BKKBN menekankan nilai gotong royong dalam pengentasan stunting

id bkkbn,dashat,percepatan penurunan stunting,stunting

BKKBN menekankan nilai gotong royong dalam pengentasan stunting

Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga Nopian Andusti. (ANTARA/HO-BKKBN)

Jakarta (ANTARA) - Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI menekankan pada keluarga bahwa nilai gotong royong sangat penting dalam pengentasan stunting.
 

“Bantuan pemerintah dalam program ini sangat terbatas karenanya, lintas sektor dan lintas bidang di pemerintah daerah harus menggunakan pendekatan konvergensi dan partisipatif dalam program percepatan penurunan stunting dan Dashat di tingkat desa,” kata Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga BKKBN RI Nopian Andusti dalam keterangan resminya di Jakarta, Sabtu.

Dalam peresmian Dashat di Kelurahan Jembatan Kecil, Kecamatan Singaran Pati, Bengkulu, Jumat (14/7), Nopian menuturkan masyarakat desa dan kelurahan memiliki modal sosial yang tinggi, sehingga kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi masalah stunting dapat dilakukan oleh masyarakat setempat.

Terkait Dashat, para kader yang tergabung akan memberikan pelatihan pembuatan makanan bagi ibu hamil dan balita dengan bahan pangan lokal. Melalui Dashat, pencegahan stunting dilakukan secara gotong royong oleh banyak pihak. Dengan tujuan untuk memastikan pemenuhan gizi bagi keluarga berisiko stunting, yang di antaranya digemakan di seluruh Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB).

“Dashat merupakan integrasi kegiatan sosial dan wirausaha untuk dapat mengatasi masalah yang ada di masyarakat. Unsur sosial itu berupa pemberian makanan sehat dan bergizi seimbang bagi sasaran keluarga berisiko stunting, terutama keluarga kurang mampu,” katanya.

Ia menjelaskan terdapat tiga model pendekatan pengelolaan Dashat, yaitu model sosial, komersil, campuran komersil dan sosial. Penerapan model Dashat tersebut ditentukan dengan memperhatikan jumlah kasus stunting di desa dan kelurahan, tingkat ekonomi masyarakat desa, dan ketersediaan pangan lokal bergizi seimbang di desa.

Maka dari itu, konsep Dashat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan sociopreneurship (kewirausahaan sosial), sehingga menimbulkan semangat berbagi atau kesetiakawanan sosial untuk kemaslahatan bersama. “Dari program Dashat diharapkan akan muncul perubahan pola pikir sosial di masyarakat untuk saling membantu dan memberdayakan,” kata Nopian.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kota Bengkulu Dewi Dharma menambahkan, Dashat merupakan salah satu strategi nasional dalam kegiatan percepatan penurunan stunting melalui peningkatan kegiatan pendampingan keluarga.

Di Kota Bengkulu terdapat 67 kelurahan dan sembilan kecamatan. Pada 2022, tercatat ada sebanyak 18 Kampung KB di Kota Bengkulu dan 11 di antaranya telah mengembangkan program Dashat.

Baca juga: Kampung KB program maintains village teenagers' mental health
Baca juga: BKKBN educates Quality Family Village residents about nutrition

“Dalam rangka pembangunan kualitas sumber daya manusia, permasalahan stunting mempunyai dampak yang sangat merugikan baik dari sisi kesehatan maupun produktifitas ekonomi. Kami berharap angka prevalensi Provinsi Bengkulu jadi 12,55 persen dan Kota Bengkulu 9 persen pada 2024,” ujarnya.