Menatap Asia Tenggara dari kacamata olahraga disabilitas

id NPC Indonesia,ASEAN Para Games,ASEAN

Menatap Asia Tenggara dari kacamata olahraga disabilitas

Relawan berjalan menuju Stadion Manahan jelang pembukaan ASEAN Para Games 2022 di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (30/7/2022). . ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/tom.

Jakarta (ANTARA) - Indonesia dianggap sebagai perintis dalam memperjuangkan persamaan hak, antara olahragawan penyandang disabilitas dan nondisabilitas. Apresiasi tersebut datang dari National Paralympic Committee (NPC) negara-negara sahabat saat Indonesia menjadi tuan rumah ajang olahraga untuk olahragawan disabilitas di negara-negara Asia Tenggara, ASEAN Para Games 2022 di Solo.

Keberhasilan penyelenggaraan yang diikuti dengan sukses prestasi ketika Indonesia berhasil menjadi juara umum ajang tersebut jelas membuat banyak NPC negara lain penasaran akan sistem yang dibangun.

Wakil Sekretaris Jenderal NPC Indonesia Rima Ferdianto mengatakan di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo telah terlihat upaya pemerintah untuk memberikan hak setara antara olahragawan disabilitas dan non disabilitas.

Hal itu terbukti dengan adanya Undang-Undang disabilitas Nomor 8 tahun 2016 yang di dalamnya tercantum hak keolahragaan bagi olahragawan disabilitas, baik dalam segi pembinaan, segi penghargaan, dan segi perlakuan.

Pemerintah kemudian menerbitkan Undang-Undang No.11 tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang pada Bagian Ketujuh mengatur tentang pembinaan dan pengembangan olahraga penyandang disabilitas.

Dalam implementasinya, Rima mengatakan tantangan dihadapi NPC daerah. Dia melihat kesenjangan masih terjadi di level kabupaten, kota, provinsi. Pada penyelenggaraan ajang multievent nasional Pekan Paralimpiade Nasional atau Pekan Paralimpik Indonesia (Perparnas) misalnya, menurut Rima "masih banyak yang di anak tirikan sama pemerintah daerah" ketika NPC ingin mengirimkan atletnya.

Padahal, NPC kota/kabupaten merupakan akar rumput atau grass root untuk menemukan calon-calon olahragawan disabilitas guna dibina, yang kemudian disaring di level provinsi untuk selanjutnya masuk ke level pusat. "Kalau di level provinsi masih banyak PR, tapi kalau di level nasional sudah luar biasa sekali Kemenpora memperhatikan olahragawan disabilitas," ujar Rima.

Dukungan tidak hanya terlihat dari segi pembinaan, pemerintah juga mendukung lewat penyelenggaraan kejuaraan-kejuaraan internasional di Indonesia. Asian Para Games 2018 di Jakarta-Palembang maupun ASEAN Para Games 2022 di Solo membuka awareness atau kepedulian masyarakat terutama, penyandang disabilitas terhadap olahraga disabilitas, yang semakin pesat saat ini.

Bahkan, menurut Rima, ketika Staf Khusus Presiden Angki Yudistia melakukan kunjungan lembaga pendidikan khusus siswa berkebutuhan khusus, banyak yang bercita-cita ingin menjadi atlet. Hal itu berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu ketika pelajar disabilitas lebih memilih menjadi programmer atau guru untuk cita-cita masa depan mereka.

Pandangan positif masyarakat saat ini terhadap profesi olahragawan disabilitas, tak lepas dari pengakuan pemerintah terhadap olahragawan disabilitas yang sudah mengharumkan nama bangsa. "Ini benar-benar sudah dirasakan hingga daerah-daerah sehingga banyak anak bercita-cita jadi atlet," kata Rima.


Menatap dunia

Penyelenggaraan ajang olahraga multievent tingkat Asia Tenggara ASEAN Para Games menjadi perebutan takhta tertinggi bagi negara-negara ASEAN.

Pada ASEAN Para Games XI 2022, yang tertunda setahun karena COVID-19, Indonesia menjadi tuan rumah menggantikan Vietnam yang tidak siap dalam penyelenggaraan. Kontingen Merah Putih berhasil menjadi juara umum dalam APG yang digelar di Solo itu. Memanfaatkan kekurangan Malaysia yang datang dengan seperempat kekuatan normalnya karena harus mengikuti Commonwealth Games 2022 di Inggris ketika itu, Indonesia berhasil mengambil alih nomor-nomor andalan yang ditinggalkan kontingen Negeri Jiran.

Pada edisi Kamboja yang akan digelar Juni nanti, Indonesia harus mengantisipasi Malaysia, Thailand, Filipina yang hadir full team. Rima mengatakan "secara hitung-hitungan" Indonesia masih berpeluang mempertahankan predikat sebagai juara umum meski perolehan medali akan sangat "mepet" dan berkejar-kejaran dengan Thailand.

Dalam ASEAN Para Games 2023, kontingen Merah Putih akan mengikuti 12 cabang olahraga dari total 14 cabang olahraga yang dipertandingkan/dilombakan. Indonesia absen pada cabang olahraga blind football atau sepak bola tunanetra karena belum maksimal dalam pembinaan cabang olahraga tersebut.

Indonesia juga tidak mengikuti esport yang akan menjadi olahraga ekshibisi dalam ajang tersebut karena pembinaan belum dilakukan untuk cabang olahraga yang terbilang baru tersebut. Saat ini lebih dari 300 atlet pelatnas NPC Indonesia bersiap untuk menghadapi tiga ajang utama pada 2023. Selain ASEAN Para Games Kamboja pada Juni, ada pula Asian Para Games Hangzhou pada Oktober mendatang dan Road to Paralympic Paris 2024.

Sekitar 270 atlet akan diberangkatkan ke Kamboja untuk mengikuti ASEAN Para Games. Dari situ sekitar 100 atlet diharapkan dapat berangkat ke Hangzhou untuk Asian Para Games, dan diharapkan sekitar 30 atlet dapat lolos menuju Paralimpiade Paris 2024.

Demi mengejar mimpi mengikuti kasta tertinggi ajang olahraga multievent dunia Paralimpaide, para olahragawan disabilitas di setiap cabang olahraga telah mengikuti berbagai ajang internasional untuk mengumpulkan poin. Perburuan poin untuk mengantongi tiket ke Paris 2024 sejatinya dimulai sejak 1 Januari 2023, dan akan berakhir pada Juni 2024 pada fase akhir kualifikasi. Jika pada Paralimpiade Tokyo 2020, Indonesia berhasil lolos tujuh cabang olahraga, NPC berharap pada Paralimpiade Paris 2024 Indonesia dapat mengikuti sembilan cabang olahraga.

Baca juga: Para pemain timnas U-22 tidak dapat libur Idul Fitri
Baca juga: Menyapu bersih medali emas para-renang ASEAN Para Games


Indonesia berhasil membawa pulang sembilan medali, yang terdiri dari dua emas, tiga perak, dan empat perunggu pada Paralimpiade Tokyo 2020. Dengan tambahan cabang olahraga untuk berpartisipasi, kesempatan untuk mendulang lebih banyak medali makin terbuka lebar.

Tak hanya bicara soal prestasi, lebih dari itu. Pencapaian pada ajang tertinggi di dunia itu membawa pesan nilai universal yang harus disebarkan bahwa setiap orang memiliki nilai-nilai hidup atau kemanusiaan yang sama, memiliki derajat dan posisi yang sama, serta kesempatan yang sama pula untuk meraih mimpi.