Bulog NTB mulai pasarkan beras kemasan "sachet"

id Bulog NTB,Beras Sachet

Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Bulog Imam Subowo, didampingi Kadivre Bulog NTB Ramlan UE, menunjukkan beras kemasan "sachet" isi 200 gram. (Foto Antaranews NTB/Awaludin)

Upaya memproduksi beras kemasan kecil dengan merek "Beraskita" tersebut untuk memberikan pilihan bagi konsumen dari sisi harga dan volume beras
Mataram (Antaranews NTB) - Perum Badan Urusan Logistik Divisi Regional Nusa Tenggara Barat mulai memasarkan beras premium dalam kemasan "sachet" isi 200 gram kepada konsumen dengan harga Rp2.500.

"Bulog NTB sudah meluncurkan beras `sachet` ini. Kami berharap beras kemasan tersebut bisa ada di mana-mana dan mudah dijangkau oleh masyarakat NTB," kata Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Bulog Imam Subowo.

Ia menyebutkan produksi beras dalam kemasan tersebut dimulai pertama kali oleh Bulog Divisi Regional Jawa Barat yang merupakan sentra produksi padi terbesar di Indonesia.

Setelah itu, berlanjut ke NTB dan akan disusul oleh Bulog Divisi Regional Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ketiga provinsi tersebut merupakan lumbung beras nasional.

Menurut Imam, beras kemasan isi 200 gram yang diproduksi Bulog NTB nantinya bisa dipasarkan juga ke provinsi lain. Namun diutamakan terlebih dahulu di pasar lokal.

"Tapi target kami bukan memasarkan hingga ke luar, tapi lebih kepada ketersediaan untuk konsumen, sekaligus memastikan pasarnya seperti apa," ucap Imam.

Sementara itu, Kepala Divisi Regional Bulog NTB Ramlan Sue, mengaku sudah mendatangkan mesin produksi beras kemasan "sachet" dengan kapasitas dua ton per hari.

"Upaya memproduksi beras kemasan kecil dengan merek "Beraskita" tersebut untuk memberikan pilihan bagi konsumen dari sisi harga dan volume beras yang ingin dimasak," katanya.

Kepala Dinas Perdagangan NTB Hj, Selly Putu Andayani, mengapresiasi upaya Bulog memberikan pilihan produk beras kepada warga di daerahnya. Hal itu juga bisa mendukung upaya menjaga kestabilan harga komoditas pangan tersebut.

Namun, ia berharap agar ketersediaan produk tersebut tetap terjaga ketika permintaannya sudah bagus dari masyarakat.

"Kami juga akan ikut melakukan pengawasan. Jangan sampai produk tersebut sudah laris di pasaran terjadi kelangkaan, apalagi karena permainan para pedagang," ujar Selly. (*)
Pewarta :
Editor: Awaludin
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar