BTNGR memastikan jalur pendakian Gunung Rinjani aman sebelum dibuka

id Gunung Rinjani,Jalur Pendakian,BTNGR,kebakaran hutan,kebakaran hutan dan lahan,asap karhutla,karhutla

BTNGR memastikan jalur pendakian Gunung Rinjani aman sebelum dibuka

Panorama Gunung Rinjani ketika dipotret dari Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, NTB. (ANTARA/Awaludin)

Mataram (ANTARA) - Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) bersama TNI-Polri dan pelaku wisata akan naik Gunung Rinjani untuk memastikan jalur pendakian aman bagi pengunjung dan tidak ada lagi titik api tanda kebakaran di kawasan konservasi tersebut.

"Besok (1/11), tim BTNGR akan mengecek langsung kondisi jalur pendakian bersama mitra dari unsur TNI-Polri dan pelaku wisata," kata Kepala BTNGR Dedy Asriady di Mataram, Kamis.

Ia menjelaskan pengecekan tersebut penting dilakukan sebagai upaya menjaga keselamatan pengunjung setelah kebakaran di kawasan hutan Taman Nasional Gunung Rinjani selama beberapa hari, sejak Sabtu (19/10).

Akibat kebakaran tersebut, seluruh jalur pendakian Gunung Rinjani ditutup sejak 20 Oktober 2019 hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Kebijakan tersebut diambil BTNGR demi menjaga keselamatan para pengunjung.

"Api sudah padam karena sudah turun hujan. Tapi sisa-sisa kebakaran kami mau sisir apakah masih ada di jalur pendakian, apakah sisa kebakaran berupa pohon ada kemungkinan tumbang jika terjadi angin kencang. Jangan sampai tumbang dan mengganggu keselamatan pengunjung," ujarnya.

Dedy menyebutkan ada tiga tim yang akan melakukan survei jalur pendakian selama beberapa hari, dimulai dari persiapan pada Jumat (1/11) dan rencananya berakhir pada Senin (4/11).

Tiga tim tersebut, yakni Tim Senaru yang akan melakukan survei melalui pintu masuk jalur pendakian Senaru di Kabupaten Lombok Utara dengan jumlah anggota gabungan 15 orang.

Selain itu, Tim Sembalun yang juga akan melibatkan 15 anggota gabungan akan naik gunung melalui pintu masuk jalur pendakian Sembalun. Begitu juga di jalur pendakian Timbanuh, Kabupaten Lombok Timur.

"Tim Sembalun saya sendiri yang akan memimpin. Kalau Tim Senaru akan dipimpin oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I BTNGR," ujarnya.

Untuk jalur pendakian Aik Berik di Kabupaten Lombok Tengah, kata Dedy, tidak disurvei sebab daerah tersebut aman dari kebakaran, meskipun sempat ada kekhawatiran terjadi loncatan api akibat angin kencang saat terjadinya kebakaran hutan Gunung Rinjani.

"Kami tutup jalur pendakian Aik Berik seperti tiga jalur pendakian lainnya karena kekhawatiran bahwa api loncat gara-gara angin. Jadi lebih bagus menjaga keselamatan pengunjung karena di atas gunung anginnya kencang," ucapnya.

Ia mengatakan hasil survei yang dilakukan oleh tiga tim gabungan akan dibahas di kantor BTNGR di Mataram. Dalam pertemuan tersebut  akan diputuskan secara bersama-sama, apakah jalur pendakian bisa dibuka atau tetap ditutup karena pertimbangan keselamatan pengunjung.

Jika memungkinkan, kata dia, jalur pendakian akan dibuka pada Selasa (5/11), namun tetap terbatas hanya sampai di Pelawangan dan tidak boleh sampai ke Danau Segara Anak. Bisa juga sampai ke puncak gunung, tetapi tidak boleh ke danau.

"Niat kami mau survei langsung sampai Danau Segara Anak karena dari informasi yang diperoleh ada yang menyebut pendakian bisa sampai daerah itu, tapi ada juga yang bilang tidak bisa. Makanya kami akan survei dan nanti diputuskan secara bersama-sama," kata Dedy.
 
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar