Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar RI

id Petugas Kementrian Pertanian mengecek sarang burung walet

Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar RI

Petugas Kementrian Pertanian mengecek sarang burung walet yang siap untuk diekspor ke Negara Tiongkok di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (29/1). Permintaan sarang walet yang semakin meningkat, memicu Indonesia sebagai produsen sarang walet terbesar di dunia berupaya menembus pasar Tiongkok secara langsung dengan mengekspor sarang walet dengan total pengiriman sebanyak 300kg. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/ss/ama/15

Mataram (ANTARA) -  Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Tiongkok masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar produk nonmigas asal Indonesia dengan nilai 13,6 miliar dolar AS sepanjang Januari-Juli 2019.

"Tiongkok masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia di mana kontribusinya sebesar 15,53 persen dari total ekspor," kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, Kamis.

Kecuk memaparkan, komoditas utama yang diekspor ke negeri tirai bambu itu pada periode tersebut adalah lignit, besi atau baja, dan bubur kertas (pulp).

Negara tujuan ekspor terbesar selanjutnya yakni Amerika Serikat dengan nilai 9,9 miliar dolar AS atau berkontribusi 11,26 persen.

Sedangkan, ekspor RI ke Jepang mencapai 7,9 miliar dolar AS atau menyumbang 8,99 persen.

Adapun andil ketiga negara tersebut terhadap kinerja ekspor nonmigas Indonesia mencapai 35,77 persen.

"Meskipun sekarang nilainya lebih kecil dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujar Kecuk.

Menurut Kecuk, peningkatan ekspor nonmigas Juli 2019 jika dibandingkan Juni 2019 terjadi di hampir semua negara tujuan utama, termasuk tiga negara tujuan ekspor terbesar tersebut.

Menurut data BPS, ekspor produk asal Indonesia ke Tiongkok naik 469,7 juta dolar AS atau 25,92 persen. Sedangkan, ekspor ke Amerika Serikat naik 507,2 juta dolar AS atau 47,08 persen. Sedangkan, ekspor ke Jepang naik 193,4 juta dolar atau 18,87 persen.
Pewarta :
Editor: Ihsan Priadi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar