Pakar sebut politik identitas sebabkan demokrasi alami kemunduran

id Orasi ilmiah, prof Asrinaldi, universitas Andalas

Pakar sebut politik identitas sebabkan demokrasi alami kemunduran

Pakar politik dari Universitas Andalas (Unand) Prof Asrinaldi menyampaikan orasi ilmiah di Universitas Andalas, Senin, (15/5/2023). ANTARA/Muhammad Zulfikar.

Padang (ANTARA) - Pakar politik dari Universitas Andalas (Unand) Prof Asrinaldi mengatakan politik identitas menjadi salah satu variabel yang menyebabkan demokrasi di Tanah Air defisit atau mengalami kemunduran.

"Dalam satu dekade terakhir demokrasi kita diwarnai dengan isu-isu identitas yang ikut menjadi perbincangan publik sehingga mempengaruhi pembuatan keputusan pemerintah," kata pakar politik dari Unand Prof Asrinaldi di Padang, Senin.

Hal tersebut disampaikannya berkaitan dengan orasi ilmiah Prof Asrinaldi yang berjudul "eksistensi partai politik dalam keberagaman identitas bangsa serta dampaknya pada penguatan demokrasi Pancasila di Indonesia ".

Prof Asrinaldi mengatakan munculnya isu-isu identitas membawa paradoks bagi perkembangan demokrasi di Tanah Air. Sementara, di satu sisi, Indonesia dibangun dari keberagaman yang mendapat tempat dalam konstitusi yaitu UUD 1945.

Di sisi lain, demokrasi yang mengakui keberagaman tersebut menjadi salah satu faktor konflik yang ada dalam masyarakat plural. Apalagi, dalam realitas sehari-hari, tidak sedikit entitas politik menjadikan isu keberagaman untuk kepentingan tertentu.

"Mereka menegaskan perbedaan yang ada dalam masyarakat sebagai isu politik yang dianggap bermasalah. Kondisi ini tentu harus disikapi dengan hati-hati oleh masyarakat," ujar dia mengingatkan.

Penulis buku berjudul "kekuatan-kekuatan politik di Indonesia" tersebut mengatakan sepanjang yang diperjuangkan entitas politik tidak mengabaikan kepentingan negara yang lebih besar, yaitu penguatan persatuan dan kesatuan bangsa, maka keberagaman Indonesia bukanlah masalah yang perlu dipertikaikan. "Namun, problemnya akan menjadi serius ketika identitas ini mulai dipolitisasi dengan membenturkan perbedaan-perbedaan yang ada untuk tujuan kekuasaan politik," ujarnya.

Baca juga: Pakar politik sebut Prabowo-Puan jadi pasangan capres realistis PDIP
Baca juga: Istana tak perlu tanggapi sentilan Anies terkait konstitusi


Sementara itu, Rektor Unand Prof Yuliandri mengatakan melihat materi orasi ilmiah Prof Asrinaldi tampak suasana politik semakin dinamis menghadapi Pemilu 2024 sebab berdampak pada pasang surut praktik demokrasi di Indonesia. "Bahkan, sebagian ilmuwan menganggap kondisi demokrasi ini semakin mengkhawatirkan karena terjadinya kemunduran yang signifikan," ujar dia.

Ia mengatakan pada dasarnya banyak variabel yang menyebabkan terjadinya kemunduran demokrasi. Variabel identitas politik, ujar dia, menjadi variabel yang perlu disorot karena ikut mempengaruhi kehidupan politik masyarakat sehingga apabila dipolitisasi akan menjadi kekuatan politik yang sangat menentukan dalam pemilu.