NTB pasang 80 rambu untuk jalur evakuasi tsunami

id BNPB,BPBD NTB,Rambu jalur evakuasi,Tsunami

Peta evakuasi tsunami di Kelurahan Ampenan Selatan, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. (ANTARA/Nur Imansyah).

Mataram (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Barat telah memasang sekitar 80 titik rambu-rambu jalur evakuasi jika terjadi tsunami.

Kepala BPBD NTB H Ahsanul Khalik di Mataram, Jumat mengatakan rambu itu dipasang di sepanjang pesisir pantai di wilayah Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, kawasan Tiga Gili (Gili Trawangan, Meno dan Gili Air) di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Lombok Tengah, Lombok Barat, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB), Dompu, Kabupaten Bima, dan di Labuhan Haji Kabupaten Lombok Timur, berupa rambu penunjuk arah atau titik kumpul.

"Ada sekitar kurang lebih 80 titik yang sudah dipasang empat tahun lalu dan tersebar di sepanjang pantai dari Ampenan, Tiga Gili hingga Labuhan Haji," ujarnya.

Ia menjelaskan, kegunaan rambu jalur evakuasi ini bersifat memudahkan masyarakat untuk mengungsi atau menentukan di mana titik kumpul manakala terjadi bencana atau hal hal yang tidak diinginkan.

"Nantinya, ketika akan tsunami masyarakat sudah diarahkan ke tempat lebih tinggi sebagai bagian dari upaya penyelamatan sementara," ujar Ahsanul Khalik.

Khusus di KLU, yakni di kawasan Tiga Gili, titik kumpulnya ada di Pelabuhan Bangsal di Pemenang. Sementara di wilayah lainnya difokuskan pada daerah ketinggian yang sudah ada rambu terpasangnya.

Selain pemasangan rambu jalur evakuasi, kata Ahsanul Khalik, pemerintah hingga saat ini juga sudah membentuk 36 desa tangguh bencana di NTB. Rinciannya, ada dua kelurahan di pesisir Kota Mataram yang tangguh terhadap bencana, yakni Jempongbaru di Kecamatan Sekarbela dan Kelurahan Ampenan Selatan di Kecamatan Ampenan.

Sementara di pesisir KLU terdapat di Desa Pemenang Barat, Gili Indah, Desa Pemenang dan Desa Bentek di Kecamatan Gangga. Selanjutnya, di Kabupaten Lombok Barat desa pesisir yang tangguh bencana terdapat di Desa Senteluk, Kecamatan Batulayar, Desa Lembar Selatan, Labuan Terang, Desa Guntur Macan, Kecamatan Gunungsari, Desa Lembuak dan Badrain di Kecamatan Narmada.

Untuk di Lombok Timur, Desa Lenting di Kecamatan Sakra Timur, Desa Timbanuh di Kecamatan Pringgasela, Kelurahan Selong dan Desa Mekar Sari di Kecamatan Suela. Sementara di Kabupaten Lombok Tengah desa pesisirnya terdapat di Desa Mertak, Kecamatan Pujut dan tiga desa lainnya.

"Khusus di Pulau Sumbawa, terdapat tiga desa di KSB, tiga desa di Kabupaten Bima, tiga kelurahan di Kota Bima, tiga kelurahan di Kabupaten Dompu dan satu desa di Kabupaten Sumbawa, yakni Desa Pelat di Kecamatan Unter Iwes," kata Ahsanul.

Menurut mantan Kepala Dinas Sosial NTB ini, seluruh desa dan kelurahan yang tangguh bencana itu sudah diberikan sosialisasi dan pemahaman tentang bencana sejak tahun 2011 hingga tahun 2018. Bahkan, mereka juga dilatih dengan berbagai kegiatan untuk penanganan bencana.

"NTB harus secara komprehensif mempraktekkan manajemen resiko bencana, mulai dari pencegahan bencana dan juga mitigasi bencana karena dari 14 jenis bencana yang ada, di NTB ada potensi 11 jenis bencana yang bisa saja terjadi," ucapnya.

BPBD bekerjasama dengan BMKG juga telah memasang sirene jika nanti terjadi tsunami. Sirene ini dipasang di beberapa titik yang dikendalikan dari kantor BPBD. Dalam waktu dekat BMKG juga akan menyerahkan alat EWS (Early Warning System) yang sudah dipasang dibeberapa lokasi yang menjadi bagian dari peringatan bagi masyarakat sehingga ada pencegahan terhadap jatuhnya korban yang lebih banyak.

"Terkait mitigasi bencana ke depan harusnya semua perencanaan pembangunan di NTB harus mempergunakan pendekatan perencanaan berbasis kebencanaan, mulai dari struktur dan pemetaan bangunan yang ramah bencana, pemetaan sturuktur tanah dan hal-hal lain yang terkait langsung dengan kesiap siagaan dan kewaspadaan terhdap setiap kemungkinan bencana yang bisa terjadi kapan saja," katanya.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar