Gubernur Jateng cek pembangunan sekolah ramah gempa di Lombok Utara

id Gubernur Jateng,Ganjar Pranowo,SDN 6 Sesait,Lombok Utara,NTB

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, disalami siswa-siswi ketika meninjau gedung ramah gempa SDN 6 Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB, Kamis (24/1). (Foto Antaranews NTB/Awaludin)

Tidak banyak nilainya, tapi semangat persaudaraan yang kami utamakan
Lombok Utara (Antaranews NTB) - Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowo berkunjung ke Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, sekaligus mengecek proses pembangunan gedung sekolah ramah gempa SDN 6 Sesait, Kecamatan Kayangan, Kamis (24/1).

Ganjar didampingi istri, Siti Atiqoh Supriyanti, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, rombongan Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) Care, di antaranya Kepala Dinas Perindustrian NTB Andi Pramaria, kemudian Sekretaris Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTB, Zainal Abidin.

Mereka diterima Wakil Bupati Lombok Utara, Sarifuddin, bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB, H Muhammad Suruji.

"Ini adalah kunjungan saya yang kedua kali ke Lombok Utara. Sebelumnya saya pernah kemari sebelum dilantik menjadi Gubernur Jateng, pas bersamaan dengan kunjungan Presiden Joko Widodo," katanya.

Ia menyebutkan bantuan dana untuk pembangunan gedung sekolah dengan konstruksi baja tersebut bersumber dari hasil pengumpulan oleh para guru di Jawa Tengah. Total nilai bantuan sebesar Rp2,5 miliar.

Penyaluran bantuan juga dikerjasamakan dengan Kagama Care yang ada di NTB. Termasuk didalamnya sejumlah pejabat lingkup Pemerintah Provinsi NTB.

Menurut Ganjar, penyaluran bantuan diutamakan ke sektor pendidikan karena untuk membangun kembali gedung sekolah yang rusak akibat gempa bumi tidak mudah dari sisi pendanaan.

Di satu sisi, sarana pendidikan harus cepat terwujud karena pendidikan juga merupakan investasi masa depan anak-anak bangsa.

"Itu lah kenapa kami mencoba datang untuk berbagi dengan warga di Pulau Lombok yang menjadi korban gempa bumi. Tidak banyak nilainya, tapi semangat persaudaraan yang kami utamakan," ujarnya.

Gubernur dua periode tersebut mengatakan gempa bumi di NTB pada Juli-Agustus 2018, juga pernah dirasakan warga Jateng, khususnya di Kabupaten Klaten, pada 2006, meskipun pusat gempa bumi berada di Yogyakarta.

Warga Jateng ketika itu juga merasakan sakit yang luar biasa karena kerusakan parah yang akibat gempa bumi. Mereka tidak mudah untuk cepat bangkit.

Namun, kata Ganjar, dari bencana alam tersebut ada pelajaran yang bisa diambil, yakni bagaimana semua anak bangsa bersatu untuk saling membantu. Hal itu juga terjadi ketika Palu, Sulawesi Tengah ditimpa bencana alam seperti di NTB, dan tsunami di Banten dan Lampung.

"Semua daerah terkena bencana alam kami datangi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengirim relawan dan bantuan. Tidak hanya di Lombok, kami datang ke Palu membangun kampung hunian sementara, pasar dan puskesmas, termasuk sinyal telekomunikasi," kata Ganjar.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Kagama tersebut juga meminta para guru SDN 6 Sesait untuk melatih anak didiknya bagaimana menghadapi bencana alam. Hal itu bisa dilakukan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Pasalnya, Indonesia dikelilingi oleh cincin api atau gunung berapi sehingga rawan terjadi bencana alam.

"Saya titip kepada ibu dan bapak guru agar mau melatih murid-murid bagaimana menghadapi bencana. Paling tidak dua kali setahun seperti yang dilakukan negara-negara maju di Eropa dan Jepang. Jangan menunggu kurikulum jadi, baru memberikan pelatihan," katanya.

Sementara itu, Wakil Bupati Lombok Utara Sarifuddin, sangat bersyukur atas kedatangab Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, karena bisa menjadi pengobat sakit warga yang tertimpa musibah bencana alam.

"Mudahan dengan kedatangan pak Ganjar, akan lebih meningkatkan semangat warga Lombok Utara untuk bangkit dan tidak larut dalam trauma setelah gempa," ucapnya.

Setelah dari SDN 6 Sesait, Ganjar Pranowo juga meninjau proses pembangunan masjid dan rumah tahan gempa yang terbuat dari bambu di Desa Gumantar. Bambu yang digunakan sebagai tiang dan dinding sudah diawetkan menggunakan bahan organik berupa daun nimba.

Proses pengawetan bambu secara organik dilakukan oleh warga setempat didampingi tenaga ahli dari Kagama Care. Begitu juga dengan konstruksi bangunan.
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar