Kurban, 3T dan amanah yang harus selalu dijaga

id Human Initiative,Sebar Qurban HI 2024,Idul Adha 1445 H,amanah,kurban Oleh Erafzon Saptiyulda AS

Kurban, 3T dan amanah yang harus selalu dijaga

Sapi piaraan di Taebenu, Kabupaten Kupang, yang disiapkan untuk qurban di daerah 3T di NTT tahun 2024. (ANTARA/Erafzon Saptiyulda AS)

Jakarta (ANTARA) - Kendaraan berguncang menyusuri jalan berpasir berbatu, lalu memasuki jalan beton mulus. Di depan terlihat lembah besar, sepertinya sedang dilakukan pembangunan waduk.

Mobil dan alat berat parkir pada posisinya, tak terlihat aktivitas pembangunan.

Kendaraan terus bergerak menuruni lembah, berkelok, lalu tiba di bawah, menyeberangi sungai dengan anak air dangkal, kemudian mendaki lagi hingga tiba di seberang waduk, lalu berhenti.

Di antara pepohonan yang rindang, dan menyusuri jalan setapak, tiba juga di tempat pemeliharaan sapi. Andre menyusun lima sapi berjejer, mengikatnya pada potongan dahan, dan memberi makan setiap hari.

Kelima sapi itu disiapkannya untuk kurban pada Idul Adha tahun ini.

Andre adalah satu dari ribuan peternak di seluruh Indonesia yang diberdayakan Human Initiative (HI) untuk memasok sapi bagi perayaan kurban pada Idul Adha 2024 di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hukum qurban

Bagi umat Islam, kurban hukumnya wajib atau minimal sunnah muakaddah (sangat dianjurkan) bagi yang mampu.

Dalil yang paling kuat adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi "Fasholli lirabbika waanhar"  yang artinya  "Maka shalatlah untuk Rabbmu dan berkurbanlah” (QS. Al Kautsar, 108 : 2)

Ayat ini berbentuk perintah. Sedangkan perintah hukumnya wajib.

Dalil yang kedua adalah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rizki) dan tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no. 3123).

Di Indonesia, lembaga sosial keagamaan yang menghimpun qurban umat dan disebar ke mereka yang berhak cukup banyak, salah satunya Human Initiative (HI).

Lembaga ini beroperasi sejak Desember 1999 dengan nama Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) kemudian berganti nama menjadi Human Initiative dengan kantor cabang di 13 wilayah di Indonesia, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Buktitinggi, Riau, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku.

HI beraksi dan memperkuat jaringan internasional serta didukung oleh teman-teman ekspatriat jaringan lokal dan mahasiswa yang belajar dan bekerja di luar negeri dengan membentuk kemitraan yang berada di Inggris, Australia, dan Korea Selatan.

Selain itu menempatkan perwakilan individu di beberapa negara, seperti di Amerika Serikat, Arab Saudi, Jerman, Jepang, Malaysia, Qatar, Taiwan, Turki, Kuwait, Uni Emirat Arab, Belanda, Maroko, dan Denmark.

Target tahun ini

Tahun ini HI menekankan Sebar Qurban ke daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) di Indonesia.

Indonesia mengalami kesenjangan konsumsi makanan, yang berakar dari kesenjangan pendapatan. Kesenjangan dalam konsumsi makanan di antaranya terlihat pada jenis makanan penting yang harganya mahal sehingga tidak mampu dijangkau masyarakat kelas bawah, seperti daging.

Pada 2022, menurut Lembaga Riset Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas),  rata-rata penduduk di persentil tertinggi (1 persen kelas terkaya) mengkonsumsi 5,31 kg daging kambing dan sapi per kapita per tahun atau 294 kali lebih tinggi dari rata-rata penduduk di persentil terendah (1 persen kelas termiskin) yang hanya mengkonsumsi 0,02 kg daging per kapita per tahun.

Kurban di Indonesia, selain menjadi ritual ibadah, telah berkembang menjadi tradisi sosial-ekonomi yang potensial.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar dan perekonomian yang kuat, kurban memiliki potensi untuk menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang dapat memberikan akses lebih mudah kepada masyarakat kelas bawah mendapatkan daging dan menjadi momentum untuk menggerakkan peternak lokal yang masih dalam tingkat kesejahteraan rendah.

Melalui rekayasa sosial, kurban dapat diangkat bukan hanya sebagai pranata keagamaan, melainkan juga pranata sosial-ekonomi yang mampu mengatasi rendahnya konsumsi daging di wilayah dengan tingkat konsumsi daging rendah di Indonesia.

Pemerataan

Upaya mengarusutamakan kurban sebagai pranata sosial-ekonomi menjadi semakin relevan dan mendesak untuk memperkuat peranannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sementara Program Sebar Qurban HI bertujuan untuk pemerataan distribusi daging kurban ke wilayah dengan tingkat konsumsi daging rendah serta wilayah 3T.

HI menargetkan 24.860 distribusi kurban di 122 wilayah di 28 provinsi bagi 451.645 pemegang hak program, juga di wilayah krisis kemanusiaan dunia, sehingga penyebaran manfaat kurban menjadi tepat sasaran.

Untuk itu HI menggerakkan mitra peternak lokal berpengalaman untuk senantiasa merawat hewan kurban hingga hari pemotongan. Melibatkan peternak lokal merupakan komitmen lain yang patut diapresiasi.

Wakil Presiden Bidang Komunikasi, Jaringan Kerja, dan Pengembangan HI Andjar Radite, di Kupang, NTT, mengatakan sudah ada penawaran dari peternak besar untuk memenuhi kebutuhan hewan kurban HI di seluruh Indonesia, tetapi ditolak.

Jika bicara bisnis dan efisiensi kegiatan, tawaran itu pasti lebih baik. Tetapi sebagai lembaga sosial, HI harus memberi nilai tambah kepada masyarakat kecil di sekitar Sebar Qurban

Karena itu, HI rela bersusah payah membina peternak lokal di Taebenu, Kupang, misalnya, untuk memasok sebagian dari 150 sapi dan 60 kambing untuk perayaan kurban nanti di sana.

Hubungan HI dengan peternak sapi Arnold Lesmanu, Andre Amnahas, dan kawan-kawan, misalnya, sudah terjalin sejak 1999. Kini kemitraan itu masih terjalin, meski mereka non-Muslim.

Agar memenuhi syarat kurban,  Arnold (53 tahun) menandai dengan memberi tanda (cap) pada tubuh sapi, tapi kini tidak lagi agar memenuhi layak kurban secara Islam.
Kambing piaraan Arnold di kandang berbentuk gua di Taebenu, Kabupaten Kupang, yang disiapkan untuk kurban di daerah 3T di NTT tahun 2024. (ANTARA/Erafzon Saptiyulda AS)


Menguntungkan

Di samping sapi dan kambing piaraan, ia mengakui ada juga yang dibeli untuk penggemukan dengan modal dari HI, setelah dipotong modal dan biaya, lalu keuntungan dibagi dua.

Dia juga mengaku senang menjual hewan kurban karena harganya lebih baik 30-50 persen dibandingkan hari biasa.

Peternak yang sudah menggembalakan sapi dan kambing sejak usia 12 tahun itu hingga kini beranak tiga itu masih setia memasok hewan qurban, tidak hanya kepada HI, tetapi juga kepada lembaga sosial, masjid, atau perorangan lainnya.

Andjar mengatakan daging kurban di NTT tidak hanya dibagi kepada Muslimin, tetapi juga tetangga sekitar non-Muslim lainnya.

Arnold mengaku turut membantu membagi daging kurban kepada kelompok sasaran.

Menandai komitmen pada daerah 3T, Romi Ardiansyah, Vice President of Operations HI melakukan kick off Sebar Qurban HI 2024 di Desa Oebelo, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT, Senin (29/04/2024).

Tak hanya di Nusantara, lembaga itu juga menyebar kurban ke Uganda, Somalia, Tanzania, Myanmar dan Bangladesh, sesuai permintaan pihak yang memberi kurban.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban HI memberikan laporan pada hari pemotongan. Langkah ini merupakan perwujudan menjaga amanah yang diberikan oleh pemberi kurban.