Sinta Wahid mendapat gelar "Ibu Bangsa"

id ibu ,bangsa,nur wahid

Sinta Nuriyah Wahid (duduk) saat menerima penghargaan sebagai "Ibu Bangsa", berfoto bersama Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubiyanto Wiyogo (kiri), Sekretaris Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Pribudiarta Nur Sitepu (dua kanan) dan Deputi Keseteraan Gender kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Agustina Erni di Auditorium Adhyana, Wisma Antara, Jakarta, Rabu (5/12/2018). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Mataram (Antaranews NTB) - Istri presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid, Sinta Nuriyah Wahid, dianugerahi gelar "Ibu Bangsa" oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

"Penghargaan ini beban sekaligus amanah dan cambuk bagi saya untuk melecut semangat perjuangan untuk terus berjuang demi keutuhan bangsa dan negara," kata Sinta dalam seminar dalam rangka Peringatan Hari Ibu ke-90 di Auditorium Adhyana, Wisma Antara, Rabu.

Sinta mengatakan persatuan dan kesatuan merupakan pilar suatu bangsa agar dapat berdiri tegak.

Dia kemudian menceritakan upayanya dalam memelihara persatuan dan kesatuan dengan menggagas acara buka puasa dan sahur bersama dengan mengajak seluruh komponen bangsa tanpa melihat agama dan asal-usulnya.

"Buka puasa dan sahur bersama itu untuk mengekspresikan kebersamaan tentang rasa hormat, tolong menolong, saling menyayangi antaranak bangsa Indonesia," tuturnya.

Menurut Sinta, Indonesia adalah satu meskipun terdiri atas berbagai suku, bangsa, agama dan budaya, yaitu satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

"Penghargaan ini semoga bisa menjadi obor semangat untuk terus berjuang merajut keutuhan bangsa dan negara," katanya.

Sementara itu, Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan seluruh perempuan Indonesia wajib menjadi "Ibu Bangsa".

"Menjadi 'Ibu Bangsa' bagi perempuan Indonesia adalah kewajiban, bukan pilihan. 'Ibu Bangsa' sejati harus maju dan mampu menjadi teladan," katanya.

 
Pewarta :
Editor: Nirkomala
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar