Rumah potong hewan terdampak gempa bumi diperbaiki dengan anggaran Rp200 juta

id RPH,mataram,perbaikan

Pekerja memberi makan sapi siap potong di Rumah Potong Hewan (RPH) . (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)

Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, mulai melakukan perbaikan untuk dua rumah potong hewan yang yang rusak akibat terdampak gempa bumi Agutus 2018, dengan total anggaran sekitar Rp200 juta.

"Rumah potong hewan (RPH) yang akan kita berbaiki adalah RPH Majeluk dan RPH Gubuq Mamben Sekarbela," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli di Mataram, Selasa.

Ia mengatakan, akibat gempa bumi Agutus 2018, beberapa fasilitas di RPH mengalami kerusakan diantaranya bangunan dan fasilitas tempat pemotongan, namun tidak sampai menghambat proses aktivitas pemotongan setiap hari.

"Selain kita memperbaiki kerusakan akibat gempa, kegiatan rehabilitasi RPH sekaligus untuk menambah beberapa fasilitas yang masih kurang agar RPH bisa lebih memadai," katanya.

Terutama untuk RPH Gubuq Mamben yang saat ini daya tampungnya tidak sesuai kapasitas, dimana awalnya ketika dibangun RPH tersebut dihajatkan untuk memotong sekitar 20 ekor ternak per hari.

Akan tetapi, sekarang jumlahnya semakin meningkat yakni mencapai 30-40 ekor per hari, apalagi bulan maulid, musim haji dan menjelang Idul Fitri pemotongan ternak bisa mencapai 100-150 ekor.

Oleh karena itu, berbagai fasilitas yang telah disiapkan dinilai melampaui kapasitas, seperti instalasi pengelolaan air limbah (Ipal), ketersediaan air, tempat pemotongan, dan tempat pembersihan hasil ternak yang telah dipotong.

"Akan tetapi dari sisi kualitas kami sudah jamin daging yang keluar dari dua RPH tersebut adalah daging sapi yang aman, sehat, utuh dan halal (Asuh)," ujarnya.

Karenanya, lanjutnya, dalam proses perbaikan ini selain fokus melakukan perbaikan bagunan yang ada juga fokus menambah berbagai sarana dan prasarana pendukung.

"Insya Allah, proses perbaikan dua RPH bisa berjalan lancar dan tahun ini para jagal bisa menampati RPH lebih aman dan nyaman," katanya.

Apalagi, tambahnya, jumlah pemotongan hewan di RPH terus mengalami kenaikan, mungkin karena masyarakat sekarang senang makan daging atau kesejahteraan masyarakat meningkat sehingga daya beli naik. 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar