ekstra turunkan stunting di bawah 5 persen pada 2024
Menurut Emirald, hasil survei tersebut tidak perlu diperdebatkan karena kalau survei dilakukan pada waktu-waktu tertentu dengan menggunakan versi berbeda sehingga tidak tahu keberadaan secara riil.
Sementara data yang digunakan Dinkes Kota Mataram dalam penetapan angka stunting adalah data riil yang dilakukan melalui e-PPGBM secara rutin pada setiap kegiatan posyandu di 325 lingkungan se-Kota Mataram.
Dengan demikian, data yang dihasilkan e-PPGBM dari posyandu langsung input dan menjadi data riil setiap bulan.
"Karena itulah, untuk angka stunting kami tetap gunakan data dari e-PPGBM karena bisa dipertanggungjawabkan dan bisa tunjukkan by name by address," katanya.
Baca juga: Dinkes Mataram buka rekening donasi intervensi stunting
Namun demikian, tambahnya, dengan adanya perbedaan itu pihaknya berharap tidak menjadi perdebatan panjang karena masing-masing memiliki versi berbeda.
Hal yang terpenting dilakukan, sambungnya, bagaimana program-program upaya percepatan kasus stunting di Kota Mataram bisa terus turun. Apalagi, akhir tahun 2024, kasus stunting di Mataram ditargetkan berada di bawah 5 persen.
"Target penurunan stunting di bawah 5 persen pada akhir tahun ini, mengharuskan kami kerja ekstra agar target itu bisa tercapai," katanya.
Baca juga: Satu kelurahan di Mataram bebas kasus stunting
Baca juga: Kasus stunting di Mataram turun jadi 7,9 persen
Pewarta : Nirkomala
Editor:
Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026