Mahasiswa Bali Merajut Kebinekaan di STIA Mataram

id STIA MATARAM

"Tidak menutup kemungkinan negara luar akan menebar politik pecah-belah"
Mataram (Antara) - Mahasiswa STISIP Margarana Tabanan, Bali, mengadakan wisata belajar ke STIA Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, dalam rangka menjalin silaturahmi sekaligus merajut persatuan dan kesatuan dalam bingkai kebinekaan.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan mahasiswa STISIP Margarana Tabanan yang dipimpin oleh Wakil Ketua II Bidang Non-Akademis Drs Dewa Putu Mertha Sudina MM, juga menggelar seminar bersama civitas akademika STIA Mataram bertema "Dengan semangat kebinekaan, kita tingkatkan persatuan dan kesatuan".

Sudina mengatakan kunjungan ke STIA Mataram ingin membuat suatu hubungan kerja sama, baik jangka pendek maupun jangka panjang dalam mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam upaya memelihara kebinekaan.

Perlu disadari bersama bahwa pemerintah menggalakkan empat pilar kebangsaan. Hal itu coba dianalisis bersama, dari sisi ilmiah dan impelementasinya seperti apa di tataran mahasiswa.

"Intinya bahwa kita sebagai satu bangsa harus menjaga teguh persatuan dan kesatuan. Siapa lagi yang menjaga kalau bukan mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa," katanya.

Ketua Yayasan Pendidikan Kota Mataram (Yapma) Hidayaturrahman, ST, MT, mengapresiasi kunjungan STISIP Margarana Tabanan. Momen tersebut tentu menjadi wahana bagi mahasiswa termasuk institusi untuk bertukar informasi dan pemahaman tentang kegiatan mahasiswa dan lainnya.

"Kami sangat bersyukur dengan kunjungan ini. Apalagi temanya sangat baik, yakni merawat kebinekaan. Dua budaya berbeda bertemu dan berasilimilasi serta bertukar pendapat sehingga harapan kita bagaimana kebhinekaan betul-betul bisa dipelihara," ujarnya.

Pada kesempatan seminar itu, Wakil Ketua III Sekolah Tinggi Agama Hindu (STAH) Negeri Gde Pudja Mataram Dr I Nyoman Murba Widana, M.Ag, yang menjadi nara sumber menyampaikan pemaparannya tentang teologi Hindu yang terkait dengan pentingnya menjaga hubungan antarsesama anak bangsa Indonesia.

Menurut dia, dalam teologi Hindu ada dikenal Tri Hita Karana, yakni hubungan manusia dengan tuhan, hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan lingkungan.

Kaitan dengan itu, upaya merajut kebinekaan demi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah ditanamkan sangat bagus oleh para pejuang terhadulu, mulai dari Sumpah Pemuda dan peristiwa sejarah kainnya.

Para pejuang berkorban melawan penjajah Belanda, Jepang dan NICA. Perjuangan dilakukan dalam semangat kebersamaan meskipun berbeda agama, suku dan golongan.

Semangat persatuan dan kesatuan tersebut harus terus dirajut dan dijaga. Sebab, di era globalisasi saat ini, tidak menutup kemungkinan negara luar sangat iri dengan kemajemukan bangsa Indonesia.

"Tidak menutup kemungkinan negara luar akan menebar politik pecah-belah. Oleh sebab itu, mahasiswa harus cerdas menyikapi potensi ancaman tersebut sehingga keharmornisan bangsa Indonesia terjalin dengan baik," ucapnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Lembaga Penelitian STIA Mataram Evi Sukmayeti. Menurut dia, selama ini Bali dan Sasak (suku Lombok), dianggap berbeda dari sisi agama. Padahal ada benang merah kesamaan yang sering kali dilupakan.

Oleh sebab itu, ia berpesan kepada mahasiswa STIA Mataram dan STISIP Margarana Tabanan, untuk mampu merumuskan "musuh bersama" agar tidak fokus mencederai atau menyerang teman dan keluarga sendiri.

"Harapan saya, mahasiswa tidak lagi membahas perbedaan dirinya dengan saudara sendiri, tetapi membahas bagaimana dan apa yang harus diselesaikan bersama dengan saudara sebangsa," katanya. (*)

Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar