POLRI-TNI BAKTI SOSIAL DI DAERAH KONFLIK

id


          Mataram, 17/6 (ANTARA) - Personel Polri dan TNI di wilayah Nusa Tenggara Barat akan melaksanakan bakti sosial di daerah konflik atau kawasan yang sering dilanda pertikaian antarkampung seperti di Desa Ketara, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, 18-19 Juni 2010.

         "Bakti sosial di daerah konflik itu akan berlangsung selama dua hari  dan akan melibatkan sekitar 150 orang peserta," kata Kepala Sub Bidang Publikasi Bidang Humas Polda NTB AKP Lalu Wirajaya, di Mataram, Kamis.

         Ia mengatakan Kapolda NTB Brigjen Polisi Arif Wachyunadi dan Komandan Korem 162/Wira Bhakti Kolonel Inf Win Kadir dijadwalkan ikut dalam kegiatan bakti sosial yang menurut rencana akan dipimpin Gubernur NTB KH M Zainul Majdi.

         "Peserta bakti sosial selain prajurit Polri dan TNI juga aparat pemerintah dawerah," katanya.

         Menurut dia kegiatan bakti sosial itu meliputi perbaikan sanitasi lingkungan, pembangunan MCK (mandi cuci kakus) dan pengobatan massal yang melibatkan ahli dan paramedis Kedokteran Kesehatan (Dokkes) Polda NTB.

         Ia mengatakan kegiatan lainnya berupa pembangunan 17 unit rumah untuk korban konflik antarkampung yang terjadi beberapa waktu lalu.

         "Jika situasi memungkinkan, Gubernur NTB beserta unsur muspida NTB akan melaksanakan shalat Jumat bersama masyarakat di daerah konflik Desa Ketara itu," ujarnya.

         Desa Ketara yang menjadi lokasi bakti sosial  personel Polri dan TNI itu merupakan salah satu wilayah konflik antarkampung yang sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini, dan setiap kali konflik selalu menelan korban.

         Konflik terakhir terjadi 27-28 Februari 2010 sebagai lanjutan dari konflik sebelumnya pada 26 September 2009, yakni  aksi penyerangan kelompok warga Dusun Bagik Dewa terhadap warga Dusun Dayen Rurung, Desa Ketara, Kecamatan Pujut, hingga enam orang meninggal dan belasan orang lainnya luka-luka.

         Bentrokan berdarah antara warga Dusun Bagik Dewa dan Dusun Dayen Rurung, Desa Ketara itu, merupakan persoalan lama, bahkan  dalam penyelesaiannya sudah ada kesepakatan  berdamai antarwarga kedua dusun yang berseteru.      
    Kasus sebelumnya 23 Mei 2009 yang menelan korban luka-luka karena kelompok masyarakat dari bagian utara dan selatan Desa Ketara yakni Dusun Lebak dan Dusun Rurung Daya saling menyerang dengan senjata tajam.

         Warga dua dusun bertetangga yang berseteru itu membawa senjata tajam seperti tombak, pedang dan panah. Perempuan dan anak-anak juga ikut dalam kerumunan massa.

         Polisi yang sempat berada di tengah massa saat itu terpaksa menyingkir, dan dalam insiden perang antarkampung itu belasan warga terluka, beberapa di antaranya terpaksa dilarikan ke Puskemas terdekat.(*)