Dompu (ANTARA) - Ikan nike atau "ifu" bahasa Bima dan Dompu kini menjadi buah bibir di nelayan dan masyarakat pesisir yang tinggal di Teluk Sanggar, terutama Desa Mbuju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu dan Desa Sandue, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.
Pantauan ANTARA, sepekan ini, di pesisir pantai Jala, pantai Abu Ila, hingga Matompo, masyarakat berbondong ke laut untuk berburu dan membeli ikan musiman tahunan ini.
Ahmad M. Sidik, salah seorang pemburu ifu asal Desa Mbuju mengatakan, saat ini hampir seminggu dirinya terus turun ke laut untuk berburu ifu.
"Setiap hari saya bersama anak dan istri turun melaut, untuk mencari ifu," katanya kepada ANTARA, Kamis.

Dikatakannya, ikan ini menjadi berkah sendiri untuk masyarakat pesisir, nelayan dan masyarakat umum.
"Buat kami saat musim paceklik seperti ini, ikan ini menjadi rezeki yang tiada tara. Sebelumnya, kami nganggur, mau turun di laut hujan badai angin, mau cari makan di darat tidak ada yang bisa dilakukan," akunnya.
Baca juga: Pj Gubernur NTB ajak warga atasi "destructive fishing" di Bima
Dalam sehari, lanjut Ahmad, dirinya bersama keluarganya bisa mendapatkan dua sampai tiga baskom besar hingga karungan.
"Dari hasil itu kami sekeluarga bisa menghasilkan Rp.700.000-Rp.1.500.000. Alhamdulillah, dapur kami bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari," jelasnya.
Hal senada pun disampaikan, Abdurahman warga Desa Sandue. "Musim ifu merupakan musim rezeki bagi kami nelayan dan masyarakat umum, dalam sehari saya bisa menghasilkan keuntungan hingga Rp.500.000-Rp.800.000 karena ikan ini laris manis pada musimnya," katanya.
Menurutnya, permintaan pasar untuk ikan ini sangat besar, sehingga yang datang membeli datang dari berbagai daerah, seperti Kilo, Manggelewa, Kempo, Dompu, Soromandi bahkan Donggo.
"Banyak pembeli dari luar wilayah kami datang mencari ikan ifu. Mereka datang menggunakan mobil dan ada juga yang memesan untuk dikirimkan lewat bus," bebernya.
Baca juga: Bupati Dinda minta pengusaha tambak di Bima lengkapi izin usaha
Sementara itu, Nurahmi pembeli asal Dompu menuturkan, dirinya hampir setiap hari datang ke lokasi untuk membeli ikan ini.
"Permintaannya sangat banyak di pasar, karena ikan kecil ini menjadi menu favorit dan buah bibir masyarakat. Saya disini sudah empat hari bolak-balik Dompu dan Matompo juga Jala (Tempat ikan ifu keluar)," tandasnya.
"Saya sendiri di rumah bisa memasak ikan ifu menjadi berbagai menu, seperti perkedel, di goreng, tumis dan pepes bakar. Makanan jenis ini tidak setiap hari dapat kita nikmati," sambungnya.
Untuk diketahui, ikan ini adalah ikan kecil yang hidup bergerombol dalam satu kelompok besar dan memiliki musimnya sendiri, biasanya dalam sebulan hanya ada satu kali musim saat ikan ini bisa dijaring oleh nelayan.
Jika musimnya, ifu atau nike biasanya akan mengikuti arus sungai. Sehingga, warga-warga setempat berlomba menangkapnya
Baca juga: Ditpolairud limpahkan kasus pengeboman ikan di Bima ke pengadilan
Mamalia laut ini, merupakan jenis ikan yang berukuran kecil antara 2-4 senti meter dan memiliki keunikan tersendiri. Siklus kemunculannya dalam jumlah besar pada satu lokasi tertentu, membuat segerombolan ikan ini sangat misterius.
Ikan itu diolah dari keadaan segar, menjadi makanan seperti perkedel, tumis dan pepes. Semuanya olahan itu tidak dapat disimpan lama.
Saat menangkap ikan ini, nelayan dan masyarakat melakukannya berkelompok. Dengan menggunakan perahu dan jaring tradisional, ada juga yang menangkap dengan menggunakan kelambu, ember dan berbagai wadah seadanya.