Mataram, 6/5 (ANTARA) - Satuan TNI di Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Mataram, akan menggelar operasi pemantauan pulau-pulau terluar yang ada di perairan Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama sejumlah anggota Muspida untuk mengetahui kondisi pulau-pulau tersebut.
"Kegiatan pemantuan itu sebagai bentuk kolaborasi. Kalau patroli rutin setiap hari kami laksanakan. Tetapi mengajak unsur muspida melihat kondisi pulau terluar di perairan NTB, mugkin ini baru pertama kali," kata Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Mataram, Kolonel Marinir Budi Purnama, di Mataram, Kamis.
Namun, kata dia, rencana oprasi pemantauan pulau terluar di perairan NTB belum bisa dipastikan pelaksanaannya karena masih menunggu koordinasi dukungan kapal besar dari Pimpinan TNI AL.
Selain itu, pihaknya juga tidak memiliki anggaran khusus untuk operasi dan akan menggunakan anggaran rutin patroli sehari-hari yang dilaksanakan oleh TNI AL.
"Rencana ini sudah kita laporkan ke Pimpinan TNI AL dan mudah-mudahan mendapat dukungan dan respon yang baik," ujarnya.
Ia mengatakan, operasi pemantauan pulau-pulau terluar bersama unsur Muspida NTB, akan difokuskan di perairan utara pulau Lombok, sedangkan di wilayah perairan selatan pulau Lombok belum bisa dilaksanakan karena membutuhkan kapal besar untuk menghadapi gelombang tinggi.
Menurut dia, meskipun pulau terluar yang ada di perairan utara pulau Lombok tidak berbatasan langsung dengan negara lain seperti di perairan selatan yang berbatasan dengan Australia, namun dipandang perlu untuk diketahui bagaimana kondisi yang sebenarnya.
"Kalau ke utara saya kira tidak terlalu riskan dengan masalah perbatasan, hanya memang perlu kita lihat seperti apa kondisi sesungguhnya," ujarnya.
Ia memperkirakan dari sekitar 278 pulau kecil yang ada di perairan NTB, sebagian besar tidak tidak berpenduduk, namun bisa diekplorasi menjadi satu obyek wisata unggulan atau pos-pos pengamatan TNI AL, sehingga tidak disalahgunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk menimbun barang-barang haram.
Selain itu, dengan operasi pemantauan ini diharapkan dapat mencegah pulau-pulau terluar dijadikan sebagai tempat transit bagi para imigran gelap dari berbagai negara atau menjadikannya sebagai tempat menetap bersama keluarganya secara ilegal.
"Bisa saja pulau-pulau terluar yang memiliki cadangan air tawar sebagai sumber kehidupan dijadikan tempat tinggal bagi para imigran gelap bersama keluarganya, karena tidak pernah dipantau kondisinya," katanya.
Budi mengungkapkan pihaknya beberapa waktu lalu berhasil menangkap belasan imigran asal Afganistan di perairan Lombok Timur. Mereka diduga hendak menyusup ke Australia, melalui jalur laut dengan kapal motor sewaan.
Pihaknya kemudian menyerahkan, belasan imigran Afganistan tersebut kepada pihak imigrasi yang berkewajiban menangani imigran gelap itu karena tidak memiliki ruangan yang representatif untuk menampung mereka.
"Kalau ada penangkapan imigran oleh anggota TNI AL, langsung diserahkan kepada pihak yang berwenang untuk memproses hukum lebih lanjut, seperti imigrasi dan kepolisian," katanya.(*)