Kelapa tak lagi menjadi komoditas unggulan

id komoditas kelapa ntb

Pohon kelapa hanya sebagai hiasan taman hotel di kawasan wisata, karena sengaja dibiarkan tidak berbuah.

....Namun, kini nasib petani kelapa agaknya tak seindah syair yang menjadi salah satu lagu wajib nasional itu. Produksi komoditas perkebunan itu kian merosot seiring makin menuanya tanaman kelapa dan tidak stabilnya harga kelapa....
Mataram (Antaranews NTB) - "Tanah airku aman dan makmur, Pulau kelapa yang amat subur," demikian sepenggal syair lagu berjudul Rayuan Pulau Kelapa, salah satu karya monumental komponis besar Ismalil Marzuki.

Namun, kini nasib petani kelapa agaknya tak seindah syair yang menjadi salah satu lagu wajib nasional itu. Produksi komoditas perkebunan itu kian merosot seiring makin menuanya tanaman kelapa dan tidak stabilnya harga kelapa.

Kian meningkatnya penebangan pohon kelapa baik yang tua maupun muda untuk menggantikan kayu bahan bangunan juga menjadi faktor penyebab menurunnya produksi kelapa.

Selain itu, penggunaan janur (pucuk daun kelapa) secara berlebihan untuk upacara keagamaan di sejumlah daerah juga menjadi faktor penyebab menurunnya produktivitas tanaman kelapa.

Pemanfaatan lahan perkebunan kelapa untuk lokasi pembangunan hotel dan restoran, khususnya di pesisir pantai yang menjadi kawsan wisata, juga menyebabkan produksi buah kelapa kian menurun.

Mahmud (56), salah seorang petani kelapa di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, menuturkan produksi buah kelapa terus menurun.

Menurut dia, beberapa tahun lalu dari kebun kelapa seluas satu hektare lebih menghasilkan 3.000 hingga 3.500 butir sekali panen, kini paling banyak 2.000 butir, bahkan hanya 1.500 butir.

Di sisi lain harga komoditas perkebunan tersebut juga tak pernah stabil. Ada kalanya harga buah kelapa butiran melonjak mencapai Rp4.500 hingga Rp5.000 per butir, namun terkadang anjlok hanya Rp500 per butir.

Ia mengatakan harga komoditas perkebunan itu sangat tergantung dari permintaan kelapa buah butiran di pasar antarpulau.

Kalau permintaan kelapa butiran di Bali dan Pulau Jawa meningkat, maka harganya naik, sebaliknya jika permintaan di pasar antarpulau sepi, maka harganya juga anjlok.

Petani kelapa lainnya, Anwar, juga mengeluhkan anjloknya produksi kelapa dan tidak stabilnya harga komoditas perkebunan tersebut.

Dia mengatakan menjelang panen, harga kelapa butiran mencapai Rp4.500 per butir, namun setelah panen harga kelapa butiran anjlok hanya Rp3.000 per butir.

Kendati demikian, tak ada pilihan lain bagi petani kelapa. Mereka terpaksa memanen buah kelapa, walaupun harganya murah, sebab jika tidak dipanen buah kelapa jatuh sendiri.

Beberapa tahun silam para petani kelapa, tak perlu khawatir harga kelapa butiran anjlok, karena mereka bisa mengolah hasil panen menjadi kopra yang saat itu harganya cukup menguntungkan.

Selain menjual kopra, para petani juga bisa menjual produk sampingan berupa tempurung untuk bahan pembuatan arang dan menjual sabut kelapa.

Beberapa tahun silam ada sejumlah pabrik pengolahan kopra menjadi minyak goreng, antara lain di Ampenan dan Cakranegara, Kota Mataram.

Pabrik kopra yang membeli kopra dari petani itu kini gulung tikar, karena tak mampu bersaing dengan produk minyak goreng dari kelapa sawit.

Sejatinya, kini komoditas kelapa di ambang "senjakala". Sebagian petani terpaksa menjual dan menebang pohon kelapa, kemudian menggantikan dengan tanaman lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

Ada juga petani yang tergiur menjual kebun kelapa kepada investor dengan harga tinggi, terutama yang berada di kawasan wisata untuk lokasi pembangunan hotel.

Setelah dibangun hotel, pohon kelapa tidak ditebang, namun diberikan perlakuan khusus agar tidak berbuah. Ini dilakukan agar para tamu yang menginap di hotel tidak dijatuhi buah kelapa.

Dalam kaitan itu, pemerintah nampaknya tak ingin jenis tanaman bernama latin "Cocos nucifera" yang telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia itu, areal maupun produksinya terus merosot.


Peremajaan tanaman
Kementerian Pertanian (Kementan) siap mengembalikan kejayaan kelapa nasional yang pada masa lalu pernah menjadi komoditas unggulan Indonesia, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Dirjen Perkebunan Kementan Bambang mengatakan saat ini kondisi kelapa di Indonesia belum optimal baik dari segi produksi maupun produktivitasnya.

Produktivitas rata-rata nasional hanya sekitar 1 ton per hektare dalam satu tahun. Pada 2016 produksi kelapa sekitar 2,89 juta ton dengan luas areal kelapa 3.566.103 hektare.

Angkat itu menurun dibandingkan pada 2015 di mana produksi kelapa mencapai 2,92 juta ton, sementara luas areal sekitar 3.585.599 hektare. Ada potensi untuk ditingkatkan produksinya dua sampai tiga kali lipat dari kondisi saat ini.

Untuk itu pemerintah akan melakukan tiga langkah percepatan dalam pengembangan kelapa, yakni intensifikasi, peremajaan, dan ekstensifikasi tanaman.

Bambang mengakui pengembangan kelapa nasional mengalami berbagai permasalahan, antara lain sekitar 98,97 persen adalah perkebunan rakyat, diusahakan secara monokultur, kepemilikan lahan terbatas dan pemanfaatan belum optimal dengan penerapan teknologi yang terbatas.

Kondisi ini mengakibatkan produktivitas rendah sekitar 1,1 ton per hektare. Terjadinya penurunan areal empat tahun terakhir seluas 49.012 hektare dan penurunan produksi sebesar 56.410 ton kopra tahun, sedangkan tingkat peremajaan dan perluasan dengan volume rata-rata 15.000 ha per tahun.

Selain itu, keterbatasan dan ketidaktersediannya benih unggul bersertifikat di wilayah pengembangan kelapa.

Untuk mengatasi permasalah benih, Kementan akan membangun kebun induk (KI) di daerah sentra kelapa sebagai sumber benih dari varietas unggul.

Sementara itu, untuk peningkatan produksi, Kementan akan mengembangkan tanaman kelapa di areal tanaman kakao seluas 1,7 juta hektare yang berfungsi sebagai penaung.

Menurut dia, bila 500.000 hektare saja tanaman kakao dibuatkan penaung (dengan memanfaatkan, red.) kelapa maka akan ada tambahan luas areal kelapa yang cukup signifikant tanpa perlu membuka lahan baru.

Bambang masih optimistis bahwa produksi kelapa nasional bisa ditingkatkan melalui program peremajaan, intensifikasi, dan ekstensifikasi tanaman kelapa.

Sejatinya tanaman kelapa merupakan tanaman yang telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, sehingga jenis tanaman itu disebut sebagai tanaman sosial.

Tanaman ini berfungsi multiguna baik ekonomi, sosial, keagamaan, kesehatan dan saat ini berkembang sebagai subtitusi bahan bakar (biofuel), maka kelapa juga dijuluki sebagai Pohon Kehidupan (The Tree of life).

Dalam perkembangannya, sejak era 1980-an peran kelapa sebagai sumber bahan baku minyak goreng makin tenggelam dan tergeser oleh komoditi kelapa sawit.

Sejatinya kini kelapa tak lagi menjadi komoditas unggulan. Oleh karena itu, program Kementan tersebut diharapkan mampu mengembalikan kejayaan kelapa di NTB yang selama ini dikenal menjadi salah satu sentra produksi kelapa.(*)
Pewarta :
Editor: Masnun
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar