Nelayan Mataram diminta waspada saat melaut pada musim angin barat

id Dinas Perikanan,Kota Mataram,nelayan waspada

Nelayan Mataram diminta waspada saat melaut pada musim angin barat

Tanggul pesisir Pantai Ampenan, Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, mulai terkisi abrasi pantai. ANTARA/Nirkomala.

Mataram (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mengimbau nelayan agar meningkatkan kewaspadaan saat hendak melaut karena adanya potensi cuaca ekstrem berupa angin kencang yang bisa membahayakan keselamatan nelayan.

"Hujan yang melanda Mataram selama dua hari berurut-urut jadi tanda musim hujan sudah masuk, karena itu potensi cuaca ekstrem, yakni hujan disertai angin kencang harus diwaspadai," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Mataram Irwan Harimansyah di Mataram, Kamis.

Karena itu, lanjutnya, nelayan di Kecamatan Sekarbela dan Ampenan diimbau agar tidak memaksakan diri untuk melaut jika kondisi cuaca tidak memungkinkan guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Meskipun hasil laporan petugas di lapangan menyebutkan saat ini gelombang pantai terpantau masih normal, namun potensi angin barat harus tetap diwaspadai.

"Musim angin barat biasa terjadi setiap akhir tahun sampai awal tahun, dengan ketinggian gelombang di atas dua meter," katanya.

Baca juga: BMKG prakirakan potensi hujan turun di sejumlah daerah

Saat masuk musim angin barat, lanjutnya, mau tidak mau nelayan tidak boleh melaut sebab kondisi cuaca selama musim angin barat berupa angin kencang dan gelombang tinggi sudah tidak memungkinkan nelayan melaut, karena bisa mengancam keselamatan nelayan.

Cuaca ekstrem, katanya, juga berdampak langsung pada hasil tangkapan ikan nelayan yang menyebabkan potensi tangkapan ikan nelayan berkurang secara signifikan.

"Saat Musim Angin Barat, hasil tangkapan nelayan turun 20-15 persen dari hasil tangkapan normal," katanya.

Misalnya, jika rata-rata hasil tangkapan ikan jenis tongkol mencapai 20 ton per bulan, saat Musim Angin Barat bisa turun menjadi 15-17 ton per bulan.

"Kondisi itu tentu memicu harga ikan di pasaran," katanya.

Baca juga: Ada tiga faktor pemicu hujan awet di NTB

Terkait dengan itu, sebagai langkah antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, pihaknya terus mengimbau para nelayan melalui penyuluh lapangan agar selalu berkomunikasi dengan kelompoknya agar ketika ada nelayan belum pulang melaut, nelayan lainnya bisa tahu segera melapor dan melakukan pencarian.

Irwan juga meminta para nelayan agar saling berkoordinasi dan memantau informasi cuaca terkini sebelum memutuskan untuk melaut, untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut dan memastikan nelayan dapat kembali dengan selamat ke daratan.

"Kami berharap para nelayan dapat memprioritaskan keselamatan di atas segalanya," ujar Irwan Harimansyah.

Baca juga: Warga pesisir diminta waspada gelombang hingga enam meter di Selat Lombok
Baca juga: Peluang curah hujan di NTB masih terbatas pada September 2025

Pewarta :
Editor: Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.