Pengenalan ragam rasa penting untuk pola makan anak

id Pengenalan ragam rasa anak,pentingnya MPASI,PDPOTJI

Pengenalan ragam rasa penting untuk pola makan anak

Dokter herbal dan anggota Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Nadia Bunga Anggraini (kiri) dalam acara konferensi pers “Etawalin bersama Maia Estianty Ajak masyarakat Indonesia untuk #LebihKuatKejarSehat" di Hotel Gran Mahakam, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)

Jakarta (ANTARA) -

Dokter herbal dan anggota Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr. Nadia Bunga Anggraini mengatakan pengenalan pola makan sehat sejak usia dini berperan penting dalam membentuk kebiasaan konsumsi anak hingga dewasa.

Menurut Nadia, kebiasaan makan anak sebaiknya dibangun sejak masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pada fase tersebut, anak perlu dikenalkan berbagai rasa, tidak hanya manis dan asin, agar lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.

“Kalau sejak MPASI anak hanya dikenalkan makanan instan dan rasa manis, nanti saat remaja dia tidak mengenal rasa jamu atau herbal. Akhirnya pilihannya hanya makanan cepat saji,” kata dr. Nadia dalam acara konferensi pers “Etawalin bersama Maia Estianty Ajak masyarakat Indonesia untuk #LebihKuatKejarSehat" di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan pengenalan beragam rasa termasuk rasa pahit dan rempah dapat membantu anak menerima pangan fungsional sebagai bagian dari konsumsi sehari-hari. Kebiasaan tersebut dinilai berdampak jangka panjang terhadap kesehatan tubuh.

Nadia menyoroti pola makan modern yang semakin praktis namun kurang beragam. Kemudahan akses makanan cepat saji, menurutnya, berisiko membentuk kebiasaan makan yang tidak seimbang sejak usia anak.

“Kalau sejak kecil terbiasa dengan makanan instan, dampaknya akan terlihat di usia remaja dan dewasa,” ujarnya.

Baca juga: Cincin akik hijau dihadirkan jaksa di sidang pembunuhan Brigadir Nurhadi

Selain pola makan, Nadia juga mengingatkan pentingnya aktivitas fisik pada anak dan remaja. Minimnya gerak akibat penggunaan gawai dan kebiasaan duduk lama berpotensi memicu obesitas yang berdampak pada kesehatan tulang dan sendi.

“Kurang gerak dan kelebihan berat badan akan membebani sendi. Ini sering baru disadari ketika sudah dewasa,” katanya.

Baca juga: Mulai 2026, Insentif Rp30 juta dokter spesialis 3T dibayar pusat

Nadia menekankan bahwa pembiasaan pola makan sehat dan aktivitas fisik perlu dilakukan secara konsisten sebagai bagian dari gaya hidup keluarga.

Menurutnya, pencegahan sejak dini lebih efektif dibandingkan penanganan saat masalah kesehatan sudah muncul.


Pewarta :
Editor: I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.