Dishub NTB beri perhatian pelayaran rakyat

id pelayaran dishub

KM Jetliner saat sandar di Pelabuhan Nusantara Kolaka usai melakukan pelayaran perdana dari Baubau ke Kolaka, Kamis. (FOTO ANTARA/Darwis Sarkani) (1)

Mataram (Antaranews NTB) - Dinas Perhubungan (Dishub) Nusa Tenggara Barat memberi perhatian serius terhadap pelayaran rakyat karena berkontribusi terhadap kelancaran arus barang dan masyarakat di daerah terpencil.

"Kalau tidak ada pelayaran rakyat (pelra), tidak ada yang bisa kirim ikan di daerah kepulauan, termasuk di NTB," kata Kepala Dishub NTB Lalu Bayu Windia di Mataram, Minggu.

Ia menjelaskan pelayaran rakyat adalah usaha rakyat yang bersifat tradisional dan mempunyai karakteristik tersendiri untuk melaksanakan angkutan di perairan dengan menggunakan kapal layar termasuk pinisi, kapal layar bermotor, dan atau kapal motor sederhana berbendera Indonesia dengan ukuran tertentu.

Pelaku usaha yang melaksanakan pelayaran rakyat ada yang menggunakan kapal layar dengan batas maksimum 500 gross tonnage (GT). Ada juga kapal motor berukuran?paling kecil?7 GT dan maksimum besar?35 GT.

"Izin perusahaan pelayaran rakyat menjadi kewenangan daerah," ujarnya.

Pihaknya saat ini masih melakukan pendataan pelayaran rakyat yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa. Hal itu penting dilakukan untuk memastikan legalitas operasional kapal.

Selain izin, lanjut Bayu, pendataan juga bertujuan untuk memastikan alat keselamatan yang tersedia di setiap kapal, seperti jaket pelampung, navigasi, radio dan jangkar.?

"Pendataan juga berkaitan dengan intervensi yang akan kami lakukan terutama yang berkaitan dengan upaya pengawasan dan pembinaan," ujarnya.

Menurut dia, upaya menata keberadaan pelayaran rakyat di NTB, sejalan dengan program Kementerian Perhubungan yang juga memberikan perhatian serius terhadap keberadaan pelayaran rakyat di seluruh Indonesia.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan mengalokasikan anggaran sebesar Rp400 miliar untuk menyubsidi pelayaran rakyat dalam rangka membenahi moda transportasi laut yang bersifat tradisional tersebut.

"Pelayaran rakyat ibarat armada semut, namun sangat besar manfaatnya. Di satu sisi regulasi masih belum banyak dan kita cenderung abai," kata Bayu.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar