Kisah Mita, Gadis Jembrana penderita kanker serviks di usia 14 tahun

id Ni Made Mita Sri Wulandari yang sejak kelas 5 SD didiagnosa dokter telah mengidap kanker serviks

Kisah Mita, Gadis Jembrana penderita  kanker serviks di usia 14 tahun

Gadis berumur 14 tahun kelahiran di Negara Kabupaten Jembrana bernama Ni Made Mita Sri Wulandari yang sejak kelas 5 SD didiagnosa dokter telah mengidap kanker serviks ((Foto Antaranews Bali/)

Mataram (ANTARA) - Gadis berumur 14 tahun yang lahir di Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, itu bernama Ni Made Mita Sri Wulandari.

Sejak kelas 5 SD, ia didiagnosa dokter telah mengidap kanker serviks. Penyakit yang umumnya terjadi pada perempuan dewasa, penyakit yang jarang diidap anak-anak.

Awalnya, relawan MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) Kabupaten Jembrana mendapat informasi mengenai Made Mita ini dari Perkumpulan Pengajian NU yang kebetulan tetangganya Made Mita.

"Begitu kita mendapatkan info mengenai Mita, kita langsung assessment ke lokasi untuk mengetahui kebenarannya, dan kita mendapati Gek Mita tinggal di sebuah kamar kecil di areal Pura bersama ibunya Ni Putu Karyani (43) dan dua orang adiknya," kata Eni, relawan MRI Kabupaten Jembrana, 24 Juli 2019.

Ayahnya pergi meninggalkan Gek Mita beserta tiga saudaranya ke alam akhirat sesaat Gek Mita didiagnosa kanker serviks oleh dokter. Keadaan keluarga semakin sulit, ekonomi keluarga semakin terpuruk setelah ditinggal sang Ayah.

Apalagi, Gek Mita diharuskan bolak-balik Negara-Denpasar untuk melakukan pengobatan kankernya di RSUP Sanglah. Walaupun pengobatan menggunakan BPJS Kesehatan, namun keluarga mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk biaya perjalanan pulang pergi Negara-Denpasar.

Penghasilan keluarga tak menentu, Ni Putu Karyani (ibu Gek Mita) hanyalah pedagang canang/sesaji di dekat pura yang tak jauh dari tempat mereka tinggal.

"Terkadang sehari mendapat  Rp100 ribu, kadang cuma Rp50 ribu.... nggak menentu-lah," ujar Ni Putu Karyani.

Kakak laki-laki Gek Mita pun pindah ke Denpasar dan bekerja sebagai buruh untuk membantu perekonomian keluarga.

Karena kondisi perekonomian yang terpuruk dan Gek Mita harus bolak-balik melakukan kemoterapi hampir setiap bulannya, memaksa Gek Mita berhenti Sekolah. Anak yang secara akademis tergolong pintar ini harus menelan pil pahit berhenti sekolah.

KRJ (Komunitas Relawan Jembrana) turut memberikan uluran tangan, agar Gek Mita bisa kembali bersekolah setelah setahun kemudian di kelas 3 SMP, yang semestinya sudah SMA ini.

Lembaga kemanusiaan nirlaba ACT (Aksi Cepat Tanggap) Bali dengan program MSR (Mobile Social Rescue) berikhtiar untuk membantu dan melakukan pendampingan bagi pengobatan Gek Mita, untuk mewujudkan impian gadis yang suka menari, sekaligus membangkitkan ekonomi keluarga Gek Mita.

ACT Bali mengajak orang-orang baik untuk bersama-sama meringankan derita yang dialami Gek Mita dan keluarganya dengan berpartisipasi memberikan donasi terbaik melalui Virtual Account BNI Syariah 8660291019070158 atas nama Yayasan Aksi Cepat Tanggap atau juga bisa melalui link https://www.kitabisa.com/bantumademita.

"Gek Mita hanyalah salah satu dari banyak masyarakat Bali yang menjadi bagian dari Program MSR yang dimiliki ACT Bali. Program MSR adalah bentuk komitmen ACT Bali dalam membantu program-program pemerintah Bali dalam membantu masyarakat Bali, Pendampingan Pengobatan Medis, Pembangunan rumah layak huni, bahkan pemberdayaan ekonomi masyarakat," kata Tim Program ACT Bali, Sajjjatul Hidzqy.

Bantuan/pendampingan yang diajukan ke ACT harus didukung dengan data dokumen yang valid  terkait penerima manfaat/keluarga berdasarkan fakta, seperti contohnya pengajuan MSR Mita.

"Klasifikasi kanker serviks berdasarkan hasil assesment tim di lapangan dan dokumen medis terakhir penerima manfaat hasil pemeriksaan yang dikeluarkan RSUP Sanglah yang mengindikasi adanya kanker serviks," katanya.

Kebenaran suatu informasi yang berdasarkan fakta menjadi keutamaan bagi ACT karena terkait terhadap pertanggungjawaban laporan donasi kepada para donatur yang berdonasi dan juga audit terhadap keuangan lembaga.
 
Pewarta :
Editor: Ihsan Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar