Ikhtiar Mataram Atasi Persoalan Sampah

id kota mataram sampah

Sampah di Kota Mataram akan diolah menjadi energi listrik. Wakil Wali Kota Mataram Mohan Roliskana saat acara persentasi yang dilakukan pengusaha dari 12 negara

...Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Mataram untuk mengatasi persoalan sampah, namun hasilnya belum maksimal. Jumlah kendaraan pengangkut sampah terkadang menjadi kendala dalam mengatasi masalah sampah....
Sampah selalu menjadi persoalan pelik, tak terkecuali di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Limbah yang berserakan di sejumlah ruas jalan karena terlambat diangkut petugas dinas kebersihan, mengeluarkan aroma tak sedap yang cukup menggangu para pengguna jalan.

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Mataram untuk mengatasi persoalan sampah, namun hasilnya belum maksimal. Jumlah kendaraan pengangkut sampah terkadang menjadi kendala dalam mengatasi masalah sampah.

Persoalan sampah yang cukup pelik itu tidak terlepas dari masih relatif rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat, seperti di kali dan saluran air.

Kondisi ini mengakibatkan banjir ketika musim hujan karena salura air tersumbat oleh sampah dan mengakibatkan air meluap yang kemudian menggenangi permukiman penduduk dan sejumlah ruas jalan.

Karena itu masyarakat di Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, mengiinisiasi sebuah kegiatan bertajuk "Festival Dedoro" atau festival sampah yang akan berlangsung 26 Februari 2017 sebagai ajang edukasi penanganan sampah.

Lurah Banjar Muzakir Walad mengatakan Festival Dedoro ini bertujuan mengubah pola pikir masyarakat dalam penanganan sampah secara mandiri.

"Kami sengaja menggunakan kata `dedoro` (bahasa Sasak-red), sebagai bagian dari pelestarian bahasa daerah dan agar lebih familiar," katanya.

Menurutnya, Festival Dedoro akan dilaksanakan dari pagi hingga malam dengan berbagai kegiatan yang mengarah edukasi, memotivasi masyarakat untuk bisa mengelola sampah secara mandiri.

Dengan cara ini penaganan sampah tidak hanya terpaku pada keberadaan tempat pembuangan sementara (TPS), dan kebutuhan truk pengangkut sampah. Namun yang penting untuk disosialisasikan dan dimotivasi kepada masyarakat adalah bagaimana mengubah pola pikir masyarakat agar mengolah sampah yang dihasilkan setiap hari.

Festival Dedoro pada Minggu (26/2) diawali dengan kegiatan bakti sosial pembersihan Kali Gedur yang menjadi wilayah perbatasan Kelurahan Banjar. Kemudian akan digelar pojok bank sampah dan berbagai hasil daur ulang sampah hasil kreasi warga di Kelurahan Banjar.

Sementara pada malam harinya akan digelar berbagai pementasan seni, hiburan musik, teater dan wayang mengangkat tentang pelestarian lingkungan.

Untuk hiburan musik ini, kata Muzakir Walad, para pemain musik yang berasal dari komunitas pecinta alam akan menggunakan beberapa alat musik dari daur ulang salah, misalnya dari drum dan kaleng bekas.

Demikian juga saat pementasan teater dan wayang kulit yang semuanya menggunakan alat pementasan dari hasil daur ulang sampah.

"Karena itu saat ini kami juga sedang menyiapkan baju serta berbagai alat peraga yang akan digunakan oleh para pemain saat pementasan nanti. Harapannya, kegiatan itu bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengolah sampah, minimal sampah rumah tangga yang dihasilkan setiap hari," katanya.

Ini merupakan salah satu wujud komitmen Pemerintah Kota Mataram dalam mengatasi persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi masalah pelik dan relatif sulit.

Namun hal ini tidak mengurangi semangat masyarakat dan pemerintah di kota yang mengusung moto "maju, religius, berbudaya".



Komitmen pemerintah

Komitmen Pemerintah Kota Mataram dalam mengatasi persoalan sampah ini bak gayung bersambut dengan tawaran kerja sama dari pengusaha 12 negara yang menawarkan kerja sama pengolahan sampah menjadi energi listrik dari perusahaan asing asal 12 negara.

"Tawaran dari 12 negara ini akan bekerja sama merancang, merakit dan membawa mesin pengolahan sampah itu apabila kerja sama sudah final," kata tim akademisi dari Universitas Mataram Prof Dr Mahyuni seusai menerima rombongan investor yang merupakan konsorsium dari CPE Cell asal Korea dan Alchemy Utilities dari Finlandia.

Konsorsium para pengusaha dari 12 negara itu, antara dari Inggris, Korea dan Finlandia dengan total nilai investasi Rp1,1 triliun. Para penhgusaha tersebut telah melakukan persentasi mengenai pengolahan sampah menjadi energi listrik.

"Untuk melaksanakan program ini, kami sudah menjadi bagian kerja sama untuk melakukan studi kelayakan dengan target sekitar satu tahun delapan bulan, dan dimulai Maret," katanya.

Menurut Mahyuni, kebutuhan sampah yang akan diolah setiap hari sebanyak 1.000-2.000 ton, namun mesinnya bisa beradaptasi sendiri dengan dengan sampah yang masuk.

"Maksimal 2.000 ton minimal 200 ton, sementara volume sampah di Kota Mataram mencapai 400 ton per hari. Sementara daya listrik yang dihasilkan sekitar 10 Mega Watt," ujarnya.

Dalam kegiatan presentasi yang diikuti sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD), seperti Dinas Lingkungan Hidup, Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda), Badan Penelitan dan Pengembangan serta camat se-Kota Mataram, disebutkan dalam pengelolaan sampah ini tidak ada yang sia-sia.

Setelah sampah diolah menjadi energi listrik, limbahnya bisa menjadi pupuk yang bermanfaat untuk tanaman, bahkan mesin itupun bisa mengolah air sungai menjadi bersih dan bisa diminum.

"Yang terpenting adalah proses pengolahan sampah menjadi listrik ini tidak menimbulkan polusi, sehingga tidak mengganggu warga sekitar," katanya.

Untuk dapat melaksanakan program ini, Pemerintah Kota Mataram menyediakan dana sharing berupa lahan sekitar dua hektare yang sudah disiapkan di kawasan Kebon Talo, Kecamatan Ampenan.

"Investor yang ingin menanamkan modalnya di Kota Mataram ini telah mendalami kondisi persampahan di Kota Mataram dalam tiga tahun terakhir," katanya.

Sementara mewakili Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram Irwan Rahadi mengatakan pada prinsipnya Kota Mataram terbuka dengan kehadiran investor ke Kota Mataram.

Namun yang perlu diingat adalah Kota Mataram pernah beberapa kali mengalami kekecewaan akibat investor yang telah diberi ijin untuk berinvestasi di Kota Mataram justru tidak melanjutkan rencana seperti yang telah dipaparkan.

Karena itu Pemerintah Kota Mataram akan melihat terlebih dahulu sejauh mana keseriusan pihak investor sebelum memberi ijin investasi.

"Kami dalami dulu, yang penting kami yakin dulu bagaimana nantinya bisa terealisasi," katanya.

Ikhtiar masyarakat dan pemerintah di Ibu Kota Provinsi NTB ini dihajatkan untuk mewujudkan Kota Mataram yang bersih dan indah. Sampah tak lagi menjadi persoalan masalah, tetapi menjadi berkah.(*)
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar