Lombok Timur anggarkan Rp2 miliar kembangkan tenun

id Lombok Timur,Kain Tenun,Pringgesela

Lombok Timur anggarkan Rp2 miliar kembangkan tenun

Seorang perempuan menunjukkan kain tenun Mbojo bermotif padi di sentra kerajinan tenun Cempaka Indah di Kelurahan Rabadompu Timur, Kota Bima, NTB, Minggu (7/6). (Antara Foto).

Ini akan menarik minat wisatawan, dengan mengetahui prosesnya wisatawan juga dapat lebih menghargai nilai dari hasil tenun

Lombok Timur (Antaranews NTB) - Pemerintah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, menganggarkan dana Rp2 miliar untuk pembangunan showroom sebagai tempat pemasaran produk dan pusat pengembangan tenun di Kecamatan Pringgasela.

Bupati Lombok Timur H Sukiman Azmy di Pringgasela, Senin, berjanji memberikan alokasi anggaran untuk memajukan salah satu kerajinan di daerah itu.

Hal ini ?sebagai langkah nyata Pemkab Lombok Timur mendukung keberlangsungan usaha tenun Pringgasela.

"Saya selalu mempromosikan kain tenun tradisional Pringgasela seperti baju yang saya pakai ini," kata Sukiman saat membuka kegiatan Alunan Budaya Desa IV Kecamatan Pringgasela.

Ia mengatakan, wisatawan yang datang dapat melihat langsung proses pembuatan tenun. Kemudian mengunjungi showroom untuk membeli kerajinan tenun warga Kecamatan Pringgasela itu.

"Ini akan menarik minat wisatawan, dengan mengetahui prosesnya wisatawan juga dapat lebih menghargai nilai dari hasil tenun," ujarnya.

Alunan Budaya Desa ini digelar pemuda-pemuda Pringgasela dengan harapan kain tenun ini tetap lestari di tengah perkembangan zaman. Bupati cukup mengapresiasi langkah positif yang dilakukan para pemuda di desa itu.

"Yang lainnya muncul tidak dengan konsep pariwisata, misalnya Sembalun muncul dengan tanaman bawang putihnya, tetapi kemudian terkenal setelah adanya pengembangan Geopark Rinjani," ucap Bupati.

Sementara itu Ketua Panitia Alunan Budaya Desa ke IV, Azizan Zuhri menyampaikan tujuan acara alunan budaya desa ini untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Pringgasela dengan mengenalkan kerajinan masyarakat berupa tenun. Dalam event ini diadakan fhasion show dengan menggunakan pakaian kerajinan yg ada di pringgasela dan alhamdulillah sudah terjual sarung tenun sekitar seratus lebih.

Ia berharap kegiatan ini dapat berlangsung lebih baik lagi. Kegiatan dimeriahkan dengan peragaan proses pembuatan kain tenun dan fashion show yang diperagakan oleh Terune (Laki-laki ) Dedare (perempuan) Lombok Timur 2018.?

Rangkaian kegiatan Alunan Budaya Desa IV Pringgasela antara lain pementasan wayang, zumba party, jalan sehat, pentas seni, pementasan gendang belek, fashion show tenun Pringgasela kategori umum, SMA sederajat dan anak-anak, yang Kegiatannya sampai tanggal 3 November 2018.

"Acara ini kita harapkan menjadi kalender event yang dimasukkan oleh OPD terkait sebagai salah satu atraksi budaya di Lombok Timur. Sebab kegiatan ini tidak saja menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara tapi juga penting sebagai upaya melestarikan budaya kita sendiri," katanya.

Pembuatan kain tenun ini menggunakan alat tradisional (Gedogan), dapat terdengar suaranya apabila pars pengerajin tenun ini sedang menenun di teras rumah.

Kain tenun Pringgasela juga sempat ditampilkan di beberapa acara fashion show di luar negeri. Bahkan belum lam ini ada peneliti dari Jepang datang khusus ke desa ini untuk belajar membuat kain tenun.

Peralatan untuk membuat kain tenun ini sangat sederhana, bahan baku utama adalah kayu. Alat untuk menenun namanya Gedogan, untuk membuat motif namanya Prane. Untuk pewarnaan digunakan bahan alam, warna coklat menggunakan kulit kayu, sedangkan warna hujau dan kuning menggunakan daun.

Beberapa motif tenun yang asli dari pringgasela yaitu, Belak Topat, Sakak, Ragi Bayan, Pucuk Rebong, Sari Menanti dan lain-lain. Lama pembuatan untuk menenun satu kain memakan waktu selama 1 bulan.

Konon pada zaman dahulu, jika seorang gadis tidak bisa menenun selembar kain, tidak akan diperbolehkan untuk menikah.

Oleh sebab itu, keberadaan kain tenun ini bukan hanya sebagai identitas daerah, namun juga sebagai bukti bahwa Pulau Lombok memiliki sejarah yang panjang tentang keberadaan kain tenun yang masih ada hingga saat ini.

Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.