Vaksinasi COVID-19 untuk pelajar Kota Mataram capai 52,41 persen

id vaksin,covid,anak

Vaksinasi COVID-19 untuk pelajar Kota Mataram capai 52,41 persen

Ilustrasi: layananan vaksinasi COVID-19 untuk usia 12 tahun ke atas di SMPN 9 Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat. (Foto: ANTARA/Disdik Mataram)

Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyebutkan cakupan vaksinasi COVID-19 untuk pelajar usia 12-18 tahun per tanggal 18 September 2021 sudah mencapai 52,41 persen atau 22.073 anak dari target 42.118 anak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Senin, mengatakan, cakupan vaksinasi sebesar 52,41 persen itu merupakan cakupan vaksinasi dosis pertama, sedangkan dosis kedua mencapai sebanyak 9.996 anak atau 23,73 persen.

"Sisanya sebanyak 20.045 anak, kami targetkan tuntas pada akhir September 2021," katanya.



Untuk mengejar target vaksinasi COVID-19 tersebut, Dinkes telah bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, serta sejumlah pihak terkait untuk menggencarkan kegiatan vaksinasi siswa melalui sekolah tingkat SMP/MTs, SMA/SMK/MA negeri/swasta termasuk pondok pesantren.

Sejauh ini, kendala pelaksanaan vaksinasi di sekolah belum ada yang signifikan. Hanya saja, saat ini ada beberapa sekolah sedang melaksanakan ujian tengah semester.

Namun demikian, hal itu bisa disiasati dengan melakukan kegiatan vaksinasi pada sekolah lain yang tidak melaksanakan ujian tengah semester secara bergantian.



"Belum ada kendala lain termasuk untuk tahapan skrining, rata-rata anak-anak lolos dan bisa mendapatkan vaksin COVID-19," katanya.

Di samping itu, untuk stok vaksin tersedia dengan jumlah saat ini sekitar 2.000 vial untuk 4.000 sasaran. Selain itu, petugas medis dari 11 Puskesmas se-Kota Mataram, juga telah membuat jadwal yang rapi untuk vaksinasi di sekolah.



Lebih jauh menurut Usman, untuk mengoptimalkan kegiatan vaksinasi COVID-19 di kalangan pelajar, peran serta orang tua juga penting memberikan motivasi anak agar mau divaksin dan tidak takut.

"Ada baiknya orang tua menceritakan pengalaman yang dirasakan setelah vaksin, agar anak-anak tidak takut terhadap efek samping dan informasi yang kurang tepat," katanya.