"Dosa besar" tidak kenal Kantor Berita Indonesia Antara

id LKBN Antara,Perum Antara,berita nasional

Ilust

Mataram, 7/12 (Antara) - Salah besar jika tidak percaya kepada Kantor Berita Indonesia Antara, jangkauannya yang luas baik di dalam negeri maupun luar negeri.
    
Demikian dikatakan salah seorang wartawan senior media cetak nasional dalam perbincangan di pojokan kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pertengahan tahun ini.
    
Memang bisa dikatakan antara percaya atau tidak, masih banyak pejabat khususnya di daerah yang masih memandang sebelah mata keberadaan Kantor Berita Antara. Sampai-sampai mereka hanya menganggap media ini "kelas kacangan" belaka.
    
Mereka itu mungkin kurang wawasannya saat bersekolah dari tingkat dasar, sampai menengah atas bahkan perguruan tinggi. Mereka tidak mengetahui jasa Kantor Berita Antara ini bagi Kemerdekaan Republik Indonesia.
    
Wartawan Antara lah saat itu yang menyiarkan Proklamasi Indonesia ke seluruh dunia pada 17 Agustus 1945 sesaat setelah pembacaan oleh Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta.
    
Dalam buku 80 Kantor Berita Indonesia Antara, disebutkan Antara lahir sebagai kantor berita perjuangan dengan tujuan mengimbangi pemberitaan kantor berita Aneta milik Belanda, yang pemberitaannya kerap menyudutkan pejuang kemerdekaan.
    
Penyebaran berita proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia baru, dilakukan di Gedung Antara di Pasar Baru, Jalan Pos Utara yang kemudian menjadi Jalan Antara 59, Jakarta. Saat itu gedung itu ditempati kantor berita Jepang Domei.
    
Pendiri Kantor Berita Indonesia Antara itu, yakni, Adam Malik (pernah mejabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia), Pandoe Kartagoena, Albert Sipahoetar dan Soemanang Soeriowinoto.
     
"Dengan menghadapi lawan atau tantangan tidak terhibung banyaknya, akhirnya dengan semangat yang tak kenal menyerah untuk maju terus dalam memperkokoh perjuangan nasional, kami berhasil mendirikan kantor berita Antara pada tanggal 13 Desember 1937," kata Adam Malik dalam bukunya.
    
Soemanang yang paling tua dan berpengalaman di antara empat serangkai itu, menjadi pemimpin umum pada saat usianya menginjak 29 tahun, Adam Malik sebagai Wakil Pemimpin Umum (20 tahun), Pemimpin Redaksi dipegang oleh AM Sipahoetar (23 tahun) dan Pandoe Kartawigoena (21 tahun) menjadi Wakil Pemimpin Redaksi.
    
Karena itu, Kantor Berita Indonesia Antara memegang peran strategis sebagai penyeimbang informasi melawan propaganda penjajah sampai Indonesia merdeka.
     
Pada 1962, ANTARA resmi menjadi Lembaga Kantor Berita Nasional yang berada langsung di bawah Presiden Republik Indonesia. Lembaga Kantor Berita Nasional Antara atau disingkat LKBN Antara merupakan kantor berita terbesar di Indonesia, yang sifatnya semi pemerintah
    
Status Lembaga Kantor Berita Nasional Antara kini adalah Badan Usaha Milik Negara, di mana seluruh modalnya dimiliki negara berupa kekayaan negara yang dipisahkan dan tidak terbagi atas saham, di mana diatur oleh Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2007.
    
Seiring perkembangan waktu, saat ini Kantor Berita Indonesia Antara memiliki 32 biro dan 4 perwakilan internasional, yakni, Kualalumpur, Malaysia, Mesir untuk Timur Tengah, New York, Amerika Serikat, Beijing, China, dan koresponden di London, Inggris untuk Eropa.
    
Jaringan wartawan Antara menghasilkan lebih dari 34 ribu produk informasi setiap bulan. Antara news Wire menjadi andalan sumber informasi untuk lebih dari 3.000 pelanggan dan rujuan untuk kantor kedutaan di seluruh dunia, RRI serta kantor berita asing seperti AFP, Reuters, Kyodo, Bernama, Sputnik News dan kantor berita asing lainnya.
    
Khususnya Kantor Berita Indonesia Antara Biro Nusa Tenggara Barat berada di Jalan Langko Nomor 49, Mataram.
     
Karena itu, bisa dikatakan "dosa besar" jika ada pejabat atau instansi di daerah-daerah yang menganggap sebelah mata betapa pentingnya Kantor Berita Indonesia Antara untuk bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
    
Jika ada yang masih menganggap "rendah", berarti pejabat itu adalah kurang wawasan alias kurang banyak baca buku.          

 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar