Film dokumenter tiga patung implementasi Pancasila

id tiga patung

Ist

Tiga Patung itu adalah monumen Selamat Datang, Dirgantara di perempatan Pancoran, dan Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.
     Mataram (Antaranews NTB) - Film dokumenter berjudul Tiga Patung karya sutradara Erlan Basri yang menceritakan keinginan Bung Karno membuat tiga patung besar karya Edhi Sunarso, meurpakan bentuk implementasi dari Pancasila.
    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Hariyono, Selasa, mengapresiasi atas film dokumenter berjudul Tiga Patung karya sutradara Erlan Basri tersebut, karya ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari Pancasila.
     "Film yang bagus dan inspiratif. Melalui film semi dokumenter tersebut kita bisa belajar sejarah serta terinspirasi untuk berkarya lebih baik,” kata Prof Hariyono.
    Film dokumenter itu menceritakan tentang keinginan Bung Karno sebuah sejarah dibalik proses pembuatan Tiga Patung besar karya Edhi Sunarso, ketika menyambut Asian Games ke IV tahun 1962. Tiga Patung itu adalah monumen Selamat Datang, Dirgantara di perempatan Pancoran, dan Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng.
     "Patung sebagai karya seni tiga dimensi mampu menjelaskan sosok Presiden Soekarno yang memiliki rasa seni serta ide brilian dalam mendorong seniman untuk menggali potensi yang dimiliki secara maksimal tanpa terhalang oleh keterbatasan fasilitas termasuk kondisi finansial," katanya,
      Menurut dia, konsekuensinya seniman sekelas almarhum Edhi Susanto yang sebelumnya tidak berpikir besar dipaksa untuk berani kembangkan potensi kreatif melebihi daya tanggung seniman pada umumnya.
     "Tiga Patung yang diangkat mampu menggambarkan situasi zaman serta harapan masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik. Kepercayaan dan kebanggaan  diri sebagai bangsa besar dapat tumbuh setelah melihat film ini," ungkapnya.
      Untuk itulah kata Prof Hariyono bahwa film tiga patung layak menjadi salah satu bahan ajar sejarah, Pancasila maupun humaniora. Melalui film semi dokumenter ini penonton, khususnya siswa dan mahasiswa dapat menstimulasi berpikir besar dan berusaha menghasilkan karya besar.
      "Semoga para pendidik dapat memanfaatkan film ini sehingga pembelajaran lebih kontekstual dan bermakna," katanya.
      Dengan film ini, kata Prof Hariyono bisa menjadi media cukup efektif untuk menularkan "virus-virus" Pancasila agar ideologi negara ini tidak hanya ditafsirkan sebagai sebuah "meja statis". Arti dari meja statis dalam pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, adalah Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa.
      "Sehingga selama ini di frame pemikiran kita kalau bicara Pancasila ya tolerasi, kerukunan umat beragama, dan seterusnya. Itu enggak salah, penting," katanya.
     Sementara, Arsitek dan sejarawan, Dr. Yuke Ardhiati menambahkan bahwa sejak tahun 1957, Bung Karno terus mengemukakan gagasan membangun Jakarta Cityplan yang terintegrasi dengan wajah yang baru untuk menghapus wajah kolonialisme pada kota Jakarta menjadi wajah Indonesia.
      "Tiga Patung karya Edhi Sunarso sebagai penanda untuk mengisi tata kota Jakarta. Bung Karno memilih Edhi Sunarso karena karya-karyanya sangat ekspresif, dapat menggambarkan tentang sosok yang penuh semangat mewakili ekspresi bangsa Indonesia, sesuai dengan keinginan Bung Karno yang selalu memotivasi semangat nasionalisme pada segenap anak bangsa," ucap Yuke saat diskusi disela peluncuran Film documenter tersebut.
      Sedangkan sutradara film Tiga Patung, Erlan Basri mengatakan film ini ingin memberi pesan sejarah dan filosofi melalui media audio visual setelah menemukan buku "Kisah 3 Patung" yang ditulis Hilmar Farid.
      "Ini ternyata punya cerita masa lalu. Patung yang selama ini kita temui sehari-hari, kita lewati, tapi ketika baca buku itu tertarik saya. Ternyata sejarahnya lebih dahsyat lagi dari apa yang kita lihat secara visual," kata Erlan.
Pewarta :
Editor: Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar